Sudah berapa air mata jatuh?
Tapi dalam hati tetap saja kemarau
Kering...
Gersang…
“Sebaiknya cukupkan saja sampai
di sini, Din.” Katamu ketika tegukan terakhir di cangkirmu telah sampai pada
mulutmu.
“Apa yang harus dicukupkan, Za?”
Tak ada tatapan yang lepas darimu, bagiku.
“Kita.” Kau menjawab dengan
tegas dan langkah kaki yang bergegas.
Aku
masih mengingat peristiwa di malam minggu bulan Juli itu sebagai perpisahan
paling entah, paling tak kumengerti, paling menggantung hingga saat ini. Detik
di mana tahun ketiga telah berlalu sejak kepergianmu dan musim semi di hatiku
pensiun. Tiada lagi mampu perasaanku menerima hal-hal mengenai kebahagiaan jika
disangkutpautkan dengan pasangan. Barangkali, aku mati rasa. Seharusnya waktu
itu aku mencegah langkahmu pergi, sebentar saja untuk menanyakan apa sebenarnya
yang terjadi terhadap kita.
“Nggak
bosan melamun terus di sini?” Suara yang serak itu membuyarkan lamunanku untuk
yang kesekian kalinya.
“Hobi
ya ngagetin aku kayak gini?” Rajukku.
“Hobi
ya bikin puisi tapi nggak pernah dikasih tahu ke aku?” Lalu kau merebut lembar
kertasku dan membacanya. Aku berusaha mengambilnya namun tinggi badanku belum
cukup menandingi tinggi badanmu.
“Kamu
masih aja mikirin kejadian waktu itu, Din?”
“Aku
belum bisa lupa, Ga. Cuma aku tahu kalau saat ini aku sudah lebih bahagia.”
Jawabku dengan memandang matamu yang mulai kobar api cemburunya tapi dengan
seketika berubah teduh ketika kau tahu bahwa aku tak pernah bisa berbohong
tentang rasa sayangku kepadamu.
“Aku
belum bisa menggantikan dia ya, Din?”
Aku
meraih tanganmu, menggenggamnya. “Biarlah aku terus mengenang kakakmu sebagai
hal yang indah tapi kau juga perlu tahu bahwa setelah Reza tenang di alam sana,
kaulah yang mampu membuat segalaku lebih indah bahkan lebih membahagiakan dari
semua yang pernah ada. Ga, aku mencintaimu, selalu.”
Lalu
kau memelukku, mungkin matamu mulai berkaca-kaca kembali. Pertemuan kita pada
waktu duka dan rasa kehilangan yang sama telah membingkis sebuah kejutan yang
menjadikan kehadiran satu sama lain mampu melipur lara. Terima kasih, Ga dan berbahagialah
Za, di sana. Aku menyayangi kalian.
"Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar