Untuk Sang Pujangga Chairil Anwar
Aku, Jalang !
Aku mengusik benak
yang sudah tertanak
Menyibak sabak yang
terlanjur berbalak
Menanti delegasi
detik terlampau pelik
Juga bilik-bilik
gunjing bersiul bisik
Berpendar menyerupai
binal liar
Jangan samakan aku
oleh lacur bermolek sangar
Aku tak sudi pudar
Apalagi menjadi samar
Wahai Pujangga...
Tak usah kalah karena
tak berdaya
Penolakan karya
berkedok digdaya
Dianggap sampah
rongsokan tak bermakna
Oh...
Aku rela menjadi
durjana
Menilapkan rayuan
agar aku tak lagi berupaya
Menembus pikiran-pikiran picik
Yang hanya bisa
memicing dengan licik
Wahai pujangga
berjuluk “Binatang Jalang”
Tak pantas lagi kau
ditahtakan pada kumpulan terbuang
Karena bisamu kini telah
menerjang
Menguak pedih perih
yang meradang
Berbenih syair yang
sudah bebas melayang
Mampus dikoyak sepi
yang berderu
Berderu campur debu
Puntung rokok tak
lepas di gamitan jemarimu
Mengilhami
syair-syair penuh hasrat kebebasan nan syarat ilmu
Wahai pujangga yang ingin
“hidup seribu tahun lagi”
Kini kau berjaya
walau sudah bernisan mati
Tak perlu lagi kau
berlari
Cukup tersenyum saja
bersama bidadari di surga mimpi
Kan ku rapalkan doa
lewat bait-bait puisi
Karena aku juga sudah
tak peduli
Oleh hujaman berjuta
caci maki
Wahai Chairil,
Bukan bermaksud menjadi
tengil
Aku tak rela beruban
mustahil
Biarkan aku menjadi
jalang
Namun tidak untuk
kumpulannya terbuang !
cc : @DuetPuisi
By : @kharismarena

Tidak ada komentar:
Posting Komentar