Sabtu, 17 Agustus 2013

TIGA SENJATA

             Gubuk sederhana di balik semak-semak ilalang itu masih terlihat temaram dengan cahaya lampu ublik minyak tanah. Terdengar obrolan yang terdengar amat serius di dalam sana.
                “Bagaimana siasat kita selanjutnya?”
                “Malam ini kita segera laksanakan komando dari kepala pasukan.”
                “Baiklah, aku akan memanfaatkan senapan rampasan ini.”
                “Bagus, Dar. Kita harus segera bertindak malam ini.”
                “Semoga rencana kita kali ini berhasil Kas.”
                Mereka masih sibuk menyusun rencana untuk sebuah misi di perbatasan pulau yang menjadi rebutan dua negara.
                “Kak, diminum dulu kopi jahenya supaya kuat nanti malam.”
                “Sih, sehaarusnya kamu ikut berlindung di tempat yang lebih aman.”
                “Iya, kamu saudara perempuan kami satu-satunya.” Pamungkas membelai rambut adiknya
                “Ningsih tak ingin jauh dari kakak. Jika memang tak menginginkan Ningsih untuk ikut dengan kakak, izinkan semalam ini saja Ningsih turut ikut dengan Kak Darma dan kak Pamungkas setelah itu Ningsih tak akan ikut lagi.” Ningsih menatap kedua mata kakaknya dengan wajah sendu, sesendu rembulan yang tak bersinar terang malam ini.
                “Jangan bilang begitu, kami berdua tidak keberatan kau ikut. Hanya saja kami inginkan keamanan untukmu tetap terjaga.”
                Ningsih hanya tersenyum dan berbaring di dipan tak berkasur. Nampaknya Ningsih sudah mulai mengantuk. Tak ada rasa kekhawatiran di hatinya walau terkadang ia harus menyaksikan warga desa tewas berlumuran darah atau bising suara senjata yang kejamnya tiada tara. Dalam hati Ningsih selalu berdoa untuk keselamatan kedua kakaknya juga menumbuhkan ketenangan jiwa.
                “Masih saja kau setia dengan bambu ini.”
                “Ya, entah mengapa bambu ini seakan menjadi tombak sakti bagiku.”
                “Hmm...bambu runcing ya. Memang inilah senjata terampuh.”
                Lewat tengah malam, Darma dan Pamungkas mempersiapkan diri untuk kembali bergerilya memberantas lawan mereka.
                “Ayo kita berangkat sekarang.” Semangat Pamungkas sudah tersulut angin malam.
                “Baiklah!” Darma mengangguk mantap.
                “Kak, hati-hati ya. Ningsih selalu berdoa untuk kakak.” Dari balik mukenah yang ia pakai, Ningsih juga memberikan semangat untuk kedua kakaknya. Lalu melepas perjuangan kedua kakaknya dengan mencium kedua tangan kakaknya itu.
                “Jaga diri baik-baik ya.” Pamungkas mencium kening adiknya.
                “Kami akan segera kembali.” Darma memeluk erat adiknya kemudian pergi.
*****
                Suara bising senapan dan racauan di hutan merisaukan malam yang tak lagi sepi kini. Banyak darah berceceran di rumput-rumput belukar tapi tak pernah terlihat merahnya karena ditelan gelap, hanya bau anyir yang mampu memberi isyarat bahwa itu adalah cairan darah segar manusia. Tembakan-temabakan melesat menembus pelosok-pelosok belukar yang menghalangi jalan sampai menembus kulit-kulit dan menghentikan detak jantung. Kobaran pertikaian yang akan segera berujung, siapa yang melumpuhkan lawan paling banyak itulah penguasanya.
                Darma dan Pamungkas pun terus berjuang dengan senjata mereka masing-masing. Pamungkas sangat jeli menombakkan runcing bambunya ke hulu-hulu jantung lawan. Darma pun sigap dengan senapan rampasan untuk melindungi Pamungkas juga melumpuhkan lawan-lawan mereka.
                “Kas, sepertinya kita berhasil.”
                “Darma, Pamungkas! Lekas kembali. Nampaknya lawan sudah mampu kita lumpuhkan. Kembali ke perkemahan di pos satu. Bawa serta Ningsih kesana.”
                “Siap!”
                Darma dan Pamungkas bergegas menuju gubuk persembunyian mereka. Mereka berdua ingin segera memeluk adiknya dan mengatakan perjuangan mereka selama ini berhasil. Perjuangan mereka kali ini akan segera berakhir.
                “Sih, kami berhas....”
                Belum rampung kalimat dari bibir Pamungkas, ia sudah berlutut lemas. Darma yang menyaksikan juga turut terkejut dengan apa yang ada di depan matanya. Ningsih tergolek bersimbah darah disekujur tubuhnya, masih dengan balutan mukenah yang ia kenakan terakhir kali. Mereka berdua tak menyadari bahwa lawan mereka juga mengintai gubuk yang menjadi tempat persembunyian. Kini tak hanya perjuangan mereka yang berakhir tetapi senyum dan doa-doa Ningsih pun sudah di dilepas akhir.

                Begitulah perjuangan ketiga pemuda di pelosok pulau terpencil Indonesia. Tiga senjata yang selalu mereka bawa. Darma dengan senapan rampasannya, Pamungkas dengan bambu runcingnya, dan Ningsih dengan rapalan doa-doanya. Perjuangan mereka tak pernah sia-sia untuk tanah air Indonesia tercinta.

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik