Senin, 15 Juli 2013

Cuplikan Bincang

#6 Ikhlas
Kata Ayah

                Aku baru saja memarkirkan sepeda motorku di garasi rumah, Ku tengok ruang tamu ternyata sudah ada ayah dan ibu. Ayah masih menggunakan seragam dinasnya, rupanya beliau baru saja pulang dari kantor. Aku membawa barang-barangku yang ku bawa dari kosan ke kursi yang ada di teras, tanpa bergegas masuk ke rumah aku duduk saja di kursi sebelahnya. Rasanya lelah malam-malam begini mengukur jalanan dari Surabaya ke Sidoarjo.
            “Sudah pulang mbak? Capek ya?” Ibu menghampiriku dan duduk di sebelah kursiku. “Ya lumayanlah bu.” Aku melucuti jaket dan sarung tanganku. “Besok libur mbak?” Ayah ikut nimbrung di teras dan duduk di kursi tepat di depanku. “Iya yah, tapi nanti balik lagi ke kampus nunggu jadwal rapat simulasi ospeknya.” Ayah hanya beroh oh saja.
                Entah darimana arah pembicaraan dimulai kami bertiga mengoceh sana-sini, rasanya diantara kita bertiga lelah sudah sirna. Ayah yang masih lengkap memakai baju dinas hanya tak bersepatu masih betah duduk dan berbincang bersama aku dan ibu. Tiba-tiba pembicaraan beralih ke masalah percintaan dan membahas tentang mantan pacarku yang sudah bertahun-tahun dijalin akhirnya kandas juga bak hubungan rumah tangga saja ya kalau memakai istilah kandas. “Ya masih inget kan mbak, dulu sebelum kamu putus sama Faiz ibu bermimpi kalau liontinmu itu putus?” Ibu terlihat menerawang mencari mimpi yang ia maksudkan. “Ibu mah, nggak bilang sama aku dari awal kalau pernah bermimpi seperti itu sebelum aku putus. Kalau udah ada firasatnya gitu kan aku bisa siap-siap nggak sampai patah hati kronis.” Aku cemberut mengingat kisah lampau itu. “Ya sudahlah mbak, nggak usah diinget-inget lagi toh Allah juga sudah mengatur dan menyiapkan jodoh buat kamu.” Ibu menenangkan aku. “Kalau jodoh sudah diatur mengapa ada yang sampai bercerai hayo?Berarti jodoh itu bisa ganti-ganti ya?” Aku masih dongkol saja namun pertanyaan itu memang sering muncul dalam benakku. Aku dan ibu mulai berdebat hingga akhinya ibu menyerah “Ya sudah tanyakan sama ayahmu tuh.” Ibu menunjuk ayah yang santai-santai saja mendengar celotehan kami.
                “Yah, gimana?” Nada bicaraku seakan menagih bak rentenir. “Siapa yang bilang Tuhan sudah mengatur semuanya?” Ayah menjawabnya dengan santai, aku dan ibu yang mendengar perkataan ayah langsung melongo. “Tuhan tidak mengatur kehidupan kita tapi Dia sudah memerdekakan kita, membebaskan bagaimana kita hidup. Tuhan tidak hanya mengawasi kehidupan manusia saja, makhluk di jagad raya ini bukan hanya manusia. Tinggal bagaimana kita yang diberi akal sama Tuhan untuk mampu memanfaatkannya. Manusia itu hanya seperti setitik noda yang bahkan tak terlihat di jagad raya ini. Bukan cuman bumi,tata surya,langit ke tujuh yang hanya kita ketahui saat ini, masih banyak bagian-bagian lain dalam kekuasaannya.”Ayah berceramah bak kiai handal “Lalu yah?” Aku masih menyimak perkataan ayah.
                Ayah berceloteh panjang lebar, memberikan wejangan dan pandangannya tentang Tuhan. Ayah memberikan pendapat bahwa sekarang banyak manusia yang seakan-akan dirinya lah yang paling benar, disini ayah tegas menekankan bahwa para ulama,kiai,dan ahli agama sekalipun juga banyak yang merasa dakwah yang mereka ajarkan paling benar. Ayah juga berkata, “Sebenarnya agama itu hanya politik yang dibuat manusia.” Lalu aku bertanya pada ayah,” Bukannya ada salah satu ayat di kitab suci Al-quran yang mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah, itu bagaimana yah?” “Memang benar manusia diciptakan untuk beribadah tapi kebanyakan manusia beribadah pasti ada tetek bengeknya. Terkadang mereka beribadah itu karena takut karena meminta ini dan itu.” “Loh, berarti kita nggak boleh meminta sesuatu dong sama Tuhan?” Tanyaku heran. “Tidak salah jika kamu meminta sesuatu pada Tuhan tapi permintaanmu itu digunakan untuk dapat bermanfaat bagi kehidupan, permintaanmu itu kau guanakan untuk dapat kembali lagi pada Tuhan dalam hal ini bisa dikatakan beribadah pada Tuhan.” Kemudian ayah juga pernah berkata bahwa kita sekarang ini adalah manusia pilihan,manusia saringan dari zaman Nabi Nuh yang dulu pernah diluluh lantakkan.

                Perbincangan semakin nggelambyar kemana-mana tapi tetap membahas satu topik yaitu Tuhan. Hingga ibu yang mendengarkan sampai tertidur di kursi. Ayah berkisah juga bahwa Tuhan itu tidak ada yang menyamai jadi akal manusia terkadang tak bisa menggapainya. Pada kelelahanku yang tak tertahan aku bertanya pada ayah “Lalu bagaimana kita berbuat sebagai manusia ciptaan manusia yah.” Ayah menatap mataku dalam “Inti dari semua di kehidupan ini adalah ikhlas karena pada akhirnya diri sendirilah yang mempertanggung jawabkan semuanya.” 

                                                                      by : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik