Jumat, 30 Mei 2014

Mei Selalu Ganjil

Lena tak habis pikir, bulan Mei ini banyak kekecewaan yang terkuras dari kehidupannya. Mungkin bukan terkuras tapi membanjir bandang dan tiba-tiba datang. Padahal Mei tahun ini adalah yang paling disakralkan olehnya. Di salah satu tanggalnya ada pengulangan tanggal dan hari lahirnya. Untuk segenap pengharapan sebelum hari itu datang sudah ia pikirkan matang-matang.
                “Ah, tidak matang. Aku hanya membayangkan.” Gumamnya sendiri
                Ia terlanjur kecewa dengan harapannya sendiri sebab pikirannya terlalu tinggi memang. Banyak yang ia ingini saat arlojinya memutar dan singgah tepat di angka dua belas malam hari. Tak perlu ucapan pertama kali dari kekasih atau kemeriahan kejutan kecil yang dirayakan tepat bergantinya hari dengan lilin tanpa kue tart dari sahabat. Dari yang disebutkan memang tak ada yang terjadi. Ucapan selamat ulang tahun diutarakan oleh seorang sahabatnya melalui telepon, sosial media juga menjadi salah satu meriahnya ucapan diberikan untuknya, dan kawan-kawan yang tak pernah ia duga ikut mengucapkan selamat dengan khidmat. Ia hanya mampu mengamini dan berterima kasih. Dalam sunyi malam itu dengan laptop menyala di hadapannya, entah di mana letak kebahagiaan saat masa kontraknya di bumi dikurangi. Mencari-cari keharuan pada kelebat-kelebat doa yang dilempar padanya. Rasanya masih tak ia temui di sana. Hanya hambar. Ia hanya tak ingin menyakiti hati orang-orang yang masih sangat mencintai dan memedulikannya, yang dengan niat membuat rencana untuk acara spesial ulang tahunnya. Namun sedikit pun tak ada pantikan keceriaan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Rasanya ia sudah dijatuhkan oleh pengharapan yang ketinggian.
                “Harusnya aku bersyukur dari sekarang. Ah, apa-apaan Mei tahun ini. Banyak beban tugas ini itu, beban pikiran, juga beban hati. Sialan!” Umpatnya sendiri.
                Ya, begitulah. Lena mencoba untuk lihai bersyukur berharap agar terus mujur tapi nyatanya banyak keinginannya yang hancur. Disodori tumpukan tugas-tugas kuliah yang bagi para mahasiswa dianggap wajar dan biasa karena dosen memang terkadang melebihi Tuhan yang memberikan ujian di luar batas kemampuan mahasiswanya. Begitulah gurauan yang Lena dapat dari teman-teman sepenanggungan. Ia mencoba tak membebani diri sendiri dengan apa-apa yang ia anggap bisa diatasi namun kemalasannya dan kecintaannya pada santai membuat segalanya menjadi tak lekas sampai. Kepala Lena berdenyut-denyut, ia terus menyangkal bahwa pusing yang ia derita bukan karena beban pikiran. Ia merasa bahwa semua ini hal biasa dan harus ditanggapi dengan santai. Ya, penghiburan bagi dirinya sendiri.
                “Ah, susah juga menjadikan semua ini hal yang biasa-biasa saja. Mana ada perasaan yang bisa ditilapkan kesedihannya?” Katanya dalam hati sendiri.
                Bukan hanya kesedihan saja yang tak bisa ditilapkan banyak kebahagiaan yang tak mampu didiamkan begitu saja tanpa meledakkannya. Ya, mungkin karena saat ini suasana hati Lena sedang dirundung banyak kedukaan atau berusaha untuk melupakan kelukaan. Padahal ia yang paling membenci berusaha untuk melupakan. Lena percaya pada waktu dan kelebihannya cuek dengan hal-hal yang tidak membahagiakannya tak akan membuat ia terbeban oleh perasaan. Namun untuk orang yang mulai ia sayang nyatanya sulit juga berhenti untuk tak acuh dan selalu ingin acuh pada kekasihnya itu.
                “Sudah cukup! Apa lagi yang perlu dipertahankan?” Belanya dalam ketemanguannya sendiri
                Mungkin Lena terlalu dilahap kecewa karena perbuatan orang yang sering membuatnya belingsatan. Ya, mantan kekasihnya. Terkadang ia sendiri heran, mengapa apa-apa yang sudah menjadi mantan lebih indah dibandingkan ketika ia masih menjadi gandengan. Rasanya ia ingin mencubiti kulitnya sendiri supaya sadar bahwa ia tak hidup di dunia mimpi.
                “Untuk bulan Mei tahun ini, terima kasih.” Geregetannya sendiri.

                Mei yang selalu bertanggal ganjil pun kisahnya yang tak pernah dekil serta deretan tawa luka secuil-secuil. Lena masih menyicil kebahagiaannya kecil-kecil. Semoga langkah kehidupannya tak tersandung kecewa dan duka yang mengerikil.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik