“Aku
bisa apa? Harusnya aku yang pergi.” Aku terisak lirih
Sepoaian
angin yang segar di tengah terik mentari mebuatku merinding, aku merasa tubuhku
gigil seketika itu saat diterpa angin yang hilir menyentuh kulitku. Ingin
rasanya aku sembunyikan air mata yang tak pernah aku nampakkan pada dunia luar
ini tapi sudah cukup sesak dada ketika segalanya mampu terjadi dalam hitungan
menit.
*****
“Iya,
sabar dong. Ini aku mau beliin Gina kue ulang tahun.” Aku berada di balik
kemudi setir sepeda motorku ketika Ria menelponku. Aku paling anti menerima
telepon saat berkendara seperti ini. Tapi saat ini benar-benar darurat dan
harus aku terima.
“Masih
di rumah sakit kan?” Masih dengan laju yang tak kukurangi.
Aku
lega ketika Ria dan Rahmi masih berada di rumah sakit. Sahabatku Gina akan
melakukan operasi ginjal. Tak ada yang lebih sedih ketika mendengar sahabat
paling aku sayangi mengalami masa sulit seperti ini. Sudah satu tahun ini ia
merasakan sakit di bagian pinggang, aku selalu menyuruhnya untuk segera periksa
tapi selalu ditolaknya. Tapi ketika semuanya parah dan tak dapat dicegah,
barulah tanpa daya Gina harus dirawat di rumah sakit.
Rasanya
ingin selalu berada di sisi Gina tapi hari ini adalah hari ulang tahunnya yang
ke dua puluh dan aku harus memberikan kejutan padanya. Setidaknya kue tart dan
lilin kecil untuk ritual di hari ulang tahunnya. Aku meminta bantuan Ria dan
Rahmi untuk menggantikan aku menjaga Gina sementara.
****
Pukul
sepuluh pagi Gina akan menjalani operasi gagal ginjalnya dan aku masih di
jalanan pukul setengah sepuluh dengan membawa kue tart warna merah muda
kesukaan Gina. Aku melajukan sepeda motorku kencang, aku harus sampai di rumah
sakit sebelum pukul sepuluh. Karena aku ingin memberikan semangat lewat kejutan
kue tart ini agar ia tak takut menjalani operasi yang selama ini tidak ia
ingini.
Di
aspal jalanan yang padat kendaraan aku gelisah sendiri, berulang kali aku
melirik tik-tokan jam tangan. Aku tak mau telat nanti. Pikiran tak fokus di
jalanan, aku membayangkan muka Gina yang ketakutan saat masuk ruang bedah.
Dalam hati aku berteriak, aku harus segera sampai sana. Aku membayangkan Gina
memasuki ruang bedah dengan beberapa suster di sampingnya. Sekali lagi aku
melihat muka Gina yang ketakutan. Kemudian, tiba-tiba gelap.
****
“Aku
bisa apa? Harusnya aku yang pergi.” Aku terisak lirih
Sepoaian
angin yang segar di tengah terik mentari mebuatku merinding, aku merasa tubuhku
gigil seketika itu saat diterpa angin yang hilir menyentuh kulitku. Ingin
rasanya aku sembunyikan air mata yang tak pernah aku nampakkan pada dunia luar
ini tapi sudah cukup sesak dada ketika segalanya mampu terjadi dalam hitungan
menit.
Aku
tak percaya Resi harus pergi secepat ini. Kue tart yang ia bawakan untukku
hancur bersama nyawanya yang juga hilang.
“Res,
harusnya aku yang pergi. Harusnya aku yang ada di sana, bukan kamu.” Akhirnya
aku berteriak sendiri sambil menangis.
“Gin,
sudah. Ikhlaskan Resi, dia pasti bahagia melihat kamu berhasil menjalani
operasi ginjalmu.” Ria memelukku erat, aku makin terisak.
“Gin,
aku dan Ria memang menyayangimu tapi kami tahu jika Resi yang paling bisa
menyayangimu. Ini.” Rahmi memberiku sebuah amplop yang terlihat robek di
sana-sini.
Aku
membukanya sambil terisak, sesak semakin memuncak.
Sahabatku Gina, di hari ulang tahunmu aku
ingin memberikan kado paling berharga dalam hidupku.
Resi
“Resi,
kenapa kecelakaan itu harus terjadi? Kamu, ka, kamu sudah memberikan yang
berharga untukku. Terima kasih untuk ginjalmu ini. Res, andai kamu masih berada
di sisiku.”
by : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar