Analisis Kecenderungan Kumpulan Puisi Koran Radar Surabaya Tanggal 1 Juli 2012
Kali ini saya akan membahas kumpulan puisi dari Nurul Ilmu El-Banna yang dimuat di koran Radar Surabaya pada tanggal 1 Juli 2012. Sebenarnya Puisi yang saya dan kawan-kawan satu kompeni saya analisa dari bulan Juli sampai bulan Desember 2012 sebagai tugas perkuliahan kami pada mata kuliah Sejarah Sastra. Namun saya hanya akan membahas satu terbitan saja. Semoga Bermanfaat :)
Kali ini saya akan membahas kumpulan puisi dari Nurul Ilmu El-Banna yang dimuat di koran Radar Surabaya pada tanggal 1 Juli 2012. Sebenarnya Puisi yang saya dan kawan-kawan satu kompeni saya analisa dari bulan Juli sampai bulan Desember 2012 sebagai tugas perkuliahan kami pada mata kuliah Sejarah Sastra. Namun saya hanya akan membahas satu terbitan saja. Semoga Bermanfaat :)
SAJAK-SAJAK NURUL ILMI EL-BANNA
Minggu, 1 Juli 2012
Retorika
Air Mata
Barangkali hanya kata-kata yang dapat
aku tulis
Sebab penaku tak lagi mengerti tentang
nasip
Karena di keruh wajahmu tak dapat
kutafsir kembara ini
Begitu kacau seumpama langit telah
menggulung awan
Lalu,
Pada etika kau kembali
Bersama kata yang kau sebut syariat
Entah dimana akan kutemui rasa mengerti
Hanya gerimis air mata makin deras
mematuk pipi
Aku tak mengerti,,,,
Perasaan macam apa ini?
Cinta macam apa yang tengah kau
negosiasi?
Kau gadaikan air mataku pada retorika
kata – katamu yang basi
Aku tak akan pernah habis mengerti?
Pada sikapmu yang menelantarkan diri
05 Juni 2012
Jarak
Dikau langit biru
Sedang aku, bumi yang lusuh
Terbentang atmosfer memisah
Aku, ketidaksebandingan
Dejavu terang cakrawala di dahan
lembayung
Berhektar – hektar lahan membentang
Setinggi Himalaya dan luas samudra
Menjulang di tengadah tanganku
Tak pernah sampai menjulur gubukmu
Kau sempurna, sedang aku hina
Beruntung, Tuhanku sangat dekat di
nadiku
Daripada jarak yang membentang
Antara tinggi langitmu dan rendah bumiku
Tuhan, tidak pernah mencipta jarak
denganku
08 Juni 2012
Persimpangan Jalan
Kita telah lama berdiri disini
Mematung di tengan arus sungai
Mengalir ke hilir di belulang hari
Selepas drama ini, engkau pasti segera
berlari, kawan !
Tapi selalu, lupa mengajakku
Langit menutup seluruh pintu
Aku terkunci
Brikade sunyi terus siaga
Aku tolol di tekuk jalan buntu ini
Aku berlari ke segala penjuru
Mencari jejakmu, kawan
Sampai di persimpangan,maghrib
membuka mata
Kutapaki jalan berdebu
Masih lengang,,,
Engkau telah melesat jauh bagi ifrit
Sementara aku tertatih di terjal jalan
sulit
Kita selalu berpisah di persimpangan,
kawan!
Tanpa melambai tangan perpisahan
Kalaupun kini, aku tersesat jalan
Semoga badai cepat datang
Meniup tubuh ringkihku mengembara
Dunia kecil, 10 Januari 2012
Memburu
Matahari
Siang menjadi kalap membakar daun-daun
Awan berlarian memburu matahari
Dunia lalu gelap, seakan hendak tamat
Pada tirus wajahmu kutemukan peta
Tapi nestapa kemudian menyita
Engkau, lari kedekapan awan bersama
debu-debu
kau bertanya hendak kemana diriku?
Kusebut saja, cepatlah, mungkin matahari
segera pamit
Membunuh usia siang yang malang
Friday, 11 May 2012
~Data Kumpulan Puisi
Tgl.
|
JUDUL
|
PENGARANG
|
JENIS KELAMIN
|
KETERANGAN
|
01 Juli 2012
|
-Retorika Air Mata
-Jarak
-Persimpangan Jalan
-Memburu Matahari
|
Nurul Ilmi El - Banna
|
Perempuan
|
-Tinggal di Banuaju Timur, Sumenep
-Kumpulan Puisi dimuat di Antologi bersama 7 dalam memori Bilia
(2011), Radar Surabaya, dll.
|
~Unsur Intrinsik
Minggu, 1 Juli 2012
|
||||
Puisi
|
Tema
|
Majas
|
Diksi
|
Amanat
|
Retorika Air Mata
|
Cinta dalam masa lalu |
personifikasi,
asosiasi
|
Abstrak
|
Berikan kejelasan atas
sesuatu kepada orang lain.
|
Jarak
|
Perbandingan aku dan
kamu
|
paradoks
|
Konkret
|
Percaya bahwa serendah
apapun status sosial manusia di dunia, Tuhan tetap dekat dengannya.
|
Persimpangan Jalan
|
Perpisahan
|
personifikasi,
simbolik
|
Konkret
|
Jangan meninggalkan
kawanmu berjuang sendirian, tetaplah temani/ bimbinglah dia dalam perjalanan.
|
Memburu Matahari
|
Tenggelamnya senja
|
personifikasi,
hiperbola
|
Abstrak
|
Hargai waktu yang ada
sebelum sang waktu meninggalkanmu.
|
~Analisis Kecenderungan
Pada kumpulan puisi Nurul Ilmi El - Banna di koran Kompas pada tanggal 1 Juli 2012 sering menggunakan majas personifikasi, seakan-akan pembaca sengaja dibawa pada pilihan-pilihan kata yang benar-benar bermakna. Nurul tidak menggunakan pilihan kata yang sulit jika dibandingkan dengan beberapa pengarang lainnya dan pilihan diksi yang ia sajikan seimbang yaitu antara Abstrak dan Konkret. Selain itu saya dapat mengamati bahwa tema dari puisinya lebih condong pada kisah yang pilu seperti perpisahan. Dalam puisinya Nurul seperti menujukan pada seseorang, jadi bukan dia sendiri yang menjadi sasaran dalam puisinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar