Perubahan
Sudut Pandang Terhadap Waktu
Cerpen berjudul Waktu Nayla oleh
PULPEN (Kumpulan Cerpen) ini berspesifik pada waktu. Awal cerita dikisahkan
bahwa Nayla ingin memastikan waktu dengan melihat arlogi, jam di mobilnya, jam
pada ponselnya, pada operator, dan pada segerombolan anak-anak muda. Hasil
jawabannya pun sama yaitu pukul lima sore. Kemudian cerpen ini menyuguhkan
penjabaran akan aktivitas Nayla sehari-hari, di masa lalu, juga yang akan ingin
dia lakukan. Seakan-akan waktu terasa begitu sedikit untuk melakukan padatnya
aktivitas dan keinginan yang ia lakukan, digambarkan Nayla kehabisan waktu.
Ternyata waktu tersebut bagi Nayla terasa begitu sedikit karena ia khawatir
akan waktu yang akan habis dengan usianya yang divonis dokter hanya tinggal
satu tahun ke depan karena ia menderita penyakit kanker ganas pada ovariumnya.
Saya menganalisis beberapa hal
menarik dan menemukan satu hal yang paling menarik yaitu waktu terasa sedikit
ketika Nayla divonis terjangkit penyakit. Darisitulah saya membuat judul
apresiasi Perubahan Sudut Pandang Terhadap Waktu. Meskipun penjabaran tentang
pemvonisan penyakit Nayla baru dijelaskan pada paragraf 15 namun sudah
menunjukkan perubahan sudut pandang Nayla terhadap waktu. Saya menggunakan
pendekatan psikologis karena sudut pandang yang berubah dipengaruhi oleh
faktor-faktor, misalnya ketika seseorang merasa senang atau bahagia melakukan
aktivitas yang membuat dia menikmatinya maka waktu akan terasa begitu cepat berlalu,
namun saat seseorang merasa bahwa situasi yang ia alami tidak ia harapkan atau
tidak ia inginkan maka waktu terasa begitu lambat berjalan. Saya yakin ini
sudah sering terjadi pada semua orang dalam menjalani kehidupan.
Data
2
Paragraf
1
Nayla melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima
petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi
muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan.
Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa
jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam
lima petang.
Paragraf 7
Entah kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat
dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai
dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang
sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan
mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh
tiba-tiba muncul dengan sebilah belati.
Paragraf 15
Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi
mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara
ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung.
Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum
panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam.
Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan
bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu,
adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan
bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama
dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh.
Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh
hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan.
Paragraf 27
Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu
kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali
tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil
sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar