Yang
hilang biarlah hilang
Yang pergi biarkan mati
Lirik lagu itu berdendang keras di kamar Kharis, sebuah
lagu dari New Eta yang menambah sayatan-sayatan di hatinya tapi sekaligus
menjadi obat penenang bagi kegilaannya menggilai kenangan bersama Faiz. Ya,
sudah 2 tahun silam ia mencantumkan diri sebagai single happy alias jomblo masa
kini. Namun Kharis terkadang tak peduli akan memori-memori yang sesekali
menyeruak dalam benak diri. Kharis bukan tipe seorang yang mengemis cinta pada
laki-laki. Memang masa indah bersama Faiz dibekukan hanya dengan sebuah pesan
singkat yang bertuliskan “Kita udahan aja ya” yang mampu membuatnya tak
berkutik malam ini dan menangisi segala perjuangan selama ini mencintai seorang
Faiz yang ia kasihi. Mungkin Faiz memilih tuk menyerah pada keadaan namun
Kharis adalah seorang yang tak ingin memasrahkan diri pada keadaan. Mungkin
Kharis berulang kali pernah mengatakan ia menyerah tuk kembali mengingat
kenangannya bersama Faiz, nyatanya pikiran dan perasaannya tak mau pernah putus
asa meyakini bahwa Faiz akan kembali.
‘setidaknya aku memiliki kebebasan yang selama ini ia
renggut dariku’ Kharis tersenyum simpul sambil membatin dalam diri. Memang
semenjak bersama Faiz kala itu, ia bagaikan narapidana yang terkurung pada masa
penjajahan. Namun tetap saja rasanya ia tak ingin beranjak pergi dari penjara
itu dan menikmati kehampaan akan kebebasan. Mungkin benar jika ada yang
mengatakan bahwa cinta itu gila, buktinya Kharis tetap saja menggilai Faiz
meskipun tak ada kebebasan yang melepaskannya dari sengsara mencintainya.
“Pokoknya ya, aku nggak mau kalau kamu nggak milih lagi.”
Suara Hanin membuyarkan lamunan Kharis yang sedang sibuk mengubek-ubek diksi.
“Tapi, Nin aku tuh...”
“Duh...sudah deh kamu jangan alasan. Sudah berapa ratus
cowok yang nembak kamu tapi satu pun nggak ada yang kamu terima.”
“Ih, kamu lebay deh. Berapa ratus darimana coba’?”
“Kamu itu ya emang dasar kok, ya begini ini kalau kamu
gampang bosen gini.”
“Gampang bosen? Helloo...kalau aku gampang bosen kenapa
aku bisa bertahan sama Faiz dulu, 3 tahun masih saja kamu bilang aku ini
gampang bosen?”
“Nah ini ini, ini yang bikin kamu nolak semua cowok yang
nembak kamu. Emang pada dasarnya kamu nggak bisa move on sih.”
Mungkin peribahasa yang mengatakan bahwa mati satu tumbuh
seribu bagi Kharis benar-benar berlaku saat ini. Semenjak Faiz pergi memutuskan
untuk meninggalkannya banyak sekali laki-laki yang mendekatinya, berharap dapat
menggantikan posisi Faiz. Namun tetap saja Kharis sulit sekali menghapus jejak
kenangan bersama Faiz kala itu. Masa SMA yang begitu merona akan kisah cinta
yang kini musnah sudah.
*****
“Sama siapa sekarang si Faiz Ris?”
“Ah,entahlah bun.”
Pertanyaan yang sering ditanyakan bunda pada Kharis,
perbincangan kala senja yang terlalu menggoreskan kecewa. Hubungan mereka
berdua memang sudah diketahui oleh kedu orang tua Kharis bahkan sang Bunda pun
sangat mempercayakan Kharis pada Faiz. Hal inilah salah satu yang membuat
Kharis sulit sekali untuk berpaling dari kenangan bersama Faiz.
“Ris, bunda nggak bermaksud membuat kamu sedih terus
karena menanyakan Faiz. Tapi bunda berharap dan berdoa kamu akan mendapatkan
seseorang yang jauh lebih baik dari Faiz.”
“Tapi bunda seakan-akan tidak rela aku berpisah dengan
Faiz. Bunda tahu sendiri kan, bukan aku yang menginginkan.” Mata Kharis mulai
berkaca-kaca
“Sayang, tidak begitu yang bunda maksudkan tapi...”
“Apa Bund? Bunda berpikir aku menjadi liar semenjak aku
nggak sama Faiz iya? Bunda lebih senang Kharis dikekang , nggak punya
kebebasan.” Tiba-tiba Kharis mulai terisak
“Kharis sayang...” Bunda mencoba menenangkan Kharis “Dengarkan
bunda dulu...”
“Sudahlah bun, aku capek.” Kharis beranjak dari kursinya
menuju kamar
‘Darimana aku bisa move on kalau bunda pun seperti ini.’
Kharis memeluk boneka teddy bearnya sambil menangis.
I love you, i love
you, i love you
Tiba-tiba muncul suara yang keluar dari boneka itu.
Kharis teringat kembali bahwa boneka ini ada kado dari Faiz beberapa waktu
silam. Ia mencari kembali tombol dalam perut boneka itu untuk mendengarkan
suaranya kembali.
I love you, i love
you, i love you
‘Ah, hanya boneka ini yang setia memberikan ucapan cinta
untukku. Sedangkan pemilikinya sudah tak tentu mencintaiku.’ Kharis memeluk
erat kembali boneka Teddy Bear yang dulu sempat ia anggurkan selama beberapa
bulan. Ternyata tombol di dalam perut boneka itu masih saja menjadi tombol
pengingat bahwa Faiz dulu pernah mencintainya.
Lagu rindu ini ku
ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Ponsel Kharis berbunyi menandakan ada satu pesan singkat
yang masuk. Tapi ia tak segera membukanya, ia termangu karena lagu rindu itu mengalun
mengingatkannya. Kharis beranjak dari tempat tidurnya, ia membuka laci meja
belajarnya, ada kotak kecil dengan tutup pembukanya berbentuk hati. ‘sudah
berdebu rupanya’ batin Kharis seraya menghapus air matanya.
Kemudian ia memencet bentuk hati tersebut sehingga
terbukalah kotak manis berwarna cokelat muda itu. Terpampanglah barang-barang
kenangannya bersama Faiz kala itu. Ada tiket nonton bioskop, ada surat cinta,
ada parfum milik Faiz, tapi tak ada satu pun foto tentang mereka berdua di
dalamnya. Ternyata tutup pembuka kotak ini juga menjadi tombol pengingat masa
lalunya.
“Kharis sayang...” Bunda menghampiri Kharis yang masih
termenung dengan barang-barang yang ada di dalam kotak manis itu.
“Bunda minta maaf ya sayang, sudah sering mengusikmu
dengan pertanyaan bunda yang seperti itu. Bunda selalu berdoa yang terbaik buat
kamu, maafkan bunda yang pernah mengatakan kamu menjadi anak liar setelah tak
bersama Faiz lagi. Tapi bunda tahu bahwa kamu memang mencintai kebebasan namun
kamu masih bisa menjaga diri. Bunda salut sama kamu Ris.” Bunda mengelus-elus
rambut Kharis, Kharis pun membaur dalam pelukan bundanya.
Kharis mengerti, ia tak perlu bersedih karena terlalu
mencintai. Biarkan saja masa lalu itu menjadi elegi saat ini.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar