“Aku
nggak mau Rin.” Aku masih saja bersikeras berbaring di balik selimutku.
“Kenapa
sih kamu itu Ca? Sudah dandan cantik juga.”
“Tapi
aku malu.”
“Malu
kenapa? Malu karena ada Stella dan teman-temannya diluar? Kamu kan datang di
acara ulang tahun Dandi karena dia yang mengundang kamu datang ke pestanya.”
“Kalau
untuk datang di pestanya aku nggak masalah Rin tapi kalau untuk...”
“Apa?
Untuk nyanyi di depan umum kamu malu? Dandi sudah pernah bilang berapa kali sih
ke kamu kalau dia itu paling kukuh mendukungmu, mengembangkan bakatmu, bahkan
dia bersedia menjadi pengiringmu bermain gitar.” Karin terus saja mengomel
Aku
hampir menangis dibuat takut sendiri oleh rasa minderku. Aku memang bukan gadis
populer di sekolah seperti Stella dan teman temannya. Bahkan aku termasuk cewek
kuper yang nerd banget tapi ketika Dandi menemukanku bernyanyi di sudut lorong
sekolah ketika aku mengisi mading dia langsung menarikku ikut dalam bandnya.
Tahu sendiri? Aku pasti menolaknya.
“Suaramu
merdu Ca, ada karakter di suaramu itu. Kamu berbakat dalam bidang vokal.”
Begitu
kata Dandi beberapa waktu lalu, hingga aku memberanikan diri mengikuti
ekstrakulikuler grup vokal di sekolah namun apa yang aku dapat. Ejekan dan
olokan dari Stella dan teman-temannya yang sama sama mengikuti ekstrakuler grup
vokal. Akhirnya karena aku tak tahan terus di bully mereka, aku mengundurkan
diri. Hanya Karin dan keluargaku saja yang mengetahui bahwa aku memiliki hobi
menyanyi dan bermain musik. Aku sering memainkan piano kesayanganku di rumah
sambil bernyanyi namun aku tak pernah mau memublikasikannya.
Pada
akhirnya rasa minder mengalahkan aku untuk tidak datang ke ulang tahun Dandi.
Karin marah besar padaku karena sikap maluku yang terlanjur keras kepala. Ia
tak menyapaku di sekolah bahkan Dandi juga tak berpaling muka padaku ketika
kami berpapasan. Oh Tuhan...begitu bodohnya aku.
Ketika
istirahat aku duduk diam di sudut sekolah, ingin rasanya menangis. Apalagi
radio sekolah sedang memutarkan lagu lagu mellow siang hari yang mendung
begini, lengkap sudah kegalauanku.
“Ya,
sebuah rekaman dari salah seorang kawan kita akan spesial kami putarkan mengisi
sendu siang ini. Tapi jangan galau ya kawan-kawan.”
Terdengar
suara pembawa radio di sekolah kemudian alunan musik merdu. Rupanya alat musik
piano, lamat lamat aku terkejut bahwa sepersekian detik kemudian aku menyadari
bahwa itu adalah laguku dan aku yang menyanyikannya. Aku sungguh terkejut bukan
kepalang. Aku berlari menuju ruang radio sekolah. Lalu apa yang kutemukan?
“Hay
Ca, selamat ulang tahun ya...”
Dandi
dengan kue tart di tangannya bersama Karin dan beberapa guru menyanyikan lagu
selamat ulang tahun untukku. Apa ini Tuhan? Bahkan aku sendiri lupa dengan
ulang tahunku.
“Jahat
kamu Ca, nggak datang di ulang tahunku. Sebagai gantinya kamu harus ikut
mewakili sekolah mengikuti ajang penyanyi solo pada perlombaan bulan depan.
Saatnya kamu bersinar Cahaya Asya Regita.”
Sunggingan
senyum ketulusan dari seorang Dandi membuatku luluh setengah mati. Harusnya aku
leburkan pula rasa malu dalam diri. Karin memelukku dan meminta maaf telah
marah padaku, kita pun menangis haru.
By : Rena Kharisma
Seems like real :D Like it.
BalasHapusTerima kasih *^▁^*
BalasHapus