Mungkin perasaan ini terlalu kentara
Seperti langit malam yang tak mampu menyembunyikan rinai hujan
yang datang tiba-tiba tanpa ada mendung sebelumnya, walau gelap tetap berwarna hitam.
Atau hati ini begitu tergesa
menafsir segala tentangmu sebagai cinta
bagai rintik gerimis di luar kaca jendela, yang berembun dengan sengaja tapi aku tak mampu mengusapnya
Percuma menyeka kecewa
Sia-sia aku menyangkal sedihnya
Sebab bagaimana pun dada ini selalu tak suka menahan sakit meski telah terbiasa
Waktu itu, barangkali aku terlalu main-main terhadap perasaanku sendiri
sehingga kini, harus bertanggung jawab atas rindu yang tak sepatutnya terjadi.
Aku tak akan menahan apa pun lagi, jika harus di antara kita yang pergi...
Maka, aku saja yang undur diri.
Tak sepantasnya aku menerima semua perhatianmu.
Apabila di dekatnya, kau adalah satu-satunya seseorang yang paling diharapkan.
Dan aku, tak mungkin setega itu merebut atau sengaja tak mau tahu atas kenyataan yang ada.
Jadi, sekali lagi...
Biar aku yang angkat kaki dari pergumulan rasa yang dari awal seharusnya memang tak perlu dihadirkan.
Aku hanya satu bulir hujan yang jatuh tanpa diketahui siapa-siapa.
Tak ada semoga atau doa-doa.
Aku akan rela dengan sedikit luka atau harapan semu yang sebegitu naifnya.
Hiduplah sebagaimana mestinya, seperti saat kau tak mengenal aku sedekat kata-kata yang pernah saling kita balaskan.
Sda, 29.04.2020

😭
BalasHapus