Lena tak habis pikir, bulan Mei
ini banyak kekecewaan yang terkuras dari kehidupannya. Mungkin bukan terkuras
tapi membanjir bandang dan tiba-tiba datang. Padahal Mei tahun ini adalah yang
paling disakralkan olehnya. Di salah satu tanggalnya ada pengulangan tanggal
dan hari lahirnya. Untuk segenap pengharapan sebelum hari itu datang sudah ia
pikirkan matang-matang.
“Ah,
tidak matang. Aku hanya membayangkan.” Gumamnya sendiri
Ia
terlanjur kecewa dengan harapannya sendiri sebab pikirannya terlalu tinggi
memang. Banyak yang ia ingini saat arlojinya memutar dan singgah tepat di angka
dua belas malam hari. Tak perlu ucapan pertama kali dari kekasih atau
kemeriahan kejutan kecil yang dirayakan tepat bergantinya hari dengan lilin
tanpa kue tart dari sahabat. Dari yang disebutkan memang tak ada yang terjadi.
Ucapan selamat ulang tahun diutarakan oleh seorang sahabatnya melalui telepon,
sosial media juga menjadi salah satu meriahnya ucapan diberikan untuknya, dan
kawan-kawan yang tak pernah ia duga ikut mengucapkan selamat dengan khidmat. Ia
hanya mampu mengamini dan berterima kasih. Dalam sunyi malam itu dengan laptop
menyala di hadapannya, entah di mana letak kebahagiaan saat masa kontraknya di
bumi dikurangi. Mencari-cari keharuan pada kelebat-kelebat doa yang dilempar
padanya. Rasanya masih tak ia temui di sana. Hanya hambar. Ia hanya tak ingin
menyakiti hati orang-orang yang masih sangat mencintai dan memedulikannya, yang
dengan niat membuat rencana untuk acara spesial ulang tahunnya. Namun sedikit
pun tak ada pantikan keceriaan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Rasanya
ia sudah dijatuhkan oleh pengharapan yang ketinggian.
“Harusnya
aku bersyukur dari sekarang. Ah, apa-apaan Mei tahun ini. Banyak beban tugas
ini itu, beban pikiran, juga beban hati. Sialan!” Umpatnya sendiri.
Ya,
begitulah. Lena mencoba untuk lihai bersyukur berharap agar terus mujur tapi
nyatanya banyak keinginannya yang hancur. Disodori tumpukan tugas-tugas kuliah
yang bagi para mahasiswa dianggap wajar dan biasa karena dosen memang terkadang
melebihi Tuhan yang memberikan ujian di luar batas kemampuan mahasiswanya.
Begitulah gurauan yang Lena dapat dari teman-teman sepenanggungan. Ia mencoba
tak membebani diri sendiri dengan apa-apa yang ia anggap bisa diatasi namun
kemalasannya dan kecintaannya pada santai membuat segalanya menjadi tak lekas
sampai. Kepala Lena berdenyut-denyut, ia terus menyangkal bahwa pusing yang ia
derita bukan karena beban pikiran. Ia merasa bahwa semua ini hal biasa dan
harus ditanggapi dengan santai. Ya, penghiburan bagi dirinya sendiri.
“Ah,
susah juga menjadikan semua ini hal yang biasa-biasa saja. Mana ada perasaan
yang bisa ditilapkan kesedihannya?” Katanya dalam hati sendiri.
Bukan
hanya kesedihan saja yang tak bisa ditilapkan banyak kebahagiaan yang tak mampu
didiamkan begitu saja tanpa meledakkannya. Ya, mungkin karena saat ini suasana
hati Lena sedang dirundung banyak kedukaan atau berusaha untuk melupakan
kelukaan. Padahal ia yang paling membenci berusaha untuk melupakan. Lena
percaya pada waktu dan kelebihannya cuek dengan hal-hal yang tidak
membahagiakannya tak akan membuat ia terbeban oleh perasaan. Namun untuk orang
yang mulai ia sayang nyatanya sulit juga berhenti untuk tak acuh dan selalu
ingin acuh pada kekasihnya itu.
“Sudah
cukup! Apa lagi yang perlu dipertahankan?” Belanya dalam ketemanguannya sendiri
Mungkin
Lena terlalu dilahap kecewa karena perbuatan orang yang sering membuatnya belingsatan.
Ya, mantan kekasihnya. Terkadang ia sendiri heran, mengapa apa-apa yang sudah
menjadi mantan lebih indah dibandingkan ketika ia masih menjadi gandengan.
Rasanya ia ingin mencubiti kulitnya sendiri supaya sadar bahwa ia tak hidup di
dunia mimpi.
“Untuk
bulan Mei tahun ini, terima kasih.” Geregetannya sendiri.
Mei
yang selalu bertanggal ganjil pun kisahnya yang tak pernah dekil serta deretan tawa luka secuil-secuil. Lena masih menyicil kebahagiaannya kecil-kecil.
Semoga langkah kehidupannya tak tersandung kecewa dan duka yang mengerikil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar