Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2019

Kehilangan Diri Sendiri



Aku melihat diriku sendiri
bercermin
tapi tak menemukanku ada di sana

Dunia seperti hiruk pikuk yang asing
aku selalu tersesat dalam ramainya
merasa tak punya siapa-siapa
padahal diriku yang melarikan diri

Seolah-olah merasa paling sibuk
Padahal aku sendiri yang terjebak dalam kecamuk

Waktu tak lagi pernah lengang dalam genggaman
sehari seperti tak pernah cukup untuk menyelesaikan apapun
seminggu hanya sekedipan mata yang tak kulihat apa yang sebenarnya terlihat
satu persatu rasa cemas menumpuk
Memburuku yang napasnya tinggal satu satu

Orang-orang terdekat terasa jauh
tak lagi bisa kujangkau untuk direngkuh
Seseorang yang jauh pun hanya dekat sebagai kata-kata atau suara
semua itu tak melipurku dari kegelisahan

Andai ada satu hari saja
Tak bersandiwara saat tertawa 
menjadi bahagia seutuhnya
di sela-sela detik yang mencekik

meski sesungguhnya...
di hari ini 
Aku telah kehilangan diriku sendiri.


Sda, 22.10.2019

Selasa, 06 Agustus 2019

Perasaan yang Tak Semestinya


Aku menemukan potretmu bersamanya
Kau letakkan tanpa bingkai tapi aku tahu bahwa kisah di baliknya sudah begitu lama
Tak ada sedikit pun yang terbengkalai dari cintamu untuk dia 
Aku seperti orang asing yang menyaksikan dari kejauhan 
Tapi harapanku tak pernah menjadi asing, berharap menjadi yang kauingini harusnya tak masalah 

Perasaan ini tak akan mengganggu apapun perihalmu dan dia 
Hati ini pasti pendiam, telah terbiasa memendam dalam-dalam 
Tak punya suara dari bibir namun kata-kata telah mewakili dengan catatan yang getir 
Tak mungkin aku utarakan secara terang-terangan meski sebenarnya perasaan ini tak mau disembunyikan di kegelapan 

Mengapa harus dia yang lebih dulu mengenalmu?
Mengapa hatimu lebih dulu tertambat padanya?
Sedang aku selalu saja terlambat
atau memang begitulah keadaan yang takdir buat 
Kadang aku ingin tahu alasan semesta mengapa tak daridulu dipertemukan olehmu
Sehingga aku paham bahwa memang kau bukanlah porsi yang ditakarkan dalam hidupku 
Aku hanya dipaksa menerima kenyataan yang ada.

Perasaan ini memang tak semestinya namun aku tetap tak mau terima.

Sda, 20.00 

Minggu, 10 Februari 2019

Resensi Novel Bilangan Fu



Banyak hal menarik yang disajikan Ayu Utami dalam buku Bilangan Fu, setelah cetakan pertama tahun 2008 akhirnya cetakan kedua terbit pada 2018. Tepat sepuluh tahun, seperti melegakan beberapa pembacanya ketika hampir putus asa untuk mencari-cari ke mana buku ini bisa dibeli. Karena kebanyakan toko buku tak lagi memiliki stock buku tersebut. Layaknya harta karun yang ternyata memang sedang dipersiapkan ulang untuk menjadi lebih berkilauan. Bandingkan saja sampul buku Bilangan Fu cetakan pertama dan kedua, terlihat lebih segar sampul cetakan kedua dengan dominasi warna cokelat dan tampilan lambang berwarna biru yang mengilap. Tulisan judul dan nama penulisnya mengingatkan pada aksara Jawa "hanacaraka" yang memang diakui Ayu Utami bahwa berasal dari tulisan tangannya menggunakan gaya aksara Palawa dan Jawa. Meskipun sebenarnya di cetakan pertama sampul novel Bilangan Fu lebih mampu memberikan kesan yang magis. Namun kedua sampul tersebut tetap bisa mewakili isi cerita novel Bilangan Fu dan mampu membawa karakter kuat sang penulis Ayu Utami. Novel ini memiliki tiga garis besar bab yaitu modernisme, monoteisme, dan militerisme yang kemudian masing-masing memiliki judul sub-bab. Selain sampul buku, berikut hal-hal menarik yang ditulis secara epik dalam novel Bilangan Fu:

- Bilangan Satu yang Bukan 1

Kebanyakan dari kita mengetahui bilangan adalah persoal matematis, angka dari nol sampai sembilan kemudian membentuk angka-angka lain yang lebih besar atau lebih kecil. Namun, di dalam novel Bilangan Fu kita akan disuguhkan pemikiran bahwa tidak selamanya yang berbilang itu bisa dihitung. Tidak semua bilangan satu seperti dituliskan dengan simbol 1, apalagi jika dikaitkan dengan ketuhanan. Tuhan yang satu, Tuhan yang Esa. Ayu Utami mengajak kita untuk bersama-sama berpikir tentang agama, tentang merumuskan Tuhan itu satu. Namun bukan satu yang matematis, tetapi satu yang spiritualis. Lewat catatan-catatan dari tokoh Parang Jati, menelaah agama dari sudut pandang yang lebih kritis. Bahasan tentang bilangan satu ini diungkapkan pada salah satu bab Monoteisme dengan judul Antara Nol dan Satu (hlm. 322). 
Pertanyaannya sederhana: bagaimana "satu" itu dirumuskan? Bagaimana genealoginya? (hlm. 324)
Pertanyaan itu bisa ditemukan atau bahkan belum ditemukan jawabannya ketika kita telah membaca tuntas novel Bilangan Fu yang berjumlah 562 halaman ini. Namun, kita tak akan kecewa dengan cara Ayu Utami membawa pembaca untuk merenung tentang arti bilangan, Tuhan, dan keagamaan. Mungkin saja angka satu yang kita kenal selama ini tak akan pernah cukup hanya mencakup lambang 1. Bisa jadi satu adalah yang mewakili seluruh. 

-  Karakter Tokoh

Ayu Utami selalu kuat membentuk karakter-karakter tokoh dalam novel. Novel Bilangan Fu ini kebanyakan mengambil sudut dari tokoh Sandi Yuda dan sebagian besar mengungkap karakter Parang Jati. Tetapi karakter tokoh lain misalnya Marja, Suhubudi, Mbok Manyar, sampai Farisi/kupukupu tetap memiliki penjabaran watak yang sangat jelas. Lebih hebatnya lagi Ayu Utami berhasil membuat pembaca akan terkagum-kagum bagaimana jalan cerita kehidupan si tokoh dengan peristiwa-peristiwa yang mereka alami sehingga terbentuklah watak tokoh tersebut di masa kini cerita. Terutama pertentangan yang dialami oleh Farisi dan Parang Jati dari semasa mereka kecil. Sangat menarik untuk diikuti dan membuat penasaran. Seperti tercipta suatu biografi. Watak setiap tokoh terasa sangat manusiawi karena bisa berubah, misalnya saja Sandi Yuda yang sangat mengagungkan keperkasaan terpesona dengan kelembutan dari seorang Parang Jati si mata bidadari.  Ayu Utami juga menyisipkan unsur pewayangan dalam karakter tokoh, baik secara fisik maupun sifat. 

Si Penghulu adalah yang berada dalam cahaya dan ukuran wajar, dan merupakan satu-satunya sosok yang memiliki stilisasi.
Ia mengingatkan aku pada Semar. Seabagai badut, rakyat, dan abdi, ia bertubuh bulat pendek. Tapi ia juga penasihat nan hikmat.
(hlm. 96)
Tokoh-tokoh yang bukan utama seringkali memberikan gambaran yang tak sederhana dan Ayu Utami selalu mampu membuat para tokohnya terlihat penting.  Sehingga pembaca tak bisa meremehkan keturut-sertaan tiap tokoh dalam alur cerita. 

- Gambar dan Cuplikan Berita

Salah satu ciri khas novel-novel Ayu Utami adalah adanya gambar yang diselipkan di beberapa halaman. Peletakan gambar-gambarnya pun tak sembarangan, sehingga memperkuat jalan cerita yang sedang terjadi pada tiap bab novel. Hal ini seperti memudahkan pembaca untuk mengenali imajinasi cerita yang digambarkan dan barangkali juga sebagai penghibur kejenuhan saat membaca. Misalnya penggambaran pada silsilah keluarga Sultan Agung Mataram (hlm. 248). Digambarkan begitu menarik dengan ilustrasi yang sederhana tapi tetap mampu bercerita. 

Ayu Utami juga memberikan cuplikan-cuplikan berita yang mewakili tragedi dalam cerita. Seperti mengesankan bahwa novel ini bisa saja bukan fiksi tetapi ada bukti nyata bahwa peristiwa tersebut pernah terjadi dengan diselipkan beberapa cuplikan berita dari media cetak. Tak hanya itu, ada catatan tulisan tangan dari cuplikan berita tesebut meski hanya di beberapa saja. Namun itu menjadi daya tarik bagi pembaca untuk tak mengabaikan berita-berita tersebut. 

- Klan Saduki 

Seperti Yuda yang tak bisa semudah itu menerima "cacat ekstrim", mungkin ketika kita membaca cara Ayu Utami menuliskan klan Saduki akan membuat kita sedikit mual. Sirkus orang-orang Saduki ini seperti membawa nostalgia dengan rasa mistis sewaktu dulu di Indonesia begitu marak pertunjukan orang-orang aneh. Bilangan Fu selain berhasil menyuguhkan kemistisan dalam cerita-cerita mitos yang ada di bumi nusantara juga memberikan kesadaran bahawa memang masyarakat di Indonesia masih gemar dengan hal-hal yang mistis. Bahkan relevan sampai sekarang. Jika pembaca pernah membaca novel Ayu Utami yang lain yaitu Maya, maka akan menemukan sisi lain dari Klan Saduki yang lebih menakjubkan.

*****

Novel Seri Bilangan Fu ini jika dimiliki secara lengkap akan memuaskan pembaca tentang cerita-cerita sejarah yang kental dengan mistis. Namun, tetap membawa misinya yaitu spiritualisme kritis. Rasanya Ayu Utami selalu berhasil membawa misinya dengan khas dan menarik untuk pembaca.



catatan: 
ditulis selain dalam rangka untuk mengikuti lomba resensi novel Bilangan Fu,
juga karena sangat menggemari karya-karya Ayu Utami.
Dan "tersentil" oleh banyak hal setelah membaca novelnya.






Senin, 07 Januari 2019

Aku Pamit, Jika Kita Jadi Bertemu




Apabila jarak tidak ada, bisakah kita sedekat ini?

Bila tiada satu sapa, mungkinkah ada pesan singkat yang dikirimkan setiap hari?

Perkenalan selalu singkat, kesan mendalam yang sering melekat. Hingga tak bisa memungkiri ketertarikan meski sebatas rasa penasaran. Bertanya-tanya tentang apapapun mengenaimu, di kepalaku tanda tanya ingin dituntaskan melalui narasi yang dibubuhi berkali-kali tanda koma. Namun, pertanyaan akan jadi pisau, tajam ketika kita telah mengetahui jawaban-jawaban yang tak diinginkan. Lalu menyangkal bahwa jawaban yang didapat itu bukan yang benar dan terus saja berjalan dengan langkah gentar.

Waktu-waktu sangat luang, sebab beberapa hal yang dipunyai harus digenggam kehilangan. Di sanalah, kau hadir sebagai yang mengisi peluang bagi segala lengang di penjuru diriku. Bukan sekadar tentang kesepian, lebih dari itu. Ada kosong yang entah mengapa bisa sangat penuh atas keberadaanmu. Aku dilingkupi prasangka, diresahkan praduga, dan diriuhkan oleh banyak terka. Apakah benar itu dirimu yang sesungguhnya?

Kita masih jauh dan saling mendekatkan diri tak semudah itu. Aku masih ingin menjumpaimu dengan raga, saling bertatap muka. Bukan hanya melalui ruang pesan yang cukup diwakili oleh kata-kata. Sebab aku yakin, tentang kau dan aku tak pernah bisa sekadar diwakili oleh kalimat-kalimat yang mencipta kedekatan semu.

Yang bukan kenyataan memang sebagian besar memesona, sedang jujur saja aku tak ingin terjebak pada yang hanya maya. Aku tak akan menyalahkanmu yang telah berhasil mengambil hatiku hanya dengan pesan-pesan singkat waktu itu. Namun bila akhirnya kita bisa saling menjabat dan di waktu bersamaan terkaan-terkaanku tak salah. Maka:
“Aku pamit, jika kita jadi bertemu.”


Sda, 21.45

Sabtu, 05 Oktober 2013

Apresiasi Puisi (2)

                Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas salah satu perkuliahan favorit saya kembali yaitu Apresiasi Puisi. Bapak dosen yang seorang pujangga, Tengsoe Tjahjono memberikan intruksi pada kami di awal jam pertemuan dengan menulis kata penyair disertai kata kerja, semisal ‘penyair menyulam’, ‘penyair merindu’, dan lain sebagainya. Selain itu aturan mainnya kami tidak boleh berhenti menggoreskan pena, jika ingin berganti baris diperbolehkan, dan pak Tengsoe mengharamkan kami untuk berpikir dalam menulisnya. Alhasil beginilah puisi yang saya buat :

                Penyair memicingkan bait bagai menyingsingkan baju saat berperang
                Menenggelamkan kata di peraduan benci
                Penyair menggalah bilah-bilah dendam bagai embun yang menilap kabut
                Atau kabut yang menilap embun
                Entah...
                Penyair bergurau dengan kesedihan pagi ini
                Menyeruput secangkir sadis karena emosi
                Penyair memaki orang-orang di telaga sunyi
                Membisikkan angkara-angkara hati
                Ia benci...
                Penyair mengadu rintih pada subuh
                Paginya terusik digalah sendu
                Penyair berteriak, ia murka karena paginya diusik nestapa
                Inikah pagi penuh dusta?
Karya : Rena Kharisma

                Itulah puisi yang berhasil saya buat pada waktu lima menit dan masih sangat berantakan. Ternyata puisi dipengaruhi dengan suasana hati itu memang benar adanya, saat itu suasana hati saya sedang emosi karena salah satu teman sekelas mengusik dengan sindiran di status fbnya. Sebenarnya saya tak pernah mau peduli dengan orang-orang yang sukanya mencaci maki teman sendiri namun teman-teman dekat saya memberitahu bahwa memang segerombolan anak-anak itu memang senang cari gara-gara. Aneh, suka sekali menjatuhkan teman. Heran ada orang-orang yang seperti itu, nggak pernah suka jika temannya bahagia. Bengis.
                Ah, mengapa saya jadi membahas masalah tak penting tersebut. Semoga suatu saat nanti kebeneran akan terungkap siapa yang memang benar-benar busuk hatinya. Kembali pada pokok pembahasan Apresiasi Puisi. Setelah kami membuat puisi, pak Tengsoe meminta kawan-kawan yang ditunjuk (duduk pada bagian bangku paling depan) untuk membacakan puisinya. Kali ini saya tidak mendapat giliran membacakan puisi.
                Setelah itu beliau memberikan sedikit ulasan bahwa dalam membuat puisi layaknya harus memberikan ruang kosong bagi pembaca agar mereka dapat menafsirkan puisi yang penyair buat dengan persepsi masing-masing. Beliau sempat bercerita bahwa pernah membuat puisi tiga baris saja yang dibuat ketika melihat mahasiswa-mahasiswa menunggu dosennya bersandar di tembok dan tapak sepatunya membekas di permukaan tembok tersebut namun puisi beliau ditafsirkan macam-macam oleh pembacanya. Ada yang bilang tentang pelecehan, penjajahan, penindasan, dan lain-lain padahal hal sebenarnya sangat sepele sekali. Begini puisi singkat yang beliau buat :

                Tembok Putih
                Tapak Sepatu
                Membekas di wajahmu

                Sungguh mengagumkan. Pak Tengsoe berkata bahwa penyair tidak seperti garis lurus yang langsung sampai tujuan dalam merangkai puisi namun diputar-putarkan terlebih dahulu. Semakin tidak karuan semakin terlihat indah kata beliau. Pada tahap penafsiran puisi memang pembaca diharapkan untuk menginterpretasi ruang kosong yang diberikan penyair pada sajak-sajaknya sehingga menghasilkan makna pada puisi tersebut. Memang pada hakikatnya penafsiran ini selayaknya teori bandul jam, kita tak akan dapat menafsirkan puisi itu tepat pada titik tengah dimana bandul jam itu berhenti namun akan sangat mungkin melenceng ataupun mendekati.
                Pak Tengsoe berkata bahwa pada puisi anak yang sering tidak diberi ruang kosong sehingga memang sangat terpenuhi maknanya. Namun beliau memberikan beberapa puisi beliau yang dikemas untuk konsumsi anak-anak. Saya terkagum-kagum dengan puisi anak tersebut, sangat sederhana namun syarat akan makna. Kemudian beliau memberikan intruksi kepada kami untuk mengedit hasil puisi yang kami buat karena menurut Pak Tengsoe bahwa penyair pasti akan mengedit hasil puisinya. Saya sempat bingung apa yang perlu diedit dari puisi saya tadi, apakah boleh menambahkan kata, mengurangi atau menambahi diksinya? Pak Tengsoe berkata bahwa boleh jika memang harus ada yang ditambahi atau dihapus asal tidak mental jauh dari ibu puisinya dan tidak lupa harus diberikan judul perintah beliau. Alhasil beginilah jadinya puisi saya :
Angkara Pagi
Penyair memicingkan bait
Bagai menyingsingkan baju saat berperang
Menenggelamkan kata di peraduan benci
Penyair menggalah bilah-bilah dendam
Bagai embun yang menilap kabut atau kabut yang menilap embun
Entah...
Penyair bergurau dengan kesedihan
Menyeruput secangkir sadis, memaki orang-orang, membisikkan angkara-angkara hati
Ya, ini emosi...
Ia benci !
Mengadu rintih...
Pada subuh, pada sejuk, pada beluk
Penyair berteriak !
Penyair berseru !
Merobek pita suara
Ya, ia murka
Paginya diusik nestapa
Hujatan-hujatan getir dari orang tanpa nama
Yang sengaja mengorek luka
Ya, ia murka
Jangan sampai ia menyabit mulutmu yang durhaka
Melontarkan duka bahkan luka lewat kata
Ya, ia murka
Inikah pagi penuh dusta ?

Karya : Rena Kharisma

Rabu, 25 September 2013

Mata Kuliah Apresiasi Puisi

Kali ini saya akan memberikan pengalaman pertama saya memperoleh kuliah Apresiasi Puisi pada semester tiga. Pertemuan pertama dosen saya yang juga seorang penulis Pak Tengsoe Tjahjono. Apresiasi Puisi adalah mata kuliah yang paling saya tunggu-tunggu dalam semua mata kuliah yang akan saya dapatkan pada perkuliahan sastra.Beliau menjelaskan bahwa apresiasi puisi merupakan kegiatan 1.)Resepsi 2.)Produksi 3.)Perfomansi 4.)Dokumentasi. Pertemuan kedua perkuliahan Pak Tengsoe menyuruh saya dan kawan-kawa sekelas untuk menulis satu kata tentang puisi "Misalnya puisi adalah rindu, anda bikin sebanyak tiga baris." begitu instruksi dari beliau. Saya sangat antusias dan menuliskan satu kata tentang puisi sebanyak empat kata sekaligus padahal menurut saya puisi tak akan ada habisnya apalagi dibatasi dengan satu kata saja. Menurut saya puisi adalah :
  • Puisi adalah renung
  • Puisi adalah kenang
  • Puisi adalah angan
  • Puisi adalah diksi
Kemudian pak Tengsoe menunjuk beberapa kawan untuk membacakan satu kata sebanyak 3 baris itu bergantian. Tetapi saya tak mendapatkan giliran untuk membacakan. Lalu beliau memberikan satu instruksi lagi "Lanjutkan kalimat puisi adalah tersebut menjadi satu kalimat lagi yang lebih panjang." Saya melanjutkan empat kalimat saya tersebut menjadi seperti ini :

  • Puisi adalah renung dalam batas sepi
  • Puisi adalah renung dalam batas sepi
  • Puisi adalah angan di pucuk awang-awang
  • Puisi adalah diksi yang beradu pada memori
Pada giliran pembacaan ini pun saya tidak mendapat giliran padahal saya sudah menggebu-gebu ingin membacakannya. Pada instruksi selanjutnya beliau menginstruksikan untuk membuat puisi dengan awalan kalimat yang telah kami buat sebelumnya sehingga pada puisi kilat saya tercipta empat bait. Seperti inilah puisi saya yang tercipta selama lima belas menit :

CUMBU PUISI

Puisi adalah renung dalam batas sepi
Merongrong sunyi pada senja berelegi
Mengisahkan lara diri
Menyuratkan perih di bilik nurani

Puisi adalah kenang yang kadang penuh silang
Terkadang pula tergores centang
Tapi akulah yang berdalang

Puisi adalah angan di pucuk awang-awang
Bersiul-siul dalam rinai pikiran yang jalang
Berpesta cumbu pada cahaya nan gumilang

Puisi adalah diksi yang beradu pada memori
Meluapkan rintih penuh ironi
Berperang batin bersama mimpi
Berpeluk mesra padamu dambaan hati


Setelah puisi ini tercipta saya mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi berjudul "Cumbu Puisi" ini di depan kelas. Setelah itu Pak Tengsoe menjelaskan materi perkuliahan tentang batasan-batasan dalam berpuisi yang sesungguhnya sudah mulai mencair. Puisi adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan. Beliau mengatakan pada puisi tak hanya melulu pada pemilihan kata namun yang terpenting ada kepandaian menata kata yang sangat diperlukan. Meskipun kata-kata yang dipilih sangat sederhana dan biasa-biasa saja namun ketika kita pandai merangkainya maka terciptalah puisi yang indah.Pak Tengsoe juga menyatakan bahwa dalam teks puisi kata-kata yang digunakan harus berani.

By: Rena Kharisma

Selasa, 23 Juli 2013

Apresiasi Prosa Fiksi Pendekatan Psikologis pada Cerpen Waktu Nayla Karya Djenar Maesa Ayu


Data 1
Perubahan Sudut Pandang Terhadap Waktu

            Cerpen berjudul Waktu Nayla oleh PULPEN (Kumpulan Cerpen) ini berspesifik pada waktu. Awal cerita dikisahkan bahwa Nayla ingin memastikan waktu dengan melihat arlogi, jam di mobilnya, jam pada ponselnya, pada operator, dan pada segerombolan anak-anak muda. Hasil jawabannya pun sama yaitu pukul lima sore. Kemudian cerpen ini menyuguhkan penjabaran akan aktivitas Nayla sehari-hari, di masa lalu, juga yang akan ingin dia lakukan. Seakan-akan waktu terasa begitu sedikit untuk melakukan padatnya aktivitas dan keinginan yang ia lakukan, digambarkan Nayla kehabisan waktu. Ternyata waktu tersebut bagi Nayla terasa begitu sedikit karena ia khawatir akan waktu yang akan habis dengan usianya yang divonis dokter hanya tinggal satu tahun ke depan karena ia menderita penyakit kanker ganas pada ovariumnya.
            Saya menganalisis beberapa hal menarik dan menemukan satu hal yang paling menarik yaitu waktu terasa sedikit ketika Nayla divonis terjangkit penyakit. Darisitulah saya membuat judul apresiasi Perubahan Sudut Pandang Terhadap Waktu. Meskipun penjabaran tentang pemvonisan penyakit Nayla baru dijelaskan pada paragraf 15 namun sudah menunjukkan perubahan sudut pandang Nayla terhadap waktu. Saya menggunakan pendekatan psikologis karena sudut pandang yang berubah dipengaruhi oleh faktor-faktor, misalnya ketika seseorang merasa senang atau bahagia melakukan aktivitas yang membuat dia menikmatinya maka waktu akan terasa begitu cepat berlalu, namun saat seseorang merasa bahwa situasi yang ia alami tidak ia harapkan atau tidak ia inginkan maka waktu terasa begitu lambat berjalan. Saya yakin ini sudah sering terjadi pada semua orang dalam menjalani kehidupan.

Data 2

Paragraf 1
Nayla melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang.
Paragraf 7
Entah kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati.
Paragraf 15
Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan.
Paragraf 27
Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.

Jumat, 28 Juni 2013

Analisis Kecenderungan Kumpulan Puisi Koran Radar Surabaya Tanggal 1 Juli 2012

Kali ini saya akan membahas kumpulan puisi dari Nurul Ilmu El-Banna yang dimuat di koran Radar Surabaya pada tanggal 1 Juli 2012. Sebenarnya Puisi yang saya dan kawan-kawan satu kompeni saya analisa dari bulan Juli sampai bulan Desember 2012 sebagai tugas perkuliahan kami pada mata kuliah Sejarah Sastra. Namun saya hanya akan membahas satu terbitan saja. Semoga Bermanfaat :)

SAJAK-SAJAK NURUL ILMI EL-BANNA
Minggu, 1 Juli 2012

Retorika Air Mata
Barangkali hanya kata-kata yang dapat
aku tulis
Sebab penaku tak lagi mengerti tentang
nasip
Karena di keruh wajahmu tak dapat
kutafsir kembara ini
Begitu kacau seumpama langit telah
menggulung awan

Lalu,
Pada etika kau kembali
Bersama kata yang kau sebut syariat
Entah dimana akan kutemui rasa mengerti
Hanya gerimis air mata makin deras
mematuk pipi

Aku tak mengerti,,,,
Perasaan macam apa ini?
Cinta macam apa yang tengah kau
negosiasi?
Kau gadaikan air mataku pada retorika
kata – katamu yang basi
Aku tak akan pernah habis mengerti?
Pada sikapmu yang menelantarkan diri
05 Juni 2012

Jarak
Dikau langit biru
Sedang aku, bumi yang lusuh
Terbentang atmosfer memisah
Aku, ketidaksebandingan
Dejavu terang cakrawala di dahan
lembayung

Berhektar – hektar lahan membentang
Setinggi Himalaya dan luas samudra
Menjulang di tengadah tanganku
Tak pernah sampai menjulur gubukmu
Kau sempurna, sedang aku hina

Beruntung, Tuhanku sangat dekat di
nadiku
Daripada jarak yang membentang
Antara tinggi langitmu dan rendah bumiku

Tuhan, tidak pernah mencipta jarak
denganku

08 Juni 2012

Persimpangan Jalan
Kita telah lama berdiri disini
Mematung di tengan arus sungai
Mengalir ke hilir di belulang hari
Selepas drama ini, engkau pasti segera
berlari, kawan !
Tapi selalu, lupa mengajakku

Langit menutup seluruh pintu
Aku terkunci
Brikade sunyi terus siaga
Aku tolol di tekuk jalan buntu ini

Aku berlari ke segala penjuru
Mencari jejakmu, kawan
Sampai di persimpangan,maghrib
membuka mata

Kutapaki jalan berdebu
Masih lengang,,,
Engkau telah melesat jauh bagi ifrit
Sementara aku tertatih di terjal jalan
sulit

Kita selalu berpisah di persimpangan,
kawan!
Tanpa melambai tangan perpisahan

Kalaupun kini, aku tersesat jalan
Semoga badai cepat datang
Meniup tubuh ringkihku mengembara

Dunia kecil, 10 Januari 2012

Memburu Matahari
Siang menjadi kalap membakar daun-daun
Awan berlarian memburu matahari
Dunia lalu gelap, seakan hendak tamat

Pada tirus wajahmu kutemukan peta
Tapi nestapa kemudian menyita

Engkau, lari kedekapan awan bersama
debu-debu
kau bertanya hendak kemana diriku?
Kusebut saja, cepatlah, mungkin matahari
segera pamit
Membunuh usia siang yang malang


Friday, 11 May 2012

~Data Kumpulan Puisi 
Tgl.
JUDUL
PENGARANG
JENIS KELAMIN
KETERANGAN
01 Juli 2012
-Retorika Air Mata
-Jarak
-Persimpangan Jalan
-Memburu Matahari

Nurul Ilmi El - Banna
Perempuan
-Tinggal di Banuaju Timur, Sumenep
-Kumpulan Puisi dimuat di Antologi bersama 7 dalam memori Bilia (2011), Radar Surabaya, dll.
~Unsur Intrinsik 
Minggu, 1 Juli 2012
Puisi
Tema
Majas
Diksi
Amanat
Retorika Air Mata
Cinta dalam masa lalu 
personifikasi, asosiasi
Abstrak
Berikan kejelasan atas sesuatu kepada orang lain.
Jarak
Perbandingan aku dan kamu
paradoks
Konkret
Percaya bahwa serendah apapun status sosial manusia di dunia, Tuhan tetap dekat dengannya.
Persimpangan Jalan
Perpisahan
personifikasi, simbolik
Konkret
Jangan meninggalkan kawanmu berjuang sendirian, tetaplah temani/ bimbinglah dia dalam perjalanan.
Memburu Matahari
Tenggelamnya senja
personifikasi, hiperbola
Abstrak
Hargai waktu yang ada sebelum sang waktu meninggalkanmu.

~Analisis Kecenderungan

Pada kumpulan puisi Nurul Ilmi El - Banna di koran Kompas pada tanggal 1 Juli 2012 sering menggunakan majas personifikasi, seakan-akan pembaca sengaja dibawa pada pilihan-pilihan kata yang benar-benar bermakna. Nurul tidak menggunakan pilihan kata yang sulit jika dibandingkan dengan beberapa pengarang lainnya dan pilihan diksi yang ia sajikan seimbang yaitu antara Abstrak dan Konkret. Selain itu saya dapat mengamati bahwa tema dari puisinya lebih condong pada kisah yang pilu seperti perpisahan. Dalam puisinya Nurul seperti menujukan pada seseorang, jadi bukan dia sendiri yang menjadi sasaran dalam puisinya.

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik