Senin, 07 Januari 2019

Aku Pamit, Jika Kita Jadi Bertemu




Apabila jarak tidak ada, bisakah kita sedekat ini?

Bila tiada satu sapa, mungkinkah ada pesan singkat yang dikirimkan setiap hari?

Perkenalan selalu singkat, kesan mendalam yang sering melekat. Hingga tak bisa memungkiri ketertarikan meski sebatas rasa penasaran. Bertanya-tanya tentang apapapun mengenaimu, di kepalaku tanda tanya ingin dituntaskan melalui narasi yang dibubuhi berkali-kali tanda koma. Namun, pertanyaan akan jadi pisau, tajam ketika kita telah mengetahui jawaban-jawaban yang tak diinginkan. Lalu menyangkal bahwa jawaban yang didapat itu bukan yang benar dan terus saja berjalan dengan langkah gentar.

Waktu-waktu sangat luang, sebab beberapa hal yang dipunyai harus digenggam kehilangan. Di sanalah, kau hadir sebagai yang mengisi peluang bagi segala lengang di penjuru diriku. Bukan sekadar tentang kesepian, lebih dari itu. Ada kosong yang entah mengapa bisa sangat penuh atas keberadaanmu. Aku dilingkupi prasangka, diresahkan praduga, dan diriuhkan oleh banyak terka. Apakah benar itu dirimu yang sesungguhnya?

Kita masih jauh dan saling mendekatkan diri tak semudah itu. Aku masih ingin menjumpaimu dengan raga, saling bertatap muka. Bukan hanya melalui ruang pesan yang cukup diwakili oleh kata-kata. Sebab aku yakin, tentang kau dan aku tak pernah bisa sekadar diwakili oleh kalimat-kalimat yang mencipta kedekatan semu.

Yang bukan kenyataan memang sebagian besar memesona, sedang jujur saja aku tak ingin terjebak pada yang hanya maya. Aku tak akan menyalahkanmu yang telah berhasil mengambil hatiku hanya dengan pesan-pesan singkat waktu itu. Namun bila akhirnya kita bisa saling menjabat dan di waktu bersamaan terkaan-terkaanku tak salah. Maka:
“Aku pamit, jika kita jadi bertemu.”


Sda, 21.45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik