Pertemuan
kita di awali di atas bukit sekolah yang aku kira sungguh gila. Tak semua
sekolah memang memiliki butkit yang indah seperti ini di tengah kota. Ini bukan
aneh, apalagi bukit ini sunyi. Tak banyak yang mengunjungi, padahal menurutku
ini tempat yang layak untuk dijadikan taman rekreasi. Aku tak mengerti mengapa
kita bisa bertemu di sini. Saat bukit ini diranggasi kemarau, ketika dedaunan
meranggas. Mungkin aku terbawa sepoi angin yang sejuk menuju puncak bukit ini.
Aku sengaja absen dari ekstrakurikuler piano hari ini. Mungkin aku cukup penat
dengan semuanya, ingin sendiri selain di perpustakaan yang sering menjadi
tempat ritualku menangisi kehidupan.
“Kau
akan tumbuh di sini dengan segar.”
Aku
mendengar suara sesorang seperti sedang berkebun. Kaki terus melangkah digiring
angin sejuk dari pegunungan seberang.
“Akan
kutunggu kau mekar di musim semi.”
Masih
langkahku sangat ringan menujumu. Meski tak kutahu bahwa yang kutuju adalah
kamu. Dari belakang, punggungmu terlihat amat tampan. Ah, tidak. Aku terlalu
berlebihan, mungkin punggungmu ini yang membuatku terlebih dulu jatuh cinta
daripada kau berbalik badan dan menyapaku dengan senyum ramah dibarengi sedikit
keterkejutan di sana.
“Hai,
kamu siswa di sekolah itu juga ya. Tumben ada yang ke bukit ini. Oia, aku Arka
murid kelas tiga. Kamu.....Da-i-ka.” Kau mengeja bedge nama yang terpampang di
saku kiriku. Kau nampak semakin heran saat menemukan bola mataku.
“Kamu
siswa baru? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” Aku hanya menggeleng menjawab
pertanyaanmu.
“Oia,
sini. Aku sedang menanam bunga. Aku akan menungguinya sampai mekar nanti.”
“Kau
akan menunggunya di sini?” Aku akhirnya buka suara, keheranan
Kau
tergelak. “Ya tidak selalu di sini, aku akan merawatnya. Sepulang sekolah aku
akan ke sini menyirami dan memberinya pupuk.”
“Kau
tidak takut di sini sendiri.”
“Di
sini tidak menakutkan, memang tak banyak orang mampir ke mari. Tapi kalau
orang-orang itu tahu betapa indahnya di atas bukit ini pasti sudah hilang
kekhidmatan sunyi di sini.”
Kemudian,
entah apa yang membawaku duduk di sampingmu. Memandang angkasa bersama awan
yang gemulung bagai gulali kapas kesukaanku. Kita merasakan sepoain angin
bersama, aku menutup mataku ketika angin menerpa. Aku merasa kau memandangiku
penuh tanya.
“Daika,
maukah kau membantuku merawat bunga itu sampai mekar?”
Aku
menatapnya, tak menolah juga tak mengiyakan. Tapi setelah itu aku sering
bersamanya, merawat tanaman bunga itu sepulang sekolah. Ada canda tawa pula
yang ia cipta. Aku merasa bahagia berada di sisinya. Kita tak pernah bercerita
tentang latar belakang masing-masing. Hanya membicarakan bukit ini, langit,
awan, dan bunga yang kau tanam. Bahkan sampai sekarang aku belum tahu itu bunga
apa. Tapi ia berwarna merah, sedang menguncup.
“Daika,
kau keturunan Cina?”
Aku
terkejut ketika Arka menanyakan itu padaku, aku menggeleng.
“Papaku
orang Jepang.”
Hanya
itu jawabanku.
“Daika,
suatu saat kau akan tahu bahwa bunga yang kita rawat bersama tak kalah indah
dengan sakura.”
Setelah
itu, keesokan harinya aku tak menemui Arka lagi. Aku cari ia dari ujung ruang
sekolah ke ujung lagi. Aku kebingungan mencarinya, di bukit pun ia tak lagi
singgah di sana. Aku merasa getir,
ketabahan kami berdua merawat bunga itu tiba-tiba menelan Arka tanpa
kutahu di mana. Hari ini aku bertekad menunggunya. Menunggu bunga itu rekah pula.
Dan
ketika bunga warna merah itu mekar sempurna, aku ingin memetiknya. Tapi jariku
berdarah tertusuk durinya. Bunga mawar ternyata. Kesabaran menanti Arka dan
rekahnya mawar merah hanya menghasilkan kenangan bahwa bunga itu bukan sakura.
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar