Aku
melihatmu tersudut oleh bangku cafe yang kaupilih sendiri. Sudah dua hari ini
kau nampak selalu sendiri. Padahal tiap harinya menjelang petang kau rampungkan
segala penat di cafe ini dengan bermacam macam karakter manusia, yang kutahu
kau tak pernah sendiri datang ke cafe ini. Aku memiliki tempat ternyamanku
sendiri untuk menikmatimu tanpa kautahu,
mungkin pelayan toko yang sudah hafal denganku pun tak mengetahui
tujuanku datang kemari. Tiap senja aku luangkan waktuku untuk sekadar
memastikan bahwa kau baik baik saja. Karena semenjak setahun yang lalu aku
memutuskan untuk menggali lebih dalam apa apa yang kurasa kepadamu setelah
perpecahan rasa di hati.
Dua
hari sebelumnya kau berkungjung ke cafe ini dengan pakaian tanpa lengan dan
celana amat pendek. Sepertinya yang kaukenakan itu baju basket. Aku sempat
heran kau tak lagi serapi biasanya, tapi aku tahu jika kau kembali
merutinitaskan hobimu semasa sekolah putih abu abu dulu. Mungkin kau sedang
terlalu stress karena pekerjaan kantor atau kau ingin kembali mengejar impianmu
menjadi pemain basket? Ah entahlah, aku masih senang melihatmu dalam pakaian
apa saja. Setelah itu aku kembali mendiamkan pikiranku setelah perempuan yang
kau jadikan kekasih itu datang.
“Astaga,
Kal. Kamu ini apa apaan sih?”
“Hai,
sayang.”
“No,
no, jangan dekat dekat. Aku sudah wangi begini. Kamu main basket lagi?”
“Ha
ha ha ha iya sayang. Ngilangin stress.”
“Terus
kamu ketemuan sama aku dengan keadaan berantakan macam ini? Kita ini kencan
kan, kamu malah pakai baju basket seperti ini. Habis ini kita juga akan ketemu
klienku tapi kamu kok...........”
Ocehan
kekasihmu itu bergulir tanpa ampun menghunjammu. Kau yang awalnya nampak ceria
dan bercanda lama lama kecewa juga. Aku mengerti perasaanmu, sebab apa yang
membuatmu senang lebih membuat kekasihmu tak menyukaimu. Lalu aku mau apa? Aku hanya
mampu mengamatimu dari kejauhan sebab cintaku untukmu pun masih berjarak
panjang.
Semenjak
kejadian itu, kau nampak murung. Seperti senja kali ini yang kau habiskan
sendiri. Aku melihat kau mengambil ponsel dan mencari cari data disana.
Kemudian kau dekatkan di telinga, ah mungkin kau akan menelepon kekasihmu,
meminta maaf.
Sedetik
kemudian ponselku berbunyi.
“Halo,
Gladis. Apa kabar?”
Aku
hanya bisa terpaku di tempat, ternyata kau menghubungiku. Kemudian dengan mudah
kau menemukan tempat persembunyianku.
By: Rena Kharisma
Gerimis rintik-rintik pagi ini membuat pekat udara di sekitarku, titik-titik airnya jatuh di kolam membentuk lingkaran-lingkaran kecil, yang semakin lama makin melebar. Indah, titik air itu jatuh pula di atas dedaunan, lalu. memantul turun dan tanah pun
BalasHapusmenghisapnya, tertelan begitu saja oleh pori-pori bumi. Kicau burung pipit yang bersarang di dahan pohon jambuku tidak terdengar pagi ini. Hufh.... Pagi ini hening. Aku tiup kuat-kuat kaca jendela kamar di depan hidungku, uap mulutku memburamkan kaca, kuhapus perlahan dengan ujung jemariku. Seperti aku menghapus nyeri di hatiku, sepi menggigit.
Hari ini kan ulang tahunku, fiuuh.. sudah 21 tahun aku masih saja berteman dengan sepi, dengan hening,
dengan senyap. Kadang kala aku menikmatinya, tapi lebih sering sih tidak, seperti hari ini misalnya.
Jam dinding di ruang tengah membuyarkan lamunanku, sudah pukul delapan, hujan belum reda juga, hari ini
kan jam kuliah di mulai tepat pukul sembilan pagi, bisa-bisa aku telat ke kampus nanti.
Ku tebar pandanganku sambil mengerenyitkan wajah, buku-buku bertebaran dimana-mana ada DR.
Mansour Fakih, ada Riffat Hasan, ada Ashgar Ali, Marwah Daud, Betty Friendan, hufh..Berantakan banget.
Detik menjadi menit, lalu menjadi jam, perlahan hujan pun mereda, kusambar tas yang berisi mata kuliahku hari ini, lalu cepat-cepat pergi menuju kampus.
Jarum jam mengarah 09:15 telat sih, yah lebih baik dari pada tidak hadir sama sekali.
~Singkat cerita~
Sebentar saja mata kuliah hari ini telah usai, jam di handphoneku menunjuk ke angka 12 hampir lebih.
Ku lihat mentari perlahan menghapus kelembaban bumi yang tersiram hujan pagi tadi, dengan sinarnya yang
kuning keemasan, begitu gagah menerangi cakrawala.
Burung-burung gereja menari bernyanyi mengepakan
sayap-sayapnya di antara ranting-ranting pepohonan, dan daun-daun keringnyapun terkulai jatuh kebumi tertebak sayap-sayap sang burung.
Indah, kunikmati percumbuan semesta siang itu di bawah pohon flamboyan yang tumbuh merindang di depan kampusku.
"Hay..." seruan dan sapaan itu mengejutkanku, lalu mengalihkan pandanganku, kudapati sesosok perempuan. Aku mengenalnya, dia Nadia; Nadia Arshita nama lengkapnya dia bukan hanya teman sefakultasku, Nadia adalah temen cewek satu-satunya dari sekolah menengahku dulu.
"ngapain..? bengong aja, kesambet loh. Kenalin nih temen aku dari fakultas sastra" tawar dan tegas
Nadia. Dan pandanganku berali pada sesosok perempuan yang dari tadi berdiri di samping Nadia. Kuulurkan tanganku sambil menyebut namaku, "All Hendy" Dia pun menyambut hangat jabatan tanganku "Bhernadheta, panggil saja aku Dita" jawab cewek itu.
"oh ia sekedar pemberitahuan Dita ini penggemar tulisan-tulisan kamu loh Ndy." celetuk nadia. Kulihat rona merah di raut wajah Dita yang hanya tersenyum simpul. ( entah itu simpul mati atau simpul hidup aku kurang tau, maklum aku tak tahu tentang tali temali, gak pernah ikut pramuka sih hehe..).
"Aku beli soft drink dulu yah." ujar Nadia seolah membiarkan aku dan Dita berduaan untuk saling mengenal. "bukannya dari tadi Nad." gurauku ke Nadia.
Nadia mencubit kecil di pinggangku.
Beberapa meniat tanpa kata ketika hanya berdua, entahlah bibirku terasa kelu.
"Aku sering baca-baca Artikel, cerita, dan entri-entri lainnya yang kamu tulis di web kamu.
Jujur aku kagum sama kamu, mahasisiwa hukum tapi cermat dalam setiap karya tulismu. Kamu punya basic sastra ya?" tanya Dita seolah membuka obrolan.
"basic sastra.? gak ada sih, bahkan aku tak tau definisi sastra itu seperti apa, tulisan-tulisanku hanya ungkapan imaginasi kesendirianku semata." jawabku pelan seolah ada ragu berbaur malu saat aku menatap matanya.
baca selengkapnya di http://
www.notboks.blogspot.com/