Rabu, 05 Agustus 2015

Bingkisan Bahagia Setelah Duka yang Sama


Sudah berapa air mata jatuh? 
Tapi dalam hati tetap saja kemarau  
Kering... 
Gersang…
                “Sebaiknya cukupkan saja sampai di sini, Din.” Katamu ketika tegukan terakhir di cangkirmu telah sampai pada mulutmu.
                “Apa yang harus dicukupkan, Za?” Tak ada tatapan yang lepas darimu, bagiku.
                “Kita.” Kau menjawab dengan tegas dan langkah kaki yang bergegas.

                Aku masih mengingat peristiwa di malam minggu bulan Juli itu sebagai perpisahan paling entah, paling tak kumengerti, paling menggantung hingga saat ini. Detik di mana tahun ketiga telah berlalu sejak kepergianmu dan musim semi di hatiku pensiun. Tiada lagi mampu perasaanku menerima hal-hal mengenai kebahagiaan jika disangkutpautkan dengan pasangan. Barangkali, aku mati rasa. Seharusnya waktu itu aku mencegah langkahmu pergi, sebentar saja untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi terhadap kita.

                “Nggak bosan melamun terus di sini?” Suara yang serak itu membuyarkan lamunanku untuk yang kesekian kalinya.
                “Hobi ya ngagetin aku kayak gini?” Rajukku.
          “Hobi ya bikin puisi tapi nggak pernah dikasih tahu ke aku?” Lalu kau merebut lembar kertasku dan membacanya. Aku berusaha mengambilnya namun tinggi badanku belum cukup menandingi tinggi badanmu.
                “Kamu masih aja mikirin kejadian waktu itu, Din?”
               “Aku belum bisa lupa, Ga. Cuma aku tahu kalau saat ini aku sudah lebih bahagia.” Jawabku dengan memandang matamu yang mulai kobar api cemburunya tapi dengan seketika berubah teduh ketika kau tahu bahwa aku tak pernah bisa berbohong tentang rasa sayangku kepadamu.
                “Aku belum bisa menggantikan dia ya, Din?”
                Aku meraih tanganmu, menggenggamnya. “Biarlah aku terus mengenang kakakmu sebagai hal yang indah tapi kau juga perlu tahu bahwa setelah Reza tenang di alam sana, kaulah yang mampu membuat segalaku lebih indah bahkan lebih membahagiakan dari semua yang pernah ada. Ga, aku mencintaimu, selalu.”
                Lalu kau memelukku, mungkin matamu mulai berkaca-kaca kembali. Pertemuan kita pada waktu duka dan rasa kehilangan yang sama telah membingkis sebuah kejutan yang menjadikan kehadiran satu sama lain mampu melipur lara. Terima kasih, Ga dan berbahagialah Za, di sana. Aku menyayangi kalian.


"Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik