Gubuk sederhana di balik
semak-semak ilalang itu masih terlihat temaram dengan cahaya lampu ublik minyak
tanah. Terdengar obrolan yang terdengar amat serius di dalam sana.
“Bagaimana
siasat kita selanjutnya?”
“Malam
ini kita segera laksanakan komando dari kepala pasukan.”
“Baiklah,
aku akan memanfaatkan senapan rampasan ini.”
“Bagus,
Dar. Kita harus segera bertindak malam ini.”
“Semoga
rencana kita kali ini berhasil Kas.”
Mereka
masih sibuk menyusun rencana untuk sebuah misi di perbatasan pulau yang menjadi
rebutan dua negara.
“Kak,
diminum dulu kopi jahenya supaya kuat nanti malam.”
“Sih,
sehaarusnya kamu ikut berlindung di tempat yang lebih aman.”
“Iya,
kamu saudara perempuan kami satu-satunya.” Pamungkas membelai rambut adiknya
“Ningsih
tak ingin jauh dari kakak. Jika memang tak menginginkan Ningsih untuk ikut
dengan kakak, izinkan semalam ini saja Ningsih turut ikut dengan Kak Darma dan
kak Pamungkas setelah itu Ningsih tak akan ikut lagi.” Ningsih menatap kedua
mata kakaknya dengan wajah sendu, sesendu rembulan yang tak bersinar terang
malam ini.
“Jangan
bilang begitu, kami berdua tidak keberatan kau ikut. Hanya saja kami inginkan
keamanan untukmu tetap terjaga.”
Ningsih
hanya tersenyum dan berbaring di dipan tak berkasur. Nampaknya Ningsih sudah
mulai mengantuk. Tak ada rasa kekhawatiran di hatinya walau terkadang ia harus
menyaksikan warga desa tewas berlumuran darah atau bising suara senjata yang
kejamnya tiada tara. Dalam hati Ningsih selalu berdoa untuk keselamatan kedua
kakaknya juga menumbuhkan ketenangan jiwa.
“Masih
saja kau setia dengan bambu ini.”
“Ya,
entah mengapa bambu ini seakan menjadi tombak sakti bagiku.”
“Hmm...bambu
runcing ya. Memang inilah senjata terampuh.”
Lewat
tengah malam, Darma dan Pamungkas mempersiapkan diri untuk kembali bergerilya
memberantas lawan mereka.
“Ayo
kita berangkat sekarang.” Semangat Pamungkas sudah tersulut angin malam.
“Baiklah!”
Darma mengangguk mantap.
“Kak,
hati-hati ya. Ningsih selalu berdoa untuk kakak.” Dari balik mukenah yang ia
pakai, Ningsih juga memberikan semangat untuk kedua kakaknya. Lalu melepas
perjuangan kedua kakaknya dengan mencium kedua tangan kakaknya itu.
“Jaga
diri baik-baik ya.” Pamungkas mencium kening adiknya.
“Kami
akan segera kembali.” Darma memeluk erat adiknya kemudian pergi.
*****
Suara
bising senapan dan racauan di hutan merisaukan malam yang tak lagi sepi kini.
Banyak darah berceceran di rumput-rumput belukar tapi tak pernah terlihat
merahnya karena ditelan gelap, hanya bau anyir yang mampu memberi isyarat bahwa
itu adalah cairan darah segar manusia. Tembakan-temabakan melesat menembus
pelosok-pelosok belukar yang menghalangi jalan sampai menembus kulit-kulit dan
menghentikan detak jantung. Kobaran pertikaian yang akan segera berujung, siapa
yang melumpuhkan lawan paling banyak itulah penguasanya.
Darma
dan Pamungkas pun terus berjuang dengan senjata mereka masing-masing. Pamungkas
sangat jeli menombakkan runcing bambunya ke hulu-hulu jantung lawan. Darma pun
sigap dengan senapan rampasan untuk melindungi Pamungkas juga melumpuhkan
lawan-lawan mereka.
“Kas,
sepertinya kita berhasil.”
“Darma,
Pamungkas! Lekas kembali. Nampaknya lawan sudah mampu kita lumpuhkan. Kembali ke
perkemahan di pos satu. Bawa serta Ningsih kesana.”
“Siap!”
Darma
dan Pamungkas bergegas menuju gubuk persembunyian mereka. Mereka berdua ingin
segera memeluk adiknya dan mengatakan perjuangan mereka selama ini berhasil.
Perjuangan mereka kali ini akan segera berakhir.
“Sih,
kami berhas....”
Belum
rampung kalimat dari bibir Pamungkas, ia sudah berlutut lemas. Darma yang
menyaksikan juga turut terkejut dengan apa yang ada di depan matanya. Ningsih
tergolek bersimbah darah disekujur tubuhnya, masih dengan balutan mukenah yang
ia kenakan terakhir kali. Mereka berdua tak menyadari bahwa lawan mereka juga
mengintai gubuk yang menjadi tempat persembunyian. Kini tak hanya perjuangan
mereka yang berakhir tetapi senyum dan doa-doa Ningsih pun sudah di dilepas
akhir.
Begitulah
perjuangan ketiga pemuda di pelosok pulau terpencil Indonesia. Tiga senjata
yang selalu mereka bawa. Darma dengan senapan rampasannya, Pamungkas dengan
bambu runcingnya, dan Ningsih dengan rapalan doa-doanya. Perjuangan mereka tak
pernah sia-sia untuk tanah air Indonesia tercinta.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar