Rabu, 26 Maret 2014

Kado Berharga

                “Aku bisa apa? Harusnya aku yang pergi.” Aku terisak lirih
                Sepoaian angin yang segar di tengah terik mentari mebuatku merinding, aku merasa tubuhku gigil seketika itu saat diterpa angin yang hilir menyentuh kulitku. Ingin rasanya aku sembunyikan air mata yang tak pernah aku nampakkan pada dunia luar ini tapi sudah cukup sesak dada ketika segalanya mampu terjadi dalam hitungan menit.
*****
                “Iya, sabar dong. Ini aku mau beliin Gina kue ulang tahun.” Aku berada di balik kemudi setir sepeda motorku ketika Ria menelponku. Aku paling anti menerima telepon saat berkendara seperti ini. Tapi saat ini benar-benar darurat dan harus aku terima.
                “Masih di rumah sakit kan?” Masih dengan laju yang tak kukurangi.
                Aku lega ketika Ria dan Rahmi masih berada di rumah sakit. Sahabatku Gina akan melakukan operasi ginjal. Tak ada yang lebih sedih ketika mendengar sahabat paling aku sayangi mengalami masa sulit seperti ini. Sudah satu tahun ini ia merasakan sakit di bagian pinggang, aku selalu menyuruhnya untuk segera periksa tapi selalu ditolaknya. Tapi ketika semuanya parah dan tak dapat dicegah, barulah tanpa daya Gina harus dirawat di rumah sakit.
                Rasanya ingin selalu berada di sisi Gina tapi hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dan aku harus memberikan kejutan padanya. Setidaknya kue tart dan lilin kecil untuk ritual di hari ulang tahunnya. Aku meminta bantuan Ria dan Rahmi untuk menggantikan aku menjaga Gina sementara.
****
                Pukul sepuluh pagi Gina akan menjalani operasi gagal ginjalnya dan aku masih di jalanan pukul setengah sepuluh dengan membawa kue tart warna merah muda kesukaan Gina. Aku melajukan sepeda motorku kencang, aku harus sampai di rumah sakit sebelum pukul sepuluh. Karena aku ingin memberikan semangat lewat kejutan kue tart ini agar ia tak takut menjalani operasi yang selama ini tidak ia ingini.
                Di aspal jalanan yang padat kendaraan aku gelisah sendiri, berulang kali aku melirik tik-tokan jam tangan. Aku tak mau telat nanti. Pikiran tak fokus di jalanan, aku membayangkan muka Gina yang ketakutan saat masuk ruang bedah. Dalam hati aku berteriak, aku harus segera sampai sana. Aku membayangkan Gina memasuki ruang bedah dengan beberapa suster di sampingnya. Sekali lagi aku melihat muka Gina yang ketakutan. Kemudian, tiba-tiba gelap.
****
                “Aku bisa apa? Harusnya aku yang pergi.” Aku terisak lirih
                Sepoaian angin yang segar di tengah terik mentari mebuatku merinding, aku merasa tubuhku gigil seketika itu saat diterpa angin yang hilir menyentuh kulitku. Ingin rasanya aku sembunyikan air mata yang tak pernah aku nampakkan pada dunia luar ini tapi sudah cukup sesak dada ketika segalanya mampu terjadi dalam hitungan menit.
                Aku tak percaya Resi harus pergi secepat ini. Kue tart yang ia bawakan untukku hancur bersama nyawanya yang juga hilang.
                “Res, harusnya aku yang pergi. Harusnya aku yang ada di sana, bukan kamu.” Akhirnya aku berteriak sendiri sambil menangis.
                “Gin, sudah. Ikhlaskan Resi, dia pasti bahagia melihat kamu berhasil menjalani operasi ginjalmu.” Ria memelukku erat, aku makin terisak.
                “Gin, aku dan Ria memang menyayangimu tapi kami tahu jika Resi yang paling bisa menyayangimu. Ini.” Rahmi memberiku sebuah amplop yang terlihat robek di sana-sini.
                Aku membukanya sambil terisak, sesak semakin memuncak.
                Sahabatku Gina, di hari ulang tahunmu aku ingin memberikan kado paling berharga dalam hidupku.
Resi

                “Resi, kenapa kecelakaan itu harus terjadi? Kamu, ka, kamu sudah memberikan yang berharga untukku. Terima kasih untuk ginjalmu ini. Res, andai kamu masih berada di sisiku.”
by : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik