Jumat, 26 Juli 2013

#PuisiuntukChairil

Untuk Sang Pujangga Chairil Anwar



Aku, Jalang !

Aku mengusik benak yang sudah tertanak
Menyibak sabak yang terlanjur berbalak
Menanti delegasi detik terlampau pelik
Juga bilik-bilik gunjing bersiul bisik

Berpendar menyerupai binal liar
Jangan samakan aku oleh lacur bermolek sangar
Aku tak sudi pudar
Apalagi menjadi samar

Wahai Pujangga...
Tak usah kalah karena tak berdaya
Penolakan karya berkedok digdaya
Dianggap sampah rongsokan tak bermakna

Oh...
Aku rela menjadi durjana
Menilapkan rayuan agar aku tak lagi berupaya
Menembus pikiran-pikiran picik
Yang hanya bisa memicing dengan licik

Wahai pujangga berjuluk “Binatang Jalang”
Tak pantas lagi kau ditahtakan pada kumpulan terbuang
Karena bisamu kini telah menerjang
Menguak pedih perih yang meradang
Berbenih syair yang sudah bebas melayang

Mampus dikoyak sepi yang berderu
Berderu campur debu
Puntung rokok tak lepas di gamitan jemarimu
Mengilhami syair-syair penuh hasrat kebebasan nan syarat ilmu

Wahai pujangga yang ingin “hidup seribu tahun lagi”
Kini kau berjaya walau sudah bernisan mati
Tak perlu lagi kau berlari
Cukup tersenyum saja bersama bidadari di surga mimpi
Kan ku rapalkan doa lewat bait-bait puisi
Karena aku juga sudah tak peduli
Oleh hujaman berjuta caci maki

Wahai Chairil,
Bukan bermaksud menjadi tengil
Aku tak rela beruban mustahil 

Biarkan aku menjadi jalang
Namun tidak untuk kumpulannya terbuang !
cc : @DuetPuisi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik