Minggu, 14 Juli 2013

Secuplik Kisah

#5 Syukur
Tak Menyangka

Aku mengetuk pintu rumah yang seakan tetap bergeming meskipun didobrak sekalipun “Assalammualaikum.” Tak perlu menunggu lama, salamku telah dijawab sembari pintu terbuka “Waalaikumsalam,oh mbak sudah pulang ayo masuk masuk dulu mbak.” Ibu menyambutku dengan hangat dan tak pernah menanyai isi keranjang yang aku bawa terjual habis atau tidak sebelum aku duduk sejenak di kursi ruang tamu. “Capek mbak?” Raut muka ibu seakan khawatir. Aku melempar senyum pada ibu, “Tidak bu, Kharis berjualan dengan suka cita jadi rasa capeknya nggak terasa.” Selintas aku melihat senyum ibu mengembang. “Ya sudah, kamu mandi dan istirahat dulu ya ibu sudah menyiapkan makan untuk buka nanti.” Ibu beranjak dari ruang tamu. “Bu, ini uang hasil jualan kue.” Aku berdiri menghampiri ibu dan memberikan segenggam uang. “Oh, alhamdulillah. Kuenya terjual semua mbak?” Ibu mengucap syukur namun tak mengambil uang yang ada di tanganku. “Alhamdulillah iya bu, kue-kue ini terjual habis pada satu orang saja yang katanya akan diberikan pada anak jalanan disekir rumahnya.” Aku tersenyum mengingat bagaimana perempuan berdandan menor itu membeli kue di keranjangku dengan alasan yang sangat mulia. “Wah,baik sekali orang itu mbak, semoga amal kebaikannya dibalas Allah ya.” Ibu ikut tersenyum. “Ini bu.” Aku kembali menyodorkan uang yang ku genggam pada ibu. “Simpan saja uangnya ya mbak, belikan novel yang waktu itu ingin sekali kamu beli.” Aku tersentak kaget. “Tapi bu, biaya pengobatan ayah bagaimana?” Aku kembali teringat ayah yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. “Ibu sudah ada mbak, sudah simpan saja ya.” Ibu beranjak ke dapur meninggalkanku yang masih terpekur.
Ramadhan kali ini aku habiskan bersama ibu di rumah, ayah dan tiga kakakku berada di kota seberang. Sudah seminggu ini ayah sakit dan tiga kakakku menjaganya disana, mereka bertiga tinggal sementara di rumah bibi kami yang dekat dengan rumah sakit. Aku ingin sekali setiap hari dapat menjenguk ayah tapi tak ada biaya yang cukup untuk berangkat kesana, apalagi semenjak harga BBM mulai naik, harga angkot pasti semakin mahal. Aku masih tidak setuju jika uang hasil jualan kali ini aku buat untuk membeli novel yang sudah lama ingin aku beli seperti kata ibu. Bagaimana biaya operasi ayah nanti? Bagaimana biaya kehidupan kami nanti di lain hari? Menanak nasi saja terkadang kita harus mengutang beras dari warung langganan kami. Aku akan menggunakan uang ini untuk mengunjungi ayah di rumah sakit.
                                                       *****
Subuh ini setelah sholat dan sahur aku berpamitan pada ibu ingin mengunjungi ayah di rumah sakit. Ibu terkejut “Sudah mbak disini saja, kan sudah ada kakak-kakakmu disana yang jagain ayah.” Aku bergeming “Tapi bu, Kharis ingin melihat kondisi ayah disana, Kharis khawatir bu.” “Sudahlah mbak, mbak disini saja dengan ibu. Ayah baik-baik saja disana.” Aku tak mengerti, mengapa ibu melarangku begini, aku merasa ada yang aneh disini. “Tapi bu.” “Sudah mbak biar mereka disana saja, mbak temani ibu disini saja.” Ibu menggandeng lenganku. Aku masih bingung dengan tingkah ibu yang begini, akhirnya aku putuskan untuk menuruti kata-kata ibu.
Sore hari, ada sebuah mobil datang di depan rumah. Aku perhatikan mobil itu benar-benar mulus dan kinclong. Siapakah pemilik mobil itu? Mengapa ada yang mampir di depan halaman rumah reotku ini? Aku bertanya-tanya dalam hati dan dengan segera membuka pintu tanpa mengetahui apakah pemilik mobil itu benar akan mengunjungi rumah kami.
“Permisi.” Seorang perempuan berperawakan seksi dengan baju berlengan bulu-bulu warna putih menghampiriku. “Iya.” Aku mengangguk dan rasanya seperti pernah bertemu dengan perempuan ini. “Apa benar ini rumah Pak Hadiman.” Aku terkejut dan reflek mengangguk, “Iya benar, ada apa ya mbak mencari ayah saya?” Tanpa menjawab perempuan itu memberikan amplop persegi panjang yang cukup besar berwarna cokelat yang juga cukup tebal, aku menerimanya dengan canggung. Tiba-tiba amplop itu terjatuh karena tepisan tangan dari ibu dan bertebaranlah isi amplop itu yang ternyata uang pecahan seratus ribuan yang sangat banyak, sontak aku terkejut. “Ngapain kamu kesini, sudah pergi saja. Jangan ganggu saya dan Kharis.” Tiba-tiba saja ibu marah dengan perempuan itu, aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. “Sudah, ambil saja uangmu itu. Kami tak butuh, aku bisa menghidupi Kharis seorang diri tanpa bantuan darimu.” Ibu memelukku. Perempuan itu berlalu pergi dan masuk kembali di mobil mewahnya. Aku masih tertegun, terdiam, dan memandangi mobil itu yang akan segera melaju pergi. Aku perhatikan kaca mobil yang cukup transparan itu, aku melihat di bagian belakang ada ayah dan kakak ketigaku sedang duduk tertunduk disana. Apa ini? Katanya ayah sakit, mengapa tiba-tiba ayah ada di mobil perempuan seksi itu? Aku semakin bingung lalu ku pandangi uang yang berserakan di lantai terasku. Kemudian aku menatap ibu yang sudah bercucuran air mata, aku merasa sesak dan perih atas situasi ini.
“Sudah mbak, jangan pedulikan perempuan itu, jangan pula pedulikan ayah dan kakak-kakakmu.” Itu kata yang terucap dari mulut ibu ketika kami sedang berada di kamar setalah kejadian itu. Apa ini? Mimpi? Sungguh tak ku mengerti.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku baru mengetahui bahwa ibu adalah selingkuhan ayah dari perempuan seksi yang kapan hari datang ke rumah dan kakak-kakakku adalah anak dari mereka.  Aku juga baru menyadari bahwa yang pernah membeli semua kueku adalah perempuan itu. Aku tak habis pikir mengapa ini terjadi, aku bingung harus bersyukur ataukah bersedih. Karena aku tahu ayah dan ketiga kakakku sudah hidup bahagia dengan keluarga asli mereka namun di sisi lain aku merasa ibu lah yang paling menderita karena ini semua. Aku benar-benar tak menyangka ini semua kronologi dan rahasia yang begitu rapi terjaga. Tuhan....apakah aku harus bersyukur atas ini semua ?


                                                                                By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik