Tampilkan postingan dengan label #ngabubuwrite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ngabubuwrite. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Apa yang Kau Harapkan ?

#Puisi Akrostik



Angket-angket penasaranku telah bertumpuk
Pasang surut tanyaku semakin akut
Aku takut jati-jati jawabannya segera lapuk

Ya, aku sedang bergelut dengan hampa sampai tertatih !
Angkuh kesendirian ini menohok ulu hatiku perih
Namun semuanya masih penuh dengan misteri
Gardu-gardu hati juga masih sunyi

Kerapuhan diriku bersemayam dengan pulas
Aura diriku sudah luas tak berbatas
Untuk penjara rasa yang ingin bebas

Haluan rasaku kini berkutub padamu
Apakah kau pun juga begitu ?
Rinai traumatik masih menggelitik
Aku hanya bisa diam tak berkutik
Pantaskah aku menjadi sandaranmu atas cinta ?
Kaku hatiku masih saja belum sirna
Apa yang kau harapkan dariku ?
Noktah batinku masih kelu serta pilu 

By : Rena Kharisma

Rabu, 31 Juli 2013

Sajak At

#Terlambat #ngabubuwrite

Ini rasa mulai tersemat
Sorot mataku berkilat-kilat
Walau genggam belum pernah berjabat
Namun hati terlanjur terlibat
Akar cinta menjalar merambat
Lalu mencoba menjerat
Rasa tertarikku yang kian teramat
Tak ingin terlepas biar saja membebat
Karena cuplikan masa depan juga mulai berkelebat
Hingga aku dan kamu laksanakan aturan kasih tulus dengan taat
Meski cinta ikhlasku belum berbakat
Ajari aku bagaimana cara mencintai tanpa debat
Ajarkan pula doa-doa kasih nan damai terpanjat 
Menorehkan kisah manis tanpa ada rasa sepat
Kemudian kita kirimkan surat
Pada para malaikat
Agar cinta kita didoakan tak akan pernah tamat
Jadi segeralah melumat
Kasihku yang mulai tertambat
Jangan biarkan ia terlambat
Gencarkan cintamu mendekat
Rapatkan barisan rasamu padaku hingga kuat


by : Rena Kharisma

Selasa, 30 Juli 2013

Raut Wajah

#Wajah #Ngabubuwrite

#Puisi Akrostik

Rias keanggunan terpancar menyejukkan
Angkara sirna ditelan kerutan
Urat-urat senyuman tersungging mengagumkan
Telaah warna aura nan menyenangkan

Waktu tak akan mau berdetak cepat
Andai pesonamu selalu tersirat
Jangan biarkan ia memucat
Adalah beda yang akan tergurat
Hanya wajahmu yang mampu membuatku terpikat


By : Rena Kharisma

Sabtu, 27 Juli 2013

Riang

#Riang

Langit Amat Indah

Ah,angin bersepoi sangat sejuk. Udaranya tak terlalu dingin disini dan aku bisa merasakan oksigen yang berjuta-juta partikelnya merasuki pembuluh-pembuluh darahku. Oh,indahnya disini. Sepanjang jalan aku tersenyum juga menghirup napas dalam berkali-kali lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan, di setiap akhir hembusan napasku selalu ku akhiri dengan kata “haaaahhh...” menandakan aliran udaraku sangat melegakan. Di samping kiri kananku terhampar karpet hijau yang hidup, indahnya. Aku berdiri di belakang boncengan temanku, sepeda motorku berpacu dengan santai. Lantunan mp3 player dari handphoneku berdendang ceria, sebuah lagu dari Rita Sita Dewi berulang-ulang ku putar.

“Sejauh batas anganmu
Apa yang  kau cari
Telah kau miliki
Bersamamu tanpa ku sadari
Ku yakin hujan kan berhenti
Terpana indahnya mentari
Kita yang menari
Berlagu misteri
Yang tersingkap
Tanpa tersadari
Yang ku rasakan tak mungkin ku ingkari
Di langit ini terlukis
Hatiku...
Dan birunya semakin biru
Tak kan berhenti
Seluas yang tak kan terperi
Dan ku sadari
Memahami...
            Bersamamu langit amat indah”


Aku ikut berdendang sambil merentangkan kedua tangan, temanku sampai kualahan berulang kali mengingantkan untuk berhati-hati sampai akhirnya dia bosan dan ikut bernyanyi mengalunkan lagu soundtrack perahu kertas itu “Langit Amat Indah”. Di belakang Sepeda motor kami ada tiga teman kami yang juga turut berlibur. Sepeda motor kami melaju menuju air terjun di bawah jurang sana. Sudah tak sabar rasanya untuk berkecimpung dengan air.
Biar saja aku seperti anak kecil kali ini, melepaskan segala penat, melupakan beban kehidupan sementara waktu dan tertawa riang dengan bebas. Karena aku tak dapat menjadi burung yang memiliki sayap untuk terbang bebas, aku putuskan untuk menjelma menjadi sosok masa kecilku dulu, toh sama-sama bebas kan tanpa berpikir layaknya orang dewasa.
         Pegunungan dan hawa sejuk selalu mampu menghipnotisku agar terus bersuka cita, di tempat seperti inilah aku selalu menemukan ketenangan nan damai juga pemandangan alam nan permai. Inspirasi bermunculan bak kupu-kupu yang baru saja mendekam di dalam kepompongnya. Berkolaborasi bersama alam menciptakan bait-bait puisi. Girangnya benakku, senangnya sunggingan bibirku, Riangnya suasanya hatiku. Langit amat indah.

Rabu, 24 Juli 2013

PUISI

#Waktu
BEKU


Bongkahan rinduku belum menguap
Sunyinya geram melahap
Dinginnya adalah sikap
Pucatnya merupakan kilap

Air kasihmu tak lagi cair
Sungai sayang yang tak lagi mengalir
Suhu cintaku menggigil
Rahasia hatiku mulai bugil

Waktu
Tetap disitu
Tetap seteru
Bersama dirimu

Kenangan berdebum
Dulu...
Hilang senyum
Beku.

By: Rena Kharisma

Senin, 22 Juli 2013

PUISI

#Jatuh 
Bayang Gundah


Kelopak mataku tetap gelap walau ia terbelalak
Napasku sudah ada tapi dadaku sungguh sesak
Raga terdesak
Lentera hatimu kini tersibak

Aku tersungkur
Dalam jurang memori kufur
Cintaku terkubur
Sudah lama mangabur

Mungkin aku terlampau lelah
Menelaah bait-bait kisah
Lampau yang terkadang salah
Terjatuh dalam bayang gundah 

By : Rena Kharisma

Kamis, 18 Juli 2013

Secuplik Kisah

#9 Keraaguan
MATI

Koridor di kampus itu masih ramai dengan lalu lalang mahasiswa yang sedang sibuk dengan jam perkuliahan. Namun di salah satu sudut terduduk seorang gadis berkerudung hitam, dia tidak sedang membaca buku, tidak sedang mengerjakan tugas, tidak juga sibuk dengan handphonenya. Ia hanya terdiam saja, sesekali ia menarik napas panjang berkali-kali dan menghembuskannya panjang. Angin kala itu memang begitu sepoinya, bisa membuat siapa saja yang menikmatinya tertidur di sembarang tempat. Namun tidak dengan gadis ini, matanya menerawang jauh. Entah bayangan mana yang ingin ia raih. “Apa kamu mau terus disana? Yang katamu itu menuntut ilmu bagi masa depan? Masa sekarang saja kita susah, mau makan apa besok kita masih mikir. Kamu malah ninggalin bapak sama adik-adikmu disini kelaparan, menghabiskan uang di tanah orang. Apa itu namanya seorang anak yang berbakti kepada orang tua?”  Ucapan bapaknya masih terngiang-ngiang di benak gadis itu. Lalu, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
            Gadis itu mulai menangis sesenggukan setelah koridor itu mulai lengang. Pikirannya mengambang ke kampung halaman tapi impiannya masih terjerat disini. Ia ingin sekali menimba ilmu disini, lalu mengabdikan diri menjadi guru di desanya. Tapi ia dari keluarga tak berada, dari keluarga tak punya, dari keluarga yang tak memiliki biaya untuk menyekolahkannya tinggi-tinggi atau untuk mendapat gelar sarjana. Untuk sampai disini saja ia meronta-ronta padahal otaknya sangat bisa diandalkan. Suara bapaknya yang selalu menentang impiannya dan raut muka ibunya yang pasrah seakan menjadi cambuk yang pedih baginya saat ini. Ia bimbang kini, ia sudah bingung, penat di pikirannya, sesak di dadanya, dan beban dipundaknya, seakan menjadi momok pada keraguannya saat ini. Dua sisi yang sama-sama penting, dua sisi yang sama-sama mulia, ia ingin mengakhiri perjuangannya mencapai cita dan mengabdi pada orang tuanya di desa dengan melakukan apa saja. Menyiangi sawah, berjualan kemeja, atau bahkan dijodohkan dengan seorang pria. Apa saja ia akan terima. Namun hati kecilnya menolak diajak kembali, ia masih ingin berjuang disini untuk abdi mulia dan pengangkatan derajat keluarga.
            Lalu ia beranjak pergi dari tempatnya bersemedi tanpa memiliki jawaban atas kecamuk hati. Ia meninggalkan koridor itu dengan isak tangis yang masih tersisa, ia pergi, mencari tempat tinggi. Mungkin ia akan menemukan jawaban atas teka-teki ini, mungkin di tempat tinggi itu ia dapat bertemu Tuhan dan menemukan jawaban. Tapaknya terasa berat tapi ia tetap melangkah. Setelah itu ia memejamkan mata dan menghela napas panjangnya sekali lagi. Gadis itu tersenyum, sepertinya ia sudah menemukan jawaban atas kerguannya. Ia meluncur, terjun. Dan mati.

Keraguan gadis itu terjawab sudah, ia tak lagi bimbang, tak lagi bingung. Ia mematikan semuanya, harapan, impian, dan beban. Tak lagi berjuang ataupun mengabdi, tak lagi pulang ke kampung halaman tapi ia memilih kembali pada sang Pencipta. Sirnalah sudah,ia pergi, gadis kerudung hitam itu sudah memilih, ia memilih untuk mati.
By : Rena Kharisma

Rabu, 17 Juli 2013

PUISI

#8 Melupakan
Tak mampu


Aku bukan lagi atom, partikel terkecil
Aku juga tak dapat disebut partikel

Entah, disebut apa aku ini ?
Karena semenjak kau pergi
Aku tak lagi berdimensi

Aku cabut segala memori dari pikir
Yang dulu pernah kau ukir
Aku sobek segala ucap di bibir
Tapi selalu berhasil mangkir

Oh...
Kau dulu bunga yang juga benalu
Kau dulu bahagia yang juga pilu
Keyakinankulah yang selalu membelenggu
Melupakanmu...
Aku tak mampu

By : Rena Kharisma


Selasa, 16 Juli 2013

PUISI

#7 Kembali
Keyakinan


Rasaku telah berlumur rindu
Warnanya sudah abu-abu
Suasananya pun pilu
Kau, masa lalu

Aku terjebak ranjau cintamu
Aku sudah tercemar namamu
Aku mencoba berlari dari kisah ini
Tapi sia-sia lagi

Siluet masa itu terbayang
Tak mampu hilang
Selalu saja terkenang

Lubuk hati berbisik lirih
Sedih,perih

Teguh hati
Meyakini
Bahwa kau akan kembali

By: Rena Kharisma

Senin, 15 Juli 2013

Cuplikan Bincang

#6 Ikhlas
Kata Ayah

                Aku baru saja memarkirkan sepeda motorku di garasi rumah, Ku tengok ruang tamu ternyata sudah ada ayah dan ibu. Ayah masih menggunakan seragam dinasnya, rupanya beliau baru saja pulang dari kantor. Aku membawa barang-barangku yang ku bawa dari kosan ke kursi yang ada di teras, tanpa bergegas masuk ke rumah aku duduk saja di kursi sebelahnya. Rasanya lelah malam-malam begini mengukur jalanan dari Surabaya ke Sidoarjo.
            “Sudah pulang mbak? Capek ya?” Ibu menghampiriku dan duduk di sebelah kursiku. “Ya lumayanlah bu.” Aku melucuti jaket dan sarung tanganku. “Besok libur mbak?” Ayah ikut nimbrung di teras dan duduk di kursi tepat di depanku. “Iya yah, tapi nanti balik lagi ke kampus nunggu jadwal rapat simulasi ospeknya.” Ayah hanya beroh oh saja.
                Entah darimana arah pembicaraan dimulai kami bertiga mengoceh sana-sini, rasanya diantara kita bertiga lelah sudah sirna. Ayah yang masih lengkap memakai baju dinas hanya tak bersepatu masih betah duduk dan berbincang bersama aku dan ibu. Tiba-tiba pembicaraan beralih ke masalah percintaan dan membahas tentang mantan pacarku yang sudah bertahun-tahun dijalin akhirnya kandas juga bak hubungan rumah tangga saja ya kalau memakai istilah kandas. “Ya masih inget kan mbak, dulu sebelum kamu putus sama Faiz ibu bermimpi kalau liontinmu itu putus?” Ibu terlihat menerawang mencari mimpi yang ia maksudkan. “Ibu mah, nggak bilang sama aku dari awal kalau pernah bermimpi seperti itu sebelum aku putus. Kalau udah ada firasatnya gitu kan aku bisa siap-siap nggak sampai patah hati kronis.” Aku cemberut mengingat kisah lampau itu. “Ya sudahlah mbak, nggak usah diinget-inget lagi toh Allah juga sudah mengatur dan menyiapkan jodoh buat kamu.” Ibu menenangkan aku. “Kalau jodoh sudah diatur mengapa ada yang sampai bercerai hayo?Berarti jodoh itu bisa ganti-ganti ya?” Aku masih dongkol saja namun pertanyaan itu memang sering muncul dalam benakku. Aku dan ibu mulai berdebat hingga akhinya ibu menyerah “Ya sudah tanyakan sama ayahmu tuh.” Ibu menunjuk ayah yang santai-santai saja mendengar celotehan kami.
                “Yah, gimana?” Nada bicaraku seakan menagih bak rentenir. “Siapa yang bilang Tuhan sudah mengatur semuanya?” Ayah menjawabnya dengan santai, aku dan ibu yang mendengar perkataan ayah langsung melongo. “Tuhan tidak mengatur kehidupan kita tapi Dia sudah memerdekakan kita, membebaskan bagaimana kita hidup. Tuhan tidak hanya mengawasi kehidupan manusia saja, makhluk di jagad raya ini bukan hanya manusia. Tinggal bagaimana kita yang diberi akal sama Tuhan untuk mampu memanfaatkannya. Manusia itu hanya seperti setitik noda yang bahkan tak terlihat di jagad raya ini. Bukan cuman bumi,tata surya,langit ke tujuh yang hanya kita ketahui saat ini, masih banyak bagian-bagian lain dalam kekuasaannya.”Ayah berceramah bak kiai handal “Lalu yah?” Aku masih menyimak perkataan ayah.
                Ayah berceloteh panjang lebar, memberikan wejangan dan pandangannya tentang Tuhan. Ayah memberikan pendapat bahwa sekarang banyak manusia yang seakan-akan dirinya lah yang paling benar, disini ayah tegas menekankan bahwa para ulama,kiai,dan ahli agama sekalipun juga banyak yang merasa dakwah yang mereka ajarkan paling benar. Ayah juga berkata, “Sebenarnya agama itu hanya politik yang dibuat manusia.” Lalu aku bertanya pada ayah,” Bukannya ada salah satu ayat di kitab suci Al-quran yang mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah, itu bagaimana yah?” “Memang benar manusia diciptakan untuk beribadah tapi kebanyakan manusia beribadah pasti ada tetek bengeknya. Terkadang mereka beribadah itu karena takut karena meminta ini dan itu.” “Loh, berarti kita nggak boleh meminta sesuatu dong sama Tuhan?” Tanyaku heran. “Tidak salah jika kamu meminta sesuatu pada Tuhan tapi permintaanmu itu digunakan untuk dapat bermanfaat bagi kehidupan, permintaanmu itu kau guanakan untuk dapat kembali lagi pada Tuhan dalam hal ini bisa dikatakan beribadah pada Tuhan.” Kemudian ayah juga pernah berkata bahwa kita sekarang ini adalah manusia pilihan,manusia saringan dari zaman Nabi Nuh yang dulu pernah diluluh lantakkan.

                Perbincangan semakin nggelambyar kemana-mana tapi tetap membahas satu topik yaitu Tuhan. Hingga ibu yang mendengarkan sampai tertidur di kursi. Ayah berkisah juga bahwa Tuhan itu tidak ada yang menyamai jadi akal manusia terkadang tak bisa menggapainya. Pada kelelahanku yang tak tertahan aku bertanya pada ayah “Lalu bagaimana kita berbuat sebagai manusia ciptaan manusia yah.” Ayah menatap mataku dalam “Inti dari semua di kehidupan ini adalah ikhlas karena pada akhirnya diri sendirilah yang mempertanggung jawabkan semuanya.” 

                                                                      by : Rena Kharisma

Minggu, 14 Juli 2013

Secuplik Kisah

#5 Syukur
Tak Menyangka

Aku mengetuk pintu rumah yang seakan tetap bergeming meskipun didobrak sekalipun “Assalammualaikum.” Tak perlu menunggu lama, salamku telah dijawab sembari pintu terbuka “Waalaikumsalam,oh mbak sudah pulang ayo masuk masuk dulu mbak.” Ibu menyambutku dengan hangat dan tak pernah menanyai isi keranjang yang aku bawa terjual habis atau tidak sebelum aku duduk sejenak di kursi ruang tamu. “Capek mbak?” Raut muka ibu seakan khawatir. Aku melempar senyum pada ibu, “Tidak bu, Kharis berjualan dengan suka cita jadi rasa capeknya nggak terasa.” Selintas aku melihat senyum ibu mengembang. “Ya sudah, kamu mandi dan istirahat dulu ya ibu sudah menyiapkan makan untuk buka nanti.” Ibu beranjak dari ruang tamu. “Bu, ini uang hasil jualan kue.” Aku berdiri menghampiri ibu dan memberikan segenggam uang. “Oh, alhamdulillah. Kuenya terjual semua mbak?” Ibu mengucap syukur namun tak mengambil uang yang ada di tanganku. “Alhamdulillah iya bu, kue-kue ini terjual habis pada satu orang saja yang katanya akan diberikan pada anak jalanan disekir rumahnya.” Aku tersenyum mengingat bagaimana perempuan berdandan menor itu membeli kue di keranjangku dengan alasan yang sangat mulia. “Wah,baik sekali orang itu mbak, semoga amal kebaikannya dibalas Allah ya.” Ibu ikut tersenyum. “Ini bu.” Aku kembali menyodorkan uang yang ku genggam pada ibu. “Simpan saja uangnya ya mbak, belikan novel yang waktu itu ingin sekali kamu beli.” Aku tersentak kaget. “Tapi bu, biaya pengobatan ayah bagaimana?” Aku kembali teringat ayah yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. “Ibu sudah ada mbak, sudah simpan saja ya.” Ibu beranjak ke dapur meninggalkanku yang masih terpekur.
Ramadhan kali ini aku habiskan bersama ibu di rumah, ayah dan tiga kakakku berada di kota seberang. Sudah seminggu ini ayah sakit dan tiga kakakku menjaganya disana, mereka bertiga tinggal sementara di rumah bibi kami yang dekat dengan rumah sakit. Aku ingin sekali setiap hari dapat menjenguk ayah tapi tak ada biaya yang cukup untuk berangkat kesana, apalagi semenjak harga BBM mulai naik, harga angkot pasti semakin mahal. Aku masih tidak setuju jika uang hasil jualan kali ini aku buat untuk membeli novel yang sudah lama ingin aku beli seperti kata ibu. Bagaimana biaya operasi ayah nanti? Bagaimana biaya kehidupan kami nanti di lain hari? Menanak nasi saja terkadang kita harus mengutang beras dari warung langganan kami. Aku akan menggunakan uang ini untuk mengunjungi ayah di rumah sakit.
                                                       *****
Subuh ini setelah sholat dan sahur aku berpamitan pada ibu ingin mengunjungi ayah di rumah sakit. Ibu terkejut “Sudah mbak disini saja, kan sudah ada kakak-kakakmu disana yang jagain ayah.” Aku bergeming “Tapi bu, Kharis ingin melihat kondisi ayah disana, Kharis khawatir bu.” “Sudahlah mbak, mbak disini saja dengan ibu. Ayah baik-baik saja disana.” Aku tak mengerti, mengapa ibu melarangku begini, aku merasa ada yang aneh disini. “Tapi bu.” “Sudah mbak biar mereka disana saja, mbak temani ibu disini saja.” Ibu menggandeng lenganku. Aku masih bingung dengan tingkah ibu yang begini, akhirnya aku putuskan untuk menuruti kata-kata ibu.
Sore hari, ada sebuah mobil datang di depan rumah. Aku perhatikan mobil itu benar-benar mulus dan kinclong. Siapakah pemilik mobil itu? Mengapa ada yang mampir di depan halaman rumah reotku ini? Aku bertanya-tanya dalam hati dan dengan segera membuka pintu tanpa mengetahui apakah pemilik mobil itu benar akan mengunjungi rumah kami.
“Permisi.” Seorang perempuan berperawakan seksi dengan baju berlengan bulu-bulu warna putih menghampiriku. “Iya.” Aku mengangguk dan rasanya seperti pernah bertemu dengan perempuan ini. “Apa benar ini rumah Pak Hadiman.” Aku terkejut dan reflek mengangguk, “Iya benar, ada apa ya mbak mencari ayah saya?” Tanpa menjawab perempuan itu memberikan amplop persegi panjang yang cukup besar berwarna cokelat yang juga cukup tebal, aku menerimanya dengan canggung. Tiba-tiba amplop itu terjatuh karena tepisan tangan dari ibu dan bertebaranlah isi amplop itu yang ternyata uang pecahan seratus ribuan yang sangat banyak, sontak aku terkejut. “Ngapain kamu kesini, sudah pergi saja. Jangan ganggu saya dan Kharis.” Tiba-tiba saja ibu marah dengan perempuan itu, aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. “Sudah, ambil saja uangmu itu. Kami tak butuh, aku bisa menghidupi Kharis seorang diri tanpa bantuan darimu.” Ibu memelukku. Perempuan itu berlalu pergi dan masuk kembali di mobil mewahnya. Aku masih tertegun, terdiam, dan memandangi mobil itu yang akan segera melaju pergi. Aku perhatikan kaca mobil yang cukup transparan itu, aku melihat di bagian belakang ada ayah dan kakak ketigaku sedang duduk tertunduk disana. Apa ini? Katanya ayah sakit, mengapa tiba-tiba ayah ada di mobil perempuan seksi itu? Aku semakin bingung lalu ku pandangi uang yang berserakan di lantai terasku. Kemudian aku menatap ibu yang sudah bercucuran air mata, aku merasa sesak dan perih atas situasi ini.
“Sudah mbak, jangan pedulikan perempuan itu, jangan pula pedulikan ayah dan kakak-kakakmu.” Itu kata yang terucap dari mulut ibu ketika kami sedang berada di kamar setalah kejadian itu. Apa ini? Mimpi? Sungguh tak ku mengerti.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku baru mengetahui bahwa ibu adalah selingkuhan ayah dari perempuan seksi yang kapan hari datang ke rumah dan kakak-kakakku adalah anak dari mereka.  Aku juga baru menyadari bahwa yang pernah membeli semua kueku adalah perempuan itu. Aku tak habis pikir mengapa ini terjadi, aku bingung harus bersyukur ataukah bersedih. Karena aku tahu ayah dan ketiga kakakku sudah hidup bahagia dengan keluarga asli mereka namun di sisi lain aku merasa ibu lah yang paling menderita karena ini semua. Aku benar-benar tak menyangka ini semua kronologi dan rahasia yang begitu rapi terjaga. Tuhan....apakah aku harus bersyukur atas ini semua ?


                                                                                By : Rena Kharisma

Jumat, 12 Juli 2013

PUISI

#3 Tentang Mimpi

ELEGI

Ku punggungi jeruji hati yang mulai menciut
Aku meringkuk, menangis takut
Pikir, benak, dan pandangku berkabut
Saraf-saraf otakku mulai kalut

Peluh seakan bercucur
Dalam sebuah kotak mimpi yang telah hancur
Selimutku berusaha kabur
Padahal mimpiku masih terpekur

Apa ini ?
Syair perih
Melodi lirih
Pedih...

Ini tentang elegi tak bertepi
Bersarang dalam tulang tak bersendi
Tak mampu ku pandangi
Apalagi ku pahami 

Oh bunga tidurku...
Masih tak bermekar di ujung kelabu
Kecewa yang menggebu
Sendu....

                              By : Rena Kharisma

Rabu, 10 Juli 2013

Cerpen

#1 Pertama Kalinya
Kumandang Senja

                Deburan ombak di depan mataku selalu tampak bergemuruh, tak pernah sekalipun air lautnya tak menghamtam bebatuan di batas pagar ini. Aku juga tak pernah menyaksikan ia tenang sedikit pun, mungkin hanya ketika malam ia terpekur karena tidur. Ah, tidak ombak ini tak pernah tidur, sama halnya dengan pendengaranku yang tek pernah uzur menyimak setiap nada-nada menenangkan di sekitar dermaga ini. Setiap fajar akan bermuara di ufuk barat aku akan selalu bergegas menyiapkan diri. Mandi sore, membersihkan rumah, juga menyirami bunga-bunga di bawah rumah pohon yang menjadi tempat bersemediku. Lalu dengan segera aku mengayuh sepeda hadiah ulang tahunku dari ayah yang ke tujuh belas tahun. Aku selalu mengayuhnya dengan santai dan menikmati sepoi angin yang menerpaku saat ini. Rambutku mengibas anggun sementara mulutku tak hentinya berdendang menyanyikan lagu suka cita atau bahkan sendu durja.
                Setiap sore aku tak pernah absen mengunjungi dermaga ini, semenjak kapal dari kejauhan membawa ayahku di dalam peti dan menyuratkan aku kotak kecil yang ku namakan melodi. Kotak kecil itu seakan menjadi pengganti sosok ayah yang selalu ku nanti setiap senja datang di dermaga ini. Namun seberapa berharganya melodi tak pernah dapat memberiku benyak arti. Ya, sudah dua tahun ini rasa perih tak kunjung pergi, padahal setiap kapal yang ayah tumpangi untuk mencari rezeki selalu ku relakan untuk pergi. Walaupun aku tak tahu kapan kapal itu akan singgah kembali disini membawa serta ayahku untuk pulang.
                Melodi selalu ku bawa setiap aku mengunjungi dermaga ini, dermaga ini pun tak pernah ku ketahui namanya. Aku tak peduli apapun namanya namun aku menikmati setiap senjanya meskipun dermaga ini juga yang menorehkan luka kecewa. Ayah selalu menyambutku disini, di balik batas pagar yang bertengger di atas bebatuan yang tak cukup kuat ini. Kini tak ada yang pernah ku sambut lagi, mungkin hanya senja yang mampu menggantikan rasa iri ketika anak-anak kecil bermain disini dan menemukan ayahnya kembali. Ah, sudahlah. Aku masih menggenggam melodi yang tak bermelodi lagi ini, menyimak suara yang selalu bergema di penghujung senja. Entah darimana asalnya aku hanya bisa menerka dan tak ingin ku temukan asal muaranya. Suarau itu yang menjadi pengganti nada melodi yang telah hilang, sudah sebulan yang lalu melodi tak bisa mengutarakan nadanya kembali. Sudah berusaha untuk ku perbaiki namun tak pernah dapat berbunyi lagi.
                Lalu baru ku sadari bahwa ada kumandang senja yang merdu di sekitar dermaga ini, yang tak pernah berhenti sampai malam menenggelamkannya. Aku mendengarkannya dengan khidmat, mataku terpejam merenunginya. Seakan luka kehilangan atas ayah selalu luruh di setiap derai alunan nadanya. Mungkin itu suara seseorang sedang mengaji atau suara takbir yang tak ku kenali? Seperti aku tak tahu siapa yang mendendangkan suara yang mendamaikan hati ini.
                Di suatu senja, aku kembali di dermaga ini. Aku menanti kumandang senja itu lagi, selalu seperti ini. Hingga Ramadhan tahun ini menyambangi. Ku tengok awan sedang bermendung tapi niatku untuk menikmati kumandang senja itu tak pernah urung. Ku kayuh sepedaku perlahan namun entah mengapa sore ini degup jantung seakan berirama lebih kencang. Rasanya ada sesuatu yang akan menghalang. Tapi hingga aku sampai di dermaga tak jua ku temui halangan. Aku menyaksikan lautan begitu pekat sore ini, fajar pun tak dapat ku lihat lagi karena aku tak mampu menyibak mendung yang terlanjur murung.
                Aku tunggu suara yang damai itu walau angin menerpa begitu kalut membuat jantungku semakin kencang berdegup. Aku pandang jauh di pucuk lautan sana ada sebuah kapal, sepertinya kapal itu akan singgah di dermaga ini. Tiba-tiba gemuruh petir berkecamuk mengalahkan suara deru ombak disini. Seketika itu pula kenangan akan ayah menyeruak hadir memanggil-manggilku untuk larut di dalamnya. Aku meronta tak ingin mengingatnya, aku berusaha keluar dari luka kecewa yang kembali menganga. Aku ingin berlari meninggalkan dermaga ini, namun jajakan kaki seakan tak ingin beranjak masih menanti kumandang senja yang selalu bergema sebelum malam menenggelamkannya. Tapi saat gerimis mulai mendera tubuhku dan guntur pun tak hentinya bergelegar mengacaukan ketenangan dalam diriku. Aku tak kunjung beranjak dari tempatku. Air langit mulai deras, aku mulai panik tapi tetap tak bisa berkutik. Hatiku seakan teriris-iris, kemana perginya kumandang senja itu? Kemana dendangan suara yang mendamaikan itu? Mengapa ia tak ada ketika aku sedang benar-benar membutuhkannya? Aku tak bisa lagi mendengar apa-apa ketika ku temukan kumandang senja itu begitu dekat di telinga. Aku mencarinya, ya aku mendengarnya, namun begitu lirih bukan dari pengeras suara lagi. Kumandang itu semakin dekat, seakan ia menghampiri. Tiba-tiba aku lunglai dan untuk pertama kalinya aku tahu siapa yang selalu menyuarakan kumandang senja itu saat aku jatuh di pelukannya.
                                                                                               By : Rena Kharisma
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik