#1 Pertama Kalinya
Kumandang Senja
Deburan
ombak di depan mataku selalu tampak bergemuruh, tak pernah sekalipun air
lautnya tak menghamtam bebatuan di batas pagar ini. Aku juga tak pernah
menyaksikan ia tenang sedikit pun, mungkin hanya ketika malam ia terpekur
karena tidur. Ah, tidak ombak ini tak pernah tidur, sama halnya dengan
pendengaranku yang tek pernah uzur menyimak setiap nada-nada menenangkan di
sekitar dermaga ini. Setiap fajar akan bermuara di ufuk barat aku akan selalu
bergegas menyiapkan diri. Mandi sore, membersihkan rumah, juga menyirami
bunga-bunga di bawah rumah pohon yang menjadi tempat bersemediku. Lalu dengan
segera aku mengayuh sepeda hadiah ulang tahunku dari ayah yang ke tujuh belas
tahun. Aku selalu mengayuhnya dengan santai dan menikmati sepoi angin yang
menerpaku saat ini. Rambutku mengibas anggun sementara mulutku tak hentinya
berdendang menyanyikan lagu suka cita atau bahkan sendu durja.
Setiap
sore aku tak pernah absen mengunjungi dermaga ini, semenjak kapal dari kejauhan
membawa ayahku di dalam peti dan menyuratkan aku kotak kecil yang ku namakan
melodi. Kotak kecil itu seakan menjadi pengganti sosok ayah yang selalu ku
nanti setiap senja datang di dermaga ini. Namun seberapa berharganya melodi tak
pernah dapat memberiku benyak arti. Ya, sudah dua tahun ini rasa perih tak
kunjung pergi, padahal setiap kapal yang ayah tumpangi untuk mencari rezeki selalu
ku relakan untuk pergi. Walaupun aku tak tahu kapan kapal itu akan singgah
kembali disini membawa serta ayahku untuk pulang.
Melodi
selalu ku bawa setiap aku mengunjungi dermaga ini, dermaga ini pun tak pernah
ku ketahui namanya. Aku tak peduli apapun namanya namun aku menikmati setiap
senjanya meskipun dermaga ini juga yang menorehkan luka kecewa. Ayah selalu
menyambutku disini, di balik batas pagar yang bertengger di atas bebatuan yang
tak cukup kuat ini. Kini tak ada yang pernah ku sambut lagi, mungkin hanya
senja yang mampu menggantikan rasa iri ketika anak-anak kecil bermain disini
dan menemukan ayahnya kembali. Ah, sudahlah. Aku masih menggenggam melodi yang
tak bermelodi lagi ini, menyimak suara yang selalu bergema di penghujung senja.
Entah darimana asalnya aku hanya bisa menerka dan tak ingin ku temukan asal
muaranya. Suarau itu yang menjadi pengganti nada melodi yang telah hilang,
sudah sebulan yang lalu melodi tak bisa mengutarakan nadanya kembali. Sudah
berusaha untuk ku perbaiki namun tak pernah dapat berbunyi lagi.
Lalu
baru ku sadari bahwa ada kumandang senja yang merdu di sekitar dermaga ini,
yang tak pernah berhenti sampai malam menenggelamkannya. Aku mendengarkannya
dengan khidmat, mataku terpejam merenunginya. Seakan luka kehilangan atas ayah
selalu luruh di setiap derai alunan nadanya. Mungkin itu suara seseorang sedang
mengaji atau suara takbir yang tak ku kenali? Seperti aku tak tahu siapa yang
mendendangkan suara yang mendamaikan hati ini.
Di
suatu senja, aku kembali di dermaga ini. Aku menanti kumandang senja itu lagi,
selalu seperti ini. Hingga Ramadhan tahun ini menyambangi. Ku tengok awan
sedang bermendung tapi niatku untuk menikmati kumandang senja itu tak pernah
urung. Ku kayuh sepedaku perlahan namun entah mengapa sore ini degup jantung
seakan berirama lebih kencang. Rasanya ada sesuatu yang akan menghalang. Tapi
hingga aku sampai di dermaga tak jua ku temui halangan. Aku menyaksikan lautan
begitu pekat sore ini, fajar pun tak dapat ku lihat lagi karena aku tak mampu
menyibak mendung yang terlanjur murung.
Aku
tunggu suara yang damai itu walau angin menerpa begitu kalut membuat jantungku
semakin kencang berdegup. Aku pandang jauh di pucuk lautan sana ada sebuah
kapal, sepertinya kapal itu akan singgah di dermaga ini. Tiba-tiba gemuruh
petir berkecamuk mengalahkan suara deru ombak disini. Seketika itu pula
kenangan akan ayah menyeruak hadir memanggil-manggilku untuk larut di dalamnya.
Aku meronta tak ingin mengingatnya, aku berusaha keluar dari luka kecewa yang
kembali menganga. Aku ingin berlari meninggalkan dermaga ini, namun jajakan
kaki seakan tak ingin beranjak masih menanti kumandang senja yang selalu
bergema sebelum malam menenggelamkannya. Tapi saat gerimis mulai mendera
tubuhku dan guntur pun tak hentinya bergelegar mengacaukan ketenangan dalam diriku.
Aku tak kunjung beranjak dari tempatku. Air langit mulai deras, aku mulai panik
tapi tetap tak bisa berkutik. Hatiku seakan teriris-iris, kemana perginya
kumandang senja itu? Kemana dendangan suara yang mendamaikan itu? Mengapa ia
tak ada ketika aku sedang benar-benar membutuhkannya? Aku tak bisa lagi
mendengar apa-apa ketika ku temukan kumandang senja itu begitu dekat di
telinga. Aku mencarinya, ya aku mendengarnya, namun begitu lirih bukan dari
pengeras suara lagi. Kumandang itu semakin dekat, seakan ia menghampiri.
Tiba-tiba aku lunglai dan untuk pertama kalinya aku tahu siapa yang selalu
menyuarakan kumandang senja itu saat aku jatuh di pelukannya.
By
: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar