#6 Ikhlas
Kata Ayah
Aku
baru saja memarkirkan sepeda motorku di garasi rumah, Ku tengok ruang tamu
ternyata sudah ada ayah dan ibu. Ayah masih menggunakan seragam dinasnya,
rupanya beliau baru saja pulang dari kantor. Aku membawa barang-barangku yang
ku bawa dari kosan ke kursi yang ada di teras, tanpa bergegas masuk ke rumah
aku duduk saja di kursi sebelahnya. Rasanya lelah malam-malam begini mengukur
jalanan dari Surabaya ke Sidoarjo.
“Sudah
pulang mbak? Capek ya?” Ibu menghampiriku dan duduk di sebelah kursiku. “Ya lumayanlah
bu.” Aku melucuti jaket dan sarung tanganku. “Besok libur mbak?” Ayah ikut
nimbrung di teras dan duduk di kursi tepat di depanku. “Iya yah, tapi nanti
balik lagi ke kampus nunggu jadwal rapat simulasi ospeknya.” Ayah hanya beroh
oh saja.
Entah
darimana arah pembicaraan dimulai kami bertiga mengoceh sana-sini, rasanya
diantara kita bertiga lelah sudah sirna. Ayah yang masih lengkap memakai baju
dinas hanya tak bersepatu masih betah duduk dan berbincang bersama aku dan ibu.
Tiba-tiba pembicaraan beralih ke masalah percintaan dan membahas tentang mantan
pacarku yang sudah bertahun-tahun dijalin akhirnya kandas juga bak hubungan
rumah tangga saja ya kalau memakai istilah kandas. “Ya masih inget kan mbak,
dulu sebelum kamu putus sama Faiz ibu bermimpi kalau liontinmu itu putus?” Ibu
terlihat menerawang mencari mimpi yang ia maksudkan. “Ibu mah, nggak bilang
sama aku dari awal kalau pernah bermimpi seperti itu sebelum aku putus. Kalau
udah ada firasatnya gitu kan aku bisa siap-siap nggak sampai patah hati kronis.”
Aku cemberut mengingat kisah lampau itu. “Ya sudahlah mbak, nggak usah
diinget-inget lagi toh Allah juga sudah mengatur dan menyiapkan jodoh buat
kamu.” Ibu menenangkan aku. “Kalau jodoh sudah diatur mengapa ada yang sampai
bercerai hayo?Berarti jodoh itu bisa ganti-ganti ya?” Aku masih dongkol saja
namun pertanyaan itu memang sering muncul dalam benakku. Aku dan ibu mulai
berdebat hingga akhinya ibu menyerah “Ya sudah tanyakan sama ayahmu tuh.” Ibu
menunjuk ayah yang santai-santai saja mendengar celotehan kami.
“Yah,
gimana?” Nada bicaraku seakan menagih bak rentenir. “Siapa yang bilang Tuhan
sudah mengatur semuanya?” Ayah menjawabnya dengan santai, aku dan ibu yang
mendengar perkataan ayah langsung melongo. “Tuhan tidak mengatur kehidupan kita
tapi Dia sudah memerdekakan kita, membebaskan bagaimana kita hidup. Tuhan tidak
hanya mengawasi kehidupan manusia saja, makhluk di jagad raya ini bukan hanya
manusia. Tinggal bagaimana kita yang diberi akal sama Tuhan untuk mampu
memanfaatkannya. Manusia itu hanya seperti setitik noda yang bahkan tak terlihat
di jagad raya ini. Bukan cuman bumi,tata surya,langit ke tujuh yang hanya kita
ketahui saat ini, masih banyak bagian-bagian lain dalam kekuasaannya.”Ayah
berceramah bak kiai handal “Lalu yah?” Aku masih menyimak perkataan ayah.
Ayah
berceloteh panjang lebar, memberikan wejangan dan pandangannya tentang Tuhan.
Ayah memberikan pendapat bahwa sekarang banyak manusia yang seakan-akan dirinya
lah yang paling benar, disini ayah tegas menekankan bahwa para ulama,kiai,dan
ahli agama sekalipun juga banyak yang merasa dakwah yang mereka ajarkan paling
benar. Ayah juga berkata, “Sebenarnya agama itu hanya politik yang dibuat
manusia.” Lalu aku bertanya pada ayah,” Bukannya ada salah satu ayat di kitab
suci Al-quran yang mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah,
itu bagaimana yah?” “Memang benar manusia diciptakan untuk beribadah tapi
kebanyakan manusia beribadah pasti ada tetek bengeknya. Terkadang mereka
beribadah itu karena takut karena meminta ini dan itu.” “Loh, berarti kita
nggak boleh meminta sesuatu dong sama Tuhan?” Tanyaku heran. “Tidak salah jika
kamu meminta sesuatu pada Tuhan tapi permintaanmu itu digunakan untuk dapat
bermanfaat bagi kehidupan, permintaanmu itu kau guanakan untuk dapat kembali
lagi pada Tuhan dalam hal ini bisa dikatakan beribadah pada Tuhan.” Kemudian
ayah juga pernah berkata bahwa kita sekarang ini adalah manusia pilihan,manusia
saringan dari zaman Nabi Nuh yang dulu pernah diluluh lantakkan.
Perbincangan
semakin nggelambyar kemana-mana tapi tetap membahas satu topik yaitu Tuhan.
Hingga ibu yang mendengarkan sampai tertidur di kursi. Ayah berkisah juga bahwa
Tuhan itu tidak ada yang menyamai jadi akal manusia terkadang tak bisa menggapainya.
Pada kelelahanku yang tak tertahan aku bertanya pada ayah “Lalu bagaimana kita
berbuat sebagai manusia ciptaan manusia yah.” Ayah menatap mataku dalam “Inti
dari semua di kehidupan ini adalah ikhlas karena pada akhirnya diri sendirilah
yang mempertanggung jawabkan semuanya.”
by : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar