#5 Syukur
Tak
Menyangka
Aku mengetuk
pintu rumah yang seakan tetap bergeming meskipun didobrak sekalipun “Assalammualaikum.”
Tak perlu menunggu lama, salamku telah dijawab sembari pintu terbuka “Waalaikumsalam,oh
mbak sudah pulang ayo masuk masuk dulu mbak.” Ibu menyambutku dengan hangat dan
tak pernah menanyai isi keranjang yang aku bawa terjual habis atau tidak
sebelum aku duduk sejenak di kursi ruang tamu. “Capek mbak?” Raut muka ibu
seakan khawatir. Aku melempar senyum pada ibu, “Tidak bu, Kharis berjualan
dengan suka cita jadi rasa capeknya nggak terasa.” Selintas aku melihat senyum
ibu mengembang. “Ya sudah, kamu mandi dan istirahat dulu ya ibu sudah
menyiapkan makan untuk buka nanti.” Ibu beranjak dari ruang tamu. “Bu, ini uang
hasil jualan kue.” Aku berdiri menghampiri ibu dan memberikan segenggam uang. “Oh,
alhamdulillah. Kuenya terjual semua mbak?” Ibu mengucap syukur namun tak
mengambil uang yang ada di tanganku. “Alhamdulillah iya bu, kue-kue ini terjual
habis pada satu orang saja yang katanya akan diberikan pada anak jalanan
disekir rumahnya.” Aku tersenyum mengingat bagaimana perempuan berdandan menor
itu membeli kue di keranjangku dengan alasan yang sangat mulia. “Wah,baik
sekali orang itu mbak, semoga amal kebaikannya dibalas Allah ya.” Ibu ikut
tersenyum. “Ini bu.” Aku kembali menyodorkan uang yang ku genggam pada ibu. “Simpan
saja uangnya ya mbak, belikan novel yang waktu itu ingin sekali kamu beli.” Aku
tersentak kaget. “Tapi bu, biaya pengobatan ayah bagaimana?” Aku kembali
teringat ayah yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. “Ibu sudah ada mbak,
sudah simpan saja ya.” Ibu beranjak ke dapur meninggalkanku yang masih
terpekur.
Ramadhan kali
ini aku habiskan bersama ibu di rumah, ayah dan tiga kakakku berada di kota
seberang. Sudah seminggu ini ayah sakit dan tiga kakakku menjaganya disana,
mereka bertiga tinggal sementara di rumah bibi kami yang dekat dengan rumah
sakit. Aku ingin sekali setiap hari dapat menjenguk ayah tapi tak ada biaya
yang cukup untuk berangkat kesana, apalagi semenjak harga BBM mulai naik, harga
angkot pasti semakin mahal. Aku masih tidak setuju jika uang hasil jualan kali
ini aku buat untuk membeli novel yang sudah lama ingin aku beli seperti kata
ibu. Bagaimana biaya operasi ayah nanti? Bagaimana biaya kehidupan kami nanti
di lain hari? Menanak nasi saja terkadang kita harus mengutang beras dari
warung langganan kami. Aku akan menggunakan uang ini untuk mengunjungi ayah di
rumah sakit.
*****
*****
Subuh ini
setelah sholat dan sahur aku berpamitan pada ibu ingin mengunjungi ayah di
rumah sakit. Ibu terkejut “Sudah mbak disini saja, kan sudah ada kakak-kakakmu
disana yang jagain ayah.” Aku bergeming “Tapi bu, Kharis ingin melihat kondisi
ayah disana, Kharis khawatir bu.” “Sudahlah mbak, mbak disini saja dengan ibu.
Ayah baik-baik saja disana.” Aku tak mengerti, mengapa ibu melarangku begini,
aku merasa ada yang aneh disini. “Tapi bu.” “Sudah mbak biar mereka disana
saja, mbak temani ibu disini saja.” Ibu menggandeng lenganku. Aku masih bingung
dengan tingkah ibu yang begini, akhirnya aku putuskan untuk menuruti kata-kata
ibu.
Sore hari, ada
sebuah mobil datang di depan rumah. Aku perhatikan mobil itu benar-benar mulus
dan kinclong. Siapakah pemilik mobil itu? Mengapa ada yang mampir di depan
halaman rumah reotku ini? Aku bertanya-tanya dalam hati dan dengan segera
membuka pintu tanpa mengetahui apakah pemilik mobil itu benar akan mengunjungi
rumah kami.
“Permisi.”
Seorang perempuan berperawakan seksi dengan baju berlengan bulu-bulu warna
putih menghampiriku. “Iya.” Aku mengangguk dan rasanya seperti pernah bertemu
dengan perempuan ini. “Apa benar ini rumah Pak Hadiman.” Aku terkejut dan
reflek mengangguk, “Iya benar, ada apa ya mbak mencari ayah saya?” Tanpa
menjawab perempuan itu memberikan amplop persegi panjang yang cukup besar
berwarna cokelat yang juga cukup tebal, aku menerimanya dengan canggung. Tiba-tiba
amplop itu terjatuh karena tepisan tangan dari ibu dan bertebaranlah isi amplop
itu yang ternyata uang pecahan seratus ribuan yang sangat banyak, sontak aku
terkejut. “Ngapain kamu kesini, sudah pergi saja. Jangan ganggu saya dan
Kharis.” Tiba-tiba saja ibu marah dengan perempuan itu, aku semakin bingung apa
yang sebenarnya terjadi. “Sudah, ambil saja uangmu itu. Kami tak butuh, aku
bisa menghidupi Kharis seorang diri tanpa bantuan darimu.” Ibu memelukku.
Perempuan itu berlalu pergi dan masuk kembali di mobil mewahnya. Aku masih
tertegun, terdiam, dan memandangi mobil itu yang akan segera melaju pergi. Aku
perhatikan kaca mobil yang cukup transparan itu, aku melihat di bagian belakang
ada ayah dan kakak ketigaku sedang duduk tertunduk disana. Apa ini? Katanya
ayah sakit, mengapa tiba-tiba ayah ada di mobil perempuan seksi itu? Aku
semakin bingung lalu ku pandangi uang yang berserakan di lantai terasku.
Kemudian aku menatap ibu yang sudah bercucuran air mata, aku merasa sesak dan
perih atas situasi ini.
“Sudah mbak,
jangan pedulikan perempuan itu, jangan pula pedulikan ayah dan kakak-kakakmu.”
Itu kata yang terucap dari mulut ibu ketika kami sedang berada di kamar setalah
kejadian itu. Apa ini? Mimpi? Sungguh tak ku mengerti.
Beberapa hari
setelah kejadian itu aku baru mengetahui bahwa ibu adalah selingkuhan ayah dari
perempuan seksi yang kapan hari datang ke rumah dan kakak-kakakku adalah anak
dari mereka. Aku juga baru menyadari
bahwa yang pernah membeli semua kueku adalah perempuan itu. Aku tak habis pikir
mengapa ini terjadi, aku bingung harus bersyukur ataukah bersedih. Karena aku
tahu ayah dan ketiga kakakku sudah hidup bahagia dengan keluarga asli mereka
namun di sisi lain aku merasa ibu lah yang paling menderita karena ini semua.
Aku benar-benar tak menyangka ini semua kronologi dan rahasia yang begitu rapi
terjaga. Tuhan....apakah aku harus bersyukur atas ini semua ?
By
: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar