Jumat, 06 Juni 2014

Merelakan dan Tabah

                Ketika kau menemui perpisahan pada kisah yang sebenarnya kau yakini penuh kaebagiaan, rasanya mustahil jika di antara hari-hari kebahagiaan itu kau tak memikirkan tentang kehilangan. Bukan memikirkan jika kau mengatakan tak ingin memikirkan apa-apa yang tidak membahagiakan, sekadar terbersit tentang kehilangan itu pasti. Tak perlu menyangkali tentang hal ini karena kau tak pasti percaya dengan ketidakabadian di dunia ini. Segala miliki masanya, tak terkecuali masa saat akhirnya kau harus melepaskan. Merelakan.
                Terkadang penghiburan diri sendiri melalui kalimat-kalimat motivasi yang gencar membuatmu bergairah hidup kembali. Padahal ketakutan akan kehilangan itu masih mengitari sekujur tubuhmu. Kehilangan mungkin hanya persoal kau tak mampu merelakan atau perihal waktu yang belum mampu membawa detik di mana bahagia kembali menyelimuti. Kemudian dengan terang-terangan kau menyesali segala keterlepasan yang kau pilih sendiri. Kau hanya menghindari agar tak tersakiti kembali jika terus bersama, kau hanya ingin mendapatkan yang lebih bahagia dari ini, padahal di sini saja sudah ada pemenuhan hati yang kosong meski tak semuanya mampu terpenuhi.
                Kau merasakan bahwa semesta sedang tak mendukungmu untuk bahagia atau kau merutuki ketidakadilan Tuhan. Tapi secepat kilat kau menyalahkan diri sendiri, sebab kau pun terlalu takut untuk membiarkan semesta terus-menurus tak mendukungmu jika tahu kau menyalahkannya. Apalagi Tuhan, pasti kau mengerti bahwa Tuhan tidak boleh disalahkan karena Dialah yang berhak atas dirimu. Menjatuhkanmu, menjungkirbalikkan keaadaanmu, kau tak boleh protes dan harus mensyukurinya. Di sinilah ketabahan yang pernah kau rangkai pada beberapa bait aksaramu koyak bahkan porak poranda. Tabah, tak semudah yang kau kira.
                        Tabah pada kehilangan, tabah pada kepedihan, tabah pada penantian. Yakinlah masih ada limpah ruah harapan. Harapan yang suatu saat menjadi kenyataan. Jika belum mampu menabahkan diri, sekiranya kau masih mampu belajar dan berusaha mewujudkan.

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik