Rabu, 18 Juni 2014

Bukan Sakura

                Pertemuan kita di awali di atas bukit sekolah yang aku kira sungguh gila. Tak semua sekolah memang memiliki butkit yang indah seperti ini di tengah kota. Ini bukan aneh, apalagi bukit ini sunyi. Tak banyak yang mengunjungi, padahal menurutku ini tempat yang layak untuk dijadikan taman rekreasi. Aku tak mengerti mengapa kita bisa bertemu di sini. Saat bukit ini diranggasi kemarau, ketika dedaunan meranggas. Mungkin aku terbawa sepoi angin yang sejuk menuju puncak bukit ini. Aku sengaja absen dari ekstrakurikuler piano hari ini. Mungkin aku cukup penat dengan semuanya, ingin sendiri selain di perpustakaan yang sering menjadi tempat ritualku menangisi kehidupan.
                “Kau akan tumbuh di sini dengan segar.”
                Aku mendengar suara sesorang seperti sedang berkebun. Kaki terus melangkah digiring angin sejuk dari pegunungan seberang.
                “Akan kutunggu kau mekar di musim semi.”
                Masih langkahku sangat ringan menujumu. Meski tak kutahu bahwa yang kutuju adalah kamu. Dari belakang, punggungmu terlihat amat tampan. Ah, tidak. Aku terlalu berlebihan, mungkin punggungmu ini yang membuatku terlebih dulu jatuh cinta daripada kau berbalik badan dan menyapaku dengan senyum ramah dibarengi sedikit keterkejutan di sana.
                “Hai, kamu siswa di sekolah itu juga ya. Tumben ada yang ke bukit ini. Oia, aku Arka murid kelas tiga. Kamu.....Da-i-ka.” Kau mengeja bedge nama yang terpampang di saku kiriku. Kau nampak semakin heran saat menemukan bola mataku.
                “Kamu siswa baru? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaanmu.
                “Oia, sini. Aku sedang menanam bunga. Aku akan menungguinya sampai mekar nanti.”
                “Kau akan menunggunya di sini?” Aku akhirnya buka suara, keheranan
                Kau tergelak. “Ya tidak selalu di sini, aku akan merawatnya. Sepulang sekolah aku akan ke sini menyirami dan memberinya pupuk.”
                “Kau tidak takut di sini sendiri.”
                “Di sini tidak menakutkan, memang tak banyak orang mampir ke mari. Tapi kalau orang-orang itu tahu betapa indahnya di atas bukit ini pasti sudah hilang kekhidmatan sunyi di sini.”
                Kemudian, entah apa yang membawaku duduk di sampingmu. Memandang angkasa bersama awan yang gemulung bagai gulali kapas kesukaanku. Kita merasakan sepoain angin bersama, aku menutup mataku ketika angin menerpa. Aku merasa kau memandangiku penuh tanya.
                “Daika, maukah kau membantuku merawat bunga itu sampai mekar?”
                Aku menatapnya, tak menolah juga tak mengiyakan. Tapi setelah itu aku sering bersamanya, merawat tanaman bunga itu sepulang sekolah. Ada canda tawa pula yang ia cipta. Aku merasa bahagia berada di sisinya. Kita tak pernah bercerita tentang latar belakang masing-masing. Hanya membicarakan bukit ini, langit, awan, dan bunga yang kau tanam. Bahkan sampai sekarang aku belum tahu itu bunga apa. Tapi ia berwarna merah, sedang menguncup.
                “Daika, kau keturunan Cina?”
                Aku terkejut ketika Arka menanyakan itu padaku, aku menggeleng.
                “Papaku orang Jepang.”
                Hanya itu jawabanku.
                “Daika, suatu saat kau akan tahu bahwa bunga yang kita rawat bersama tak kalah indah dengan sakura.”
                Setelah itu, keesokan harinya aku tak menemui Arka lagi. Aku cari ia dari ujung ruang sekolah ke ujung lagi. Aku kebingungan mencarinya, di bukit pun ia tak lagi singgah di sana. Aku merasa getir,  ketabahan kami berdua merawat bunga itu tiba-tiba menelan Arka tanpa kutahu di mana. Hari ini aku bertekad menunggunya. Menunggu bunga itu rekah pula.

                Dan ketika bunga warna merah itu mekar sempurna, aku ingin memetiknya. Tapi jariku berdarah tertusuk durinya. Bunga mawar ternyata. Kesabaran menanti Arka dan rekahnya mawar merah hanya menghasilkan kenangan bahwa bunga itu bukan sakura.

By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik