Melakukan ritual sebelum tidur,
menggunakan pembersih wajah, menggosokkan gigi yang berplak, mengoleskan krim
malam juga menyibakkan selimut untuk raga. Namun apa yang ku lalui pada
akhinya? Aku hanya bisa terjaga, tak pernah ada lelap yang singgah. Aku selalu
membenci tuk memulai tidurku. Bukan melulu soal insomnia, talasemia, anemia,
atau apalah itu saudara mia mia yang lainnya. Namun memang pikir dan mataku
selalu beradu untuk sekadar terpejam lalu memetik bunga mimpi di malam hari.
Aku merasa malam hari adalah waktu paling setia yang mengahadiahkanku
lampu-lampu inspirasi. Kembali lagi jika pikiranku selalu seteru tuk membawaku
tidur saja yang nyenyak. Padahal kamarku cukup nyaman untuk melepas penat. Jika
saja aku tak begitu lelah maka mata tetap saja ingin menyala. Mungkin aku
memang tak mau melewatkan malam walau seringkali menguap.
Hingga suatu saat aku mencoba rejam
dan memeluk sesuatu sejajar diriku. Rasanya begitu nyaman juga hangat ditambah
balutan selimut. Tapi tetap saja tak mudah saja aku tertidur, ternyata
pelukanku ini membawa imaji jauh terbang tinggi sebelum bermimpi. Aku mencumbui
suatu ini tepat di permukaan bibirku. Hmm...fantasi rupanya telah menjadi
pengantar tiap tidurku di malam hari. Mencoba menyelami kata orang surga dunia
yang tak pernah ku tafsirkan sebelumnya. Mungkin nanti, suatu ini akan berenkarnasi
dan tak sepihak ku cumbui hingga mesra mengantar debar juga tidurku sampai
pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar