Senin, 11 Mei 2015

Mei Datang Terlalu Dini



Aku belum mengemas ingin-ingin yang berserak di bulan keempat untuk bekal pada bulan kelima
Nampaknya tanggal-tanggal sedang berlari menjemput kumpulan angka lain di salah satu bulan ganjil, mungkin aku yang terlalu luput; entah oleh kesedihan atau kebahagiaan, atau bahkan aku tak sadar terhadap keduanya
Bulan April seperti tertelan purnama yang belum sempurna di langitku, pun mungkin di langit milikmu. Aku tak begitu tahu
Sebab aku, seseorang yang pasti tak punya daya apa-apa ketika harus dihadapkan dengan waktu—setelah kamu

Mungkin kalender lapuk di dinding yang mulai mengupas catnya sedang tak ingin berlama-lama menimang peringatan-peringatan di bulan ketiga
Aku jadi curiga jika akan ada petasan-petasan yang meledak di jantungku setelah April berlalu
Padahal aku, masih ingin memeluk lembar-lembar cerita tak tuntas di tiap garis angka
Mungkin kekhawatiran terlalu matang dalam dadaku, aku tak ingin menjemput Mei terburu.

Bolehkah aku menggelayut pada satu tanggal akhir di bulan April?
Bisakah waktu tak lekas-lekas menginjak angka satu di bulan Mei?
Ah, tapi ini sudah angka kesekiannya. Dan aku tetap yang tak punya daya apa-apa tentang waktu—setelah kamu

Harusnya, bulan kelima adalah bulan bahagia. Bulan di mana banyak doa diaminkan; semoga
Tapi bagiku, tahun ini…
ketika beberapa deratan tanggal merangkai nomor-nomor cantik
Hingga banyak sepasang asmara memilih naik pelaminan, hingga banyak hati meminangkan cintanya

Tapi bagiku,
Mei datang terlalu dini…
Namun aku, masih yang tak mampu punya kuasa untuk memungkiri silih-bergantinya hari-hari.


Surabaya, 05.05.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik