Selasa, 23 Juli 2013

Apresiasi Prosa Fiksi Pendekatan Psikologis pada Cerpen Waktu Nayla Karya Djenar Maesa Ayu


Data 1
Perubahan Sudut Pandang Terhadap Waktu

            Cerpen berjudul Waktu Nayla oleh PULPEN (Kumpulan Cerpen) ini berspesifik pada waktu. Awal cerita dikisahkan bahwa Nayla ingin memastikan waktu dengan melihat arlogi, jam di mobilnya, jam pada ponselnya, pada operator, dan pada segerombolan anak-anak muda. Hasil jawabannya pun sama yaitu pukul lima sore. Kemudian cerpen ini menyuguhkan penjabaran akan aktivitas Nayla sehari-hari, di masa lalu, juga yang akan ingin dia lakukan. Seakan-akan waktu terasa begitu sedikit untuk melakukan padatnya aktivitas dan keinginan yang ia lakukan, digambarkan Nayla kehabisan waktu. Ternyata waktu tersebut bagi Nayla terasa begitu sedikit karena ia khawatir akan waktu yang akan habis dengan usianya yang divonis dokter hanya tinggal satu tahun ke depan karena ia menderita penyakit kanker ganas pada ovariumnya.
            Saya menganalisis beberapa hal menarik dan menemukan satu hal yang paling menarik yaitu waktu terasa sedikit ketika Nayla divonis terjangkit penyakit. Darisitulah saya membuat judul apresiasi Perubahan Sudut Pandang Terhadap Waktu. Meskipun penjabaran tentang pemvonisan penyakit Nayla baru dijelaskan pada paragraf 15 namun sudah menunjukkan perubahan sudut pandang Nayla terhadap waktu. Saya menggunakan pendekatan psikologis karena sudut pandang yang berubah dipengaruhi oleh faktor-faktor, misalnya ketika seseorang merasa senang atau bahagia melakukan aktivitas yang membuat dia menikmatinya maka waktu akan terasa begitu cepat berlalu, namun saat seseorang merasa bahwa situasi yang ia alami tidak ia harapkan atau tidak ia inginkan maka waktu terasa begitu lambat berjalan. Saya yakin ini sudah sering terjadi pada semua orang dalam menjalani kehidupan.

Data 2

Paragraf 1
Nayla melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang.
Paragraf 7
Entah kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati.
Paragraf 15
Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan.
Paragraf 27
Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik