Botol itu berputar cepat secepat
sepoian angin malam yang menerpaku hingga berdiri bulu romaku, putarannya
tampak mantap di meja kayu berwarna cokelat itu. Lalu...
“Yak,
Rena”
“Ayo,
yang mau bertanya?” Dipta nampaknya senang sekali botol itu berhenti dan
mengarah padaku
“Apakah
kau pernah patah hati?” Derry memberikan pertanyaan pertama bagiku sedangkan
botol penentu itu sudah berputar lebih dari tiga kali.
Aku
diam sejenak, berpikir. Haruskah aku menjawab pertanyaan yang menohok hati ini?
Aku merasakan ada awan kecil yang berada diatas kepalaku dan mengisahkan disaat
aku pilu menahan rasa perih karena hatiku telah patah. Aku menghela napas cukup
panjang, menahannya beberapa saat kemudian perlahan rongga hidungku
menghembuskannya.
“Bila
ditanya apakah aku pernah patah hati, jawaban yang paling tepat untuk hatiku
adalah seringkali.” Jawabku dengan mimik sendu bercampur serius.
Tak
ada suara yang menanggapi jawabanku, semua sunyi. Bahkan Dipta yang sedari tadi
berseringai dengan leluconnya pun turut bungkam seribu bahasa di tempat
duduknya. Aku menatap ketiga temanku bergantian. Derry yang menatapku sesaat
kemudian tertunduk lesu, Dipta memainkan sendok ice creamnya dan Nita yang
berada di sebelahku pun turut diam saja.
“Hey,
kenapa pada diam semua sih?” Aku membongkar kesepian diantara kita berempat.
“Habis,
jawabanmu galau amat.” Akhirnya Dipta mengoceh
“Aku
hanya menjawab apa adanya saja kok.”
“Ya,
sudahlah. Apa ada pertanyaan yang lain buat Rena?” Nita ikut andil memecah
diamnya sendiri.
“Okey
deh, nggak ada lanjut saja.” Dipta mengambil botol yang turut diam dan bersiap
memutarnya.
“Siapa
saja yang telah membuatmu patah hati?” Tiba-tiba Derry melontarkan pertanyaan
namun dengan kepala tetap tertunduk
Dipta
yang sudah bersiap memutar botolnya kembali, mengurungkan niatnya dan
meletakkan kembali botol itu di meja. Aku menoleh pada Nita dan Nita pun
menoleh padaku, kami menampakkan mimik heran dan mimik bertanya.
“Kenapa?
Apa perlu diulang pertanyaanku?” Muka Derry benar-benar seperti polisi yang
sedang menginterogasi tersangka perampokan.
Aku
masih diam dalam keheranan.
“Kamu
kenapa sih Der? Kok gitu banget nanyanya? Santai aja lah mas bro.” Dipta
mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang.
“Kenapa
emang? Aku biasa aja kok.”
Dipta
menatapku dan kepalanya mengisyaratkan padaku untuk segera menjawab pertanyaan
dari Derry. Aku masih berpikir, rasanya tak perlu ku ungkap semua kisah drama
cintaku pada mereka, apalagi kisah patah hatinya. Namun aku sudah menganggap
mereka sahabat walau hanya sekitar delapan bulan kita menghabiskan waktu
bersama. Sudah banyak cerita juga canda tawa yang terlukis dalam lembar
kehidupan baru kita.
Aku
masih bungkam.
“Kalau
kau tak ingin memeberitahu semuanya, jawab saja siapa yang terakhir kali
membuat kau patah hati.” Derry seakan ingin mendesakku seketika.
Aku
masih diam.
“Apa
susahnya sih jawab dengan satu nama saja!” Ada sedikit nada naik di ucapan
Derry, entah mengapa hatiku terasa teriris di permukaannya. Atau mungkin ini
efek kejut saja? Entahlah.
“Bima.”
Mataku menatap dua bola mata Derry dengan tajam, ada kata di dalam tatapanku
yang mungkin berbunyi seperti ini ‘Puas kau?'
Derry
memicingkan senyumnya “Oh, Bima? Iya? Ku bilang juga apa? Tak usah bermain hati
dengan bajingan satu itu.”
Aku
melotot padanya seakan tak terima dengan ucapan sinis dari mulutnya.
“Apa?
Sekarang tau rasa kan?” Derry balik menatapku tajam sekaligus membuat hatiku
jatuh oleh perkataannya.
Aku
berdiri dari kursiku dan menggebrak meja kayu penuh amarah.
“Maksudmu
apa bilang begitu?”
“Aku
sudah pernah peringatkan padamu, tak usah dekat-dekat dengan anak itu.”
“Lalu
kenapa jika aku dekat dengannya?”
“Masih
nanya lagi, itu...kamu patah hati karena cowok playboy itu kan?”
Emosiku
semakin membuncah, Derry masih saja mencecarku dengan penuh amarah.
“Hey,
hey ini kenapa malah pada bertengkar sih?” Nita menepuk bahuku
“Der,
tenang Der. Jangan marah-marah begitulah sama Rena.” Dipta juga mencoba meredam
amarah Derry.
Aku
menampik tangan Nita dari bahuku “Apa hakmu melarangku dengan siapa aku dekat,
hah!” Emosiku masih bertahan di nadinya, rasanya tubuhku mulai menghangat dan
kelopak mataku mulai berkaca-kaca. Aku menggebrak meja, amarahku kian buncah.
Ada hak apa Derry marah-marah padaku seperti ini. Bukan karena kita selalu
menghabiskan waktu bersama sebagai alasan, bagaimana pun persoalan cintaku,
rasaku menjadi privasi untukku.
“Ternyata
kau masih saja lemah Ren. Bukan hanya ragamu tapi hatimu juga.” Suara Derry
mulai melemah atau bahkan penuh rasa kecewa di dalam sana. Ah, masa bodoh
dengan ucapannya, kata-katanya bagai menyayat-nyayat hatiku saat itu juga.
Aku
tak tahan lagi menahan tangis yang tak terbendung di kelopak mataku. Aku meninggalkan
meja dimana kita bermain botol kejujuran. Rasanya tak ada lagi gairah untuk
terus melanjutkan permainan itu. Nita mengejarku yang sedang menangis tersedu
di taman belakang rumah Dipta.
“Ren,
kamu nggak apa-apa?” Nita mencoba menenagkanku
“Jangan
masukkan hati apa yang dikatakan Derry, mungkin karena ia kelelahan setelah
seharian tadi menyelesaikan tugas. Sudah hampir tengah malam juga Ren, mungkin
dia sudah mengantuk.”
“Tapi
ya nggak gitu juga Nit, aku salah apa sama dia? Toh selama ini kita baik-baik
aja kan. Apalagi bertengkar seperti ini.”
“Ren,
maafin Derry ya. Mungkin dia sudah mengantuk.” Dipta juga menyusulku di taman
belakang rumahnya
Aku
masih menahan isakku “Kita sudah bermain permainan ini berkali-kali Dip tapi
nggak pernah ucapan Derry semenyakitkan tadi.”
“Bukan
kau saja yang merasakan sakit Ren jika kau tahu, aku pun juga sakit mengatakan
hal yang menyakitkan itu kepadamu.” Derry bersandar pada pintu dengan
menundukkan kepalanya
“Bukan
kau saja yang patah hati ketika kau tersakiti oleh banyak laki-laki di luar
sana tapi aku juga merasakannya. Aku sudah cukup senang mendengarkan kisah
kasmaranmu dengan berbagai laki-laki tapi akhirnya kau tersakiti.”
Aku
terkejut mendengar kata-kata Derry, Nita pun demikian. Namun aku tak melihat
mimik terkejut pada raut wajah Dipta, ia malah tertunduk juga. Ada apa ini
sebenarnya? Namun tak jua Derry melanjutkan kata-katanya, aku menoleh pada
Dipta lagi akhirnya.
“Inilah
saatnya Derry jujur padamu Ren, ia selalu menantikan permainan botol kejujuran
ini di setiap kesempatanya. Derry pernah berkata padaku ‘percakapan dengannya
selalu indah dan selalu ku tunggu datangnya’. Ketika ia akan berkata jujur pada
hatinya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika botol itu
menunjuknya untuk jujur tapi sayangnya ia harus diberi pertanyaan terlebih
dahulu. Aku tak pernah berani mempertanyakan perasaannya padamu saat permainan
itu, aku takut Derry belum siap untuk jujur tentang kebenaran hatinya.” Dipta
menghampiri Derry yang nampak makin lesu di ambang pintu.
Derry
berjalan menghampiriku, aku hanya beku.
“Aku
sayang kamu Ren.” Ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya
“Aku
sangat mencintaimu.”
Saat
itu, jam tua yang besar di ruang tamu milik Dipta berdentang keras. Menandakan bahwa semua jarumnya tepat bertengger di angka dua belas. Dan di angka dua belas pula ternyata ada cinta yang tulus dan nyata, ada cinta yang akhirnya terungkap juga.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar