Apabila jarak tidak ada, bisakah kita sedekat ini?
Bila tiada satu sapa, mungkinkah ada pesan singkat
yang dikirimkan setiap hari?
Perkenalan selalu singkat, kesan mendalam yang sering
melekat. Hingga tak bisa memungkiri ketertarikan meski sebatas rasa penasaran. Bertanya-tanya
tentang apapapun mengenaimu, di kepalaku tanda tanya ingin dituntaskan melalui
narasi yang dibubuhi berkali-kali tanda koma. Namun, pertanyaan akan jadi
pisau, tajam ketika kita telah mengetahui jawaban-jawaban yang tak diinginkan.
Lalu menyangkal bahwa jawaban yang didapat itu bukan yang benar dan terus saja
berjalan dengan langkah gentar.
Waktu-waktu sangat luang, sebab beberapa hal yang
dipunyai harus digenggam kehilangan. Di sanalah, kau hadir sebagai yang mengisi
peluang bagi segala lengang di penjuru diriku. Bukan sekadar tentang kesepian,
lebih dari itu. Ada kosong yang entah mengapa bisa sangat penuh atas
keberadaanmu. Aku dilingkupi prasangka, diresahkan praduga, dan diriuhkan oleh
banyak terka. Apakah benar itu dirimu yang sesungguhnya?
Kita masih jauh dan saling mendekatkan diri tak
semudah itu. Aku masih ingin menjumpaimu dengan raga, saling bertatap muka. Bukan
hanya melalui ruang pesan yang cukup diwakili oleh kata-kata. Sebab aku yakin,
tentang kau dan aku tak pernah bisa sekadar diwakili oleh kalimat-kalimat yang
mencipta kedekatan semu.
Yang bukan kenyataan memang sebagian besar memesona, sedang
jujur saja aku tak ingin terjebak pada yang hanya maya. Aku tak akan
menyalahkanmu yang telah berhasil mengambil hatiku hanya dengan pesan-pesan singkat
waktu itu. Namun bila akhirnya kita bisa saling menjabat dan di waktu bersamaan
terkaan-terkaanku tak salah. Maka:
“Aku pamit, jika kita jadi bertemu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar