Nampaknya tanggal-tanggal sedang berlari menjemput kumpulan
angka lain di salah satu bulan ganjil, mungkin aku yang terlalu luput; entah oleh
kesedihan atau kebahagiaan, atau bahkan aku tak sadar terhadap keduanya
Bulan April seperti tertelan purnama yang belum sempurna di
langitku, pun mungkin di langit milikmu. Aku tak begitu tahu
Sebab aku, seseorang yang pasti tak punya daya apa-apa ketika
harus dihadapkan dengan waktu—setelah kamu
Mungkin kalender lapuk di dinding yang mulai mengupas catnya
sedang tak ingin berlama-lama menimang peringatan-peringatan di bulan ketiga
Aku jadi curiga jika akan ada petasan-petasan yang meledak
di jantungku setelah April berlalu
Padahal aku, masih ingin memeluk lembar-lembar cerita tak
tuntas di tiap garis angka
Mungkin kekhawatiran terlalu matang dalam dadaku, aku tak
ingin menjemput Mei terburu.
Bolehkah aku menggelayut pada satu tanggal akhir di bulan
April?
Bisakah waktu tak lekas-lekas menginjak angka satu di bulan
Mei?
Ah, tapi ini sudah angka kesekiannya. Dan aku tetap yang tak
punya daya apa-apa tentang waktu—setelah kamu
Harusnya, bulan kelima adalah bulan bahagia. Bulan di mana
banyak doa diaminkan; semoga
Tapi bagiku, tahun ini…
ketika beberapa deratan tanggal merangkai nomor-nomor cantik
Hingga banyak sepasang asmara memilih naik pelaminan, hingga
banyak hati meminangkan cintanya
Tapi bagiku,
Mei datang terlalu dini…
Namun aku, masih yang tak mampu punya kuasa untuk memungkiri
silih-bergantinya hari-hari.
Surabaya, 05.05.2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar