Jumat, 28 Juni 2013

Analisis Kecenderungan Kumpulan Puisi Koran Radar Surabaya Tanggal 1 Juli 2012

Kali ini saya akan membahas kumpulan puisi dari Nurul Ilmu El-Banna yang dimuat di koran Radar Surabaya pada tanggal 1 Juli 2012. Sebenarnya Puisi yang saya dan kawan-kawan satu kompeni saya analisa dari bulan Juli sampai bulan Desember 2012 sebagai tugas perkuliahan kami pada mata kuliah Sejarah Sastra. Namun saya hanya akan membahas satu terbitan saja. Semoga Bermanfaat :)

SAJAK-SAJAK NURUL ILMI EL-BANNA
Minggu, 1 Juli 2012

Retorika Air Mata
Barangkali hanya kata-kata yang dapat
aku tulis
Sebab penaku tak lagi mengerti tentang
nasip
Karena di keruh wajahmu tak dapat
kutafsir kembara ini
Begitu kacau seumpama langit telah
menggulung awan

Lalu,
Pada etika kau kembali
Bersama kata yang kau sebut syariat
Entah dimana akan kutemui rasa mengerti
Hanya gerimis air mata makin deras
mematuk pipi

Aku tak mengerti,,,,
Perasaan macam apa ini?
Cinta macam apa yang tengah kau
negosiasi?
Kau gadaikan air mataku pada retorika
kata – katamu yang basi
Aku tak akan pernah habis mengerti?
Pada sikapmu yang menelantarkan diri
05 Juni 2012

Jarak
Dikau langit biru
Sedang aku, bumi yang lusuh
Terbentang atmosfer memisah
Aku, ketidaksebandingan
Dejavu terang cakrawala di dahan
lembayung

Berhektar – hektar lahan membentang
Setinggi Himalaya dan luas samudra
Menjulang di tengadah tanganku
Tak pernah sampai menjulur gubukmu
Kau sempurna, sedang aku hina

Beruntung, Tuhanku sangat dekat di
nadiku
Daripada jarak yang membentang
Antara tinggi langitmu dan rendah bumiku

Tuhan, tidak pernah mencipta jarak
denganku

08 Juni 2012

Persimpangan Jalan
Kita telah lama berdiri disini
Mematung di tengan arus sungai
Mengalir ke hilir di belulang hari
Selepas drama ini, engkau pasti segera
berlari, kawan !
Tapi selalu, lupa mengajakku

Langit menutup seluruh pintu
Aku terkunci
Brikade sunyi terus siaga
Aku tolol di tekuk jalan buntu ini

Aku berlari ke segala penjuru
Mencari jejakmu, kawan
Sampai di persimpangan,maghrib
membuka mata

Kutapaki jalan berdebu
Masih lengang,,,
Engkau telah melesat jauh bagi ifrit
Sementara aku tertatih di terjal jalan
sulit

Kita selalu berpisah di persimpangan,
kawan!
Tanpa melambai tangan perpisahan

Kalaupun kini, aku tersesat jalan
Semoga badai cepat datang
Meniup tubuh ringkihku mengembara

Dunia kecil, 10 Januari 2012

Memburu Matahari
Siang menjadi kalap membakar daun-daun
Awan berlarian memburu matahari
Dunia lalu gelap, seakan hendak tamat

Pada tirus wajahmu kutemukan peta
Tapi nestapa kemudian menyita

Engkau, lari kedekapan awan bersama
debu-debu
kau bertanya hendak kemana diriku?
Kusebut saja, cepatlah, mungkin matahari
segera pamit
Membunuh usia siang yang malang


Friday, 11 May 2012

~Data Kumpulan Puisi 
Tgl.
JUDUL
PENGARANG
JENIS KELAMIN
KETERANGAN
01 Juli 2012
-Retorika Air Mata
-Jarak
-Persimpangan Jalan
-Memburu Matahari

Nurul Ilmi El - Banna
Perempuan
-Tinggal di Banuaju Timur, Sumenep
-Kumpulan Puisi dimuat di Antologi bersama 7 dalam memori Bilia (2011), Radar Surabaya, dll.
~Unsur Intrinsik 
Minggu, 1 Juli 2012
Puisi
Tema
Majas
Diksi
Amanat
Retorika Air Mata
Cinta dalam masa lalu 
personifikasi, asosiasi
Abstrak
Berikan kejelasan atas sesuatu kepada orang lain.
Jarak
Perbandingan aku dan kamu
paradoks
Konkret
Percaya bahwa serendah apapun status sosial manusia di dunia, Tuhan tetap dekat dengannya.
Persimpangan Jalan
Perpisahan
personifikasi, simbolik
Konkret
Jangan meninggalkan kawanmu berjuang sendirian, tetaplah temani/ bimbinglah dia dalam perjalanan.
Memburu Matahari
Tenggelamnya senja
personifikasi, hiperbola
Abstrak
Hargai waktu yang ada sebelum sang waktu meninggalkanmu.

~Analisis Kecenderungan

Pada kumpulan puisi Nurul Ilmi El - Banna di koran Kompas pada tanggal 1 Juli 2012 sering menggunakan majas personifikasi, seakan-akan pembaca sengaja dibawa pada pilihan-pilihan kata yang benar-benar bermakna. Nurul tidak menggunakan pilihan kata yang sulit jika dibandingkan dengan beberapa pengarang lainnya dan pilihan diksi yang ia sajikan seimbang yaitu antara Abstrak dan Konkret. Selain itu saya dapat mengamati bahwa tema dari puisinya lebih condong pada kisah yang pilu seperti perpisahan. Dalam puisinya Nurul seperti menujukan pada seseorang, jadi bukan dia sendiri yang menjadi sasaran dalam puisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik