Rabu, 14 Agustus 2013

Sepasang Sepatu Tua


       “Serong kanan grak!” Suara seorang bapak militer dengan tegas memerintahkan para prajuritnya. Dengan tegap para prajuritnya pun melaksanakan dengan serempak tanpa ada yang terlambat ataupun mendahului. Nampaknya fisik mereka cukup kuat meskipun baru belasan, umur yang bersemayam dalam jiwa raga mereka. Ya, prajurit sang militer merupakan murid-murid pasukan Paskibraka sebuah Sekolah Menengah Atas di pinggiran kota Sidoarjo. Ekstrakulikuler ini paling diminati dan disegani di penjuru sekolah juga penjuru desa. Seakan menjadi topeng ajang bergengsi tersendiri bagi peserta ekstrakulikuler paskibraka ini. “Baiklah pasukan, silahkan pergunakan waktu istirahat kalian seefisien mungkin.” Komandan upacara membubarkan barisan. “Siap Laksanakan!” Seperti biasanya jawaban mereka kompak dan tegas.
            “Nil, kamu pulang nanti bareng siapa?” Hardi duduk di samping Niluh dengan membawa sebotol air mineral. “Eh, Di ngapain kamu bawa botol air minum? Bukannya kamu sedang berpuasa ya?”Niluh terheran sampai tak menjawab pertanyaan dari Hardi. “Ah, ini buat kamu.” Hardi menyodorkan botol air mineral tersebut pada Niluh. Namun Niluh hanya menatap tanpa mengambil botol tersebut. “Meskipun aku tak beragama muslim tapi aku masih menghargai kawan-kawan yang sedang berpuasa Di. Tapi mengapa kamu sendiri sebagai umat muslim malah tak menghargainya? Oh kamu mau mengejek agamaku begitu? Yang tidak bisa menghargai ibadah umat lain iya?” Hardi terkejut melihat Niluh yang tiba-tiba marah, padahal ia sedikit pun tak berniat jelek seperti yang Niluh tuduhkan. “Nil, kamu jangan salah paham. Aku tahu hari ini kamu sedang tidak enak badan, mukamu pucat begitu. Mana mungkin aku membiarkan kawanku sendiri jatuh pingsan saat melanjutkan latihan nanti.” Hardi mencoba menjelaskan. “Ah,alasan saja kamu. Ternyata kamu sama saja!” Niluh menampik botol air mineral yang digenggam oleh Hardi kemudian berlalu pergi meninggalkan Hardi dengan diikuti beberapa pasang ekor mata yang berada di dekatnya.
            ‘Ada apa dengan Niluh sebenarnya?’ Hardi membatin dan memikirkan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu ‘Mengapa tiba-tiba ia jadi marah-marah begitu?’ Hardi masih memandangi botol air mineral yang kosong karena isinya sudah tertumpah diserap tanah. Hardi memang tak pernah bermaksud sedikit pun membedakan suku,ras,bahkan agama meskipun ia pemeluk agama Islam yang taat. Menurutnya semua aliran agama pasti mengajarkan tentang kebaikan. Apalagi kepada Niluh yang baru ia kenal beberapa hari ini ketika mengikuti pelatihan paskibraka tingkat kabupaten. Hardi sangat beruntung terpilih menjadi pasukan pengibar bendera pada tanggal 17 Agustus nanti di pelataran alun-alun kota. Dari seleksi yang diadakan ia sangat bangga terpilih menjadi pasukan inti pengibar bendera. Namun rasanya bangga itu pudar ketika kawan pasukan intinya Niluh Warda Yuanda tiba-tiba marah padanya.
*****
            “Aduh.” Hardi mengurungkan niatnya untuk menaiki sepedanya. Ia duduk memperhatikan sepatunya yang sudah menganga meminta makan. Hardi melepas sepasang sepatu tua milik ayahnya yang kata ayahnya itu sepatu peninggalan dari kakeknya. Bahkan Hardi tak habis pikir mengapa sepatu tua itu masih bisa jatuh pada sepasang kakinya padahal sudah bertahun-tahun digunakan. “Lecet lagi.” Hardi melepas kaos kakinya dan melihat jemari kakinya lecet ulah sepasang sepatu tua milik kakeknya. Ia mengipas-ngipas kakinya dengan kedua tangan,sesekali ia meniupnya pula. ‘Hardi kenapa ya itu?’ Dari jauh Niluh memperhatikan raut wajah Hardi yang terlihat kesakitan. Ia mengurungkan niat untuk menghampiri Hardi karena konflik beberapa menit yang lalu. Niluh sendiri tak mengerti, mengapa ia tiba-tiba emosi. Mungkin teringat kejadian beberapa tahun silam yang masih terkenang dengan begitu garang. “Non,ayo non.” Pak Diman supir pribadinya membuyarkan kenangan pahit itu. Ia masuk mobil dengan masih menatap Hardi penasaran. Mobilnya melaju perlahan, melewati Hardi yang masih terlihat kesakitan. ‘Hardi Anggara, aku heran fisiknya begitu kuat, Ia tempuh perjalanan dari rumahnya yang berada di ujung kota ini menuju alun-alun kota dengan mengayuh sepeda’ Niluh bergumam sendiri sambil tak lepas memndangi Hardi di balik kaca mobilnya.
*****
            ‘Niluh, seorang anak pengusaha dari keturunan asli Bali. Tak salah jika sorot matanya begitu tajam. Mungkin karena terlatih menari Bali, juga jemari lentiknya yang tersimpan di balik sarung tangan putih saat membawa sang saka Merah Putih, rambutnya hitam legam dipotong sejajar kedua telinganya karena tuntutan tugas menjadi pasukan inti pengibar bendera. Mungkin jika rambut lurusnya panjang akan menambah kecantikan dirinya’ Hardi mengayuh sepedanya sambil membayangkan Niluh yang tadi marah-marah dengannya. ‘Ah,mengapa aku jadi memikirkan tentang Niluh sih? Sudah ah, hampir maghrib, aku harus segera sampai di rumah.’ “Aduh,sshhh. Masih sakit saja rupanya kaki ini.” Hardi mengaduh karena lecet kakinya yang terasa ngilu.
*****
            “Apa sih? Kalian ini pergi sana jangan ganggu aku.” Niluh nampak ketakutan karena dihadang oleh beberapa laki-laki di jalanan komplek dekat alun-alun yang sudah sepi. Segerombolan laki-laki itu menarik-narik tangan Niluh dan tas ranselnya. “Ternyata pasukan pengibar bendera secantik ini ya broo.” “Iya broo mending dia jadi pengibar kepuasan kita malam ini saja.” “Ha ha ha ha ha ha.” Para lelaki itu semakin kurang ajar terhadap Niluh, ia hanya bisa berusaha melindungi diri juga air matanya yang ia tahan tanpa henti. “Ayo sini manis...” Salah satu laki-laki mencoba memeluk Niluh dengan paksa “Tolong...Tolong...” Niluh menjerit ketakutan, seakan suaranya pun tak selantang biasanya dihantam rasa takut. Tubuhnya kaku namun juga terasa begitu lemas, keringat bercucuran padahal udara masih terasa dingin malam ini. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. “Hei, mau apa kalian? Jangan ganggu dia.” Di tengah kepasrahan Niluh tiba-tiba sosok Hardi datang. Ia menghampiri para lelaki bajingan itu, melawan mereka satu per satu. Niluh masih saja beku tapi ia sadar harus melakukan sesuatu. Tak mungkin ia membiarkan Hardi seorang diri melawan para lelaku yang berjumlah lebih dari satu itu. Niluh berlari sambil meminta tolong, untunglah kawan-kawan paskibranya masih ada yang duduk-duduk di pendopo alun-alun, ia segera memberitahukan kepada mereka bahwa Hardi dalam bahaya. Dengan segera mereka menuju komplek yang  disebutkan Niluh. Lalu kawan-kawannya itu membantu Hardi menghajar para lelaki pengganggu tersebut.
            “Di, kamu nggak apa-apa?” Niluh menghampiri Hardi yang telah dihiasi memar di wajahnya sana-sini. “Nggak apa-apa Nil. Kamu sendiri nggak kenapa-kenapa kan? Mengapa lewat jalan sepi begini sendiri?” Tampak raut muka Hardi khawatir bercampur kesakitan. “Aku terpaksa jalan kaki karena supirku mengantar mamaku ke bandara.” “Lalu mengapa kamu tak memintaku atau kawan-kawan untuk menemanimu pulang?” “Ku pikir rumahku dekat-dekat sini saja.” “Tapi bahaya kan kalau kamu lewat sendirian di jalan sepi begini.” “Ayo Di, kamu ke rumahku dulu saja. Nanti aku obati lukamu ini. Eh, kakimu? Sepatumu mana?” “Ah,sepatuku di dalam tas. Nggak apa-apa kok.” Niluh memapah Hardi dan kawan-kawannya berhasil membuat keok pada lelaki penggangu tersebut. Mereka mengantarkan Niluh dan Hardi menuju rumah Niluh.
            “Ssshh...” Hardi mengaduh kesakitan. “Maaf ya Di gara-gara aku kamu jadi begini.” Raut penyesalan terpampang jelas di wajah Niluh. “Tak apa-apa Nil.” Niluh dengan telaten merawat luka memar di sekitar wajah Hardi. “Niluh, aku minta maaf ya tentang konflik kemarin,aku benar-benar tak bermaksud untuk...” “Ah,sudah lupakan Di. Aku yang terlalu emosi saat itu. Aku hanya teringat papaku.” Tiba-tiba Niluh meneteskan air mata. “Ada apa Nil?” Hardi terkejut melihat Niluh tiba-tiba menangis. “Papaku, dibunuh dalam kerusuhan yang ada di Bali beberapa tahun yang lalu. Dan para pembunuh itu mengatasnamakan umat muslim. Semenjak kejadian itu aku trauma Di, maafkan aku.” “Maaf Nil, aku mengerti perasaanmu maafkan aku ya.” “Aku yang salah Di, oh iya kaki kamu mengapa lecet-lecet begitu?” “Oh ini, nggak apa-apa kok. Aku memakai sepasang sepatu tua peninggalan kakek, sudah usang sih namun masih layak pakai. Sebenarnya aku masih menabung untuk membeli sepatu baru.”
*****
            Saat yang dinanti pun tiba, pengibaran sang saka Merah Putih akan segera dilaksanakan. “Di, kamu pakai ini ya.” Niluh menghampiri Hardi yang sibuk menutup lubang di sepatunya. “Apa ini Nil?” “Aku belikan kamu sepasang sepatu baru untuk pelaksanaan tugas kita nanti.” Niluh tersenyum manis pada Hardi dan segera berlalu. 

by : Rena Kharisma
#cerpen24jam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik