Kamis, 15 Agustus 2013

Tombol Pengingat

           Yang hilang biarlah hilang
           Yang pergi biarkan mati

            Lirik lagu itu berdendang keras di kamar Kharis, sebuah lagu dari New Eta yang menambah sayatan-sayatan di hatinya tapi sekaligus menjadi obat penenang bagi kegilaannya menggilai kenangan bersama Faiz. Ya, sudah 2 tahun silam ia mencantumkan diri sebagai single happy alias jomblo masa kini. Namun Kharis terkadang tak peduli akan memori-memori yang sesekali menyeruak dalam benak diri. Kharis bukan tipe seorang yang mengemis cinta pada laki-laki. Memang masa indah bersama Faiz dibekukan hanya dengan sebuah pesan singkat yang bertuliskan “Kita udahan aja ya” yang mampu membuatnya tak berkutik malam ini dan menangisi segala perjuangan selama ini mencintai seorang Faiz yang ia kasihi. Mungkin Faiz memilih tuk menyerah pada keadaan namun Kharis adalah seorang yang tak ingin memasrahkan diri pada keadaan. Mungkin Kharis berulang kali pernah mengatakan ia menyerah tuk kembali mengingat kenangannya bersama Faiz, nyatanya pikiran dan perasaannya tak mau pernah putus asa meyakini bahwa Faiz akan kembali.
            ‘setidaknya aku memiliki kebebasan yang selama ini ia renggut dariku’ Kharis tersenyum simpul sambil membatin dalam diri. Memang semenjak bersama Faiz kala itu, ia bagaikan narapidana yang terkurung pada masa penjajahan. Namun tetap saja rasanya ia tak ingin beranjak pergi dari penjara itu dan menikmati kehampaan akan kebebasan. Mungkin benar jika ada yang mengatakan bahwa cinta itu gila, buktinya Kharis tetap saja menggilai Faiz meskipun tak ada kebebasan yang melepaskannya dari sengsara mencintainya.
            “Pokoknya ya, aku nggak mau kalau kamu nggak milih lagi.” Suara Hanin membuyarkan lamunan Kharis yang sedang sibuk mengubek-ubek diksi.
            “Tapi, Nin aku tuh...”
            “Duh...sudah deh kamu jangan alasan. Sudah berapa ratus cowok yang nembak kamu tapi satu pun nggak ada yang kamu terima.”
            “Ih, kamu lebay deh. Berapa ratus darimana coba’?”
            “Kamu itu ya emang dasar kok, ya begini ini kalau kamu gampang bosen gini.”
            “Gampang bosen? Helloo...kalau aku gampang bosen kenapa aku bisa bertahan sama Faiz dulu, 3 tahun masih saja kamu bilang aku ini gampang bosen?”
            “Nah ini ini, ini yang bikin kamu nolak semua cowok yang nembak kamu. Emang pada dasarnya kamu nggak bisa move on sih.”
            Mungkin peribahasa yang mengatakan bahwa mati satu tumbuh seribu bagi Kharis benar-benar berlaku saat ini. Semenjak Faiz pergi memutuskan untuk meninggalkannya banyak sekali laki-laki yang mendekatinya, berharap dapat menggantikan posisi Faiz. Namun tetap saja Kharis sulit sekali menghapus jejak kenangan bersama Faiz kala itu. Masa SMA yang begitu merona akan kisah cinta yang kini musnah sudah.
*****
            “Sama siapa sekarang si Faiz Ris?”
            “Ah,entahlah bun.”
            Pertanyaan yang sering ditanyakan bunda pada Kharis, perbincangan kala senja yang terlalu menggoreskan kecewa. Hubungan mereka berdua memang sudah diketahui oleh kedu orang tua Kharis bahkan sang Bunda pun sangat mempercayakan Kharis pada Faiz. Hal inilah salah satu yang membuat Kharis sulit sekali untuk berpaling dari kenangan bersama Faiz.
            “Ris, bunda nggak bermaksud membuat kamu sedih terus karena menanyakan Faiz. Tapi bunda berharap dan berdoa kamu akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Faiz.”
            “Tapi bunda seakan-akan tidak rela aku berpisah dengan Faiz. Bunda tahu sendiri kan, bukan aku yang menginginkan.” Mata Kharis mulai berkaca-kaca
            “Sayang, tidak begitu yang bunda maksudkan tapi...”
            “Apa Bund? Bunda berpikir aku menjadi liar semenjak aku nggak sama Faiz iya? Bunda lebih senang Kharis dikekang , nggak punya kebebasan.” Tiba-tiba Kharis mulai terisak
            “Kharis sayang...” Bunda mencoba menenangkan Kharis “Dengarkan bunda dulu...”
            “Sudahlah bun, aku capek.” Kharis beranjak dari kursinya menuju kamar
            ‘Darimana aku bisa move on kalau bunda pun seperti ini.’ Kharis memeluk boneka teddy bearnya sambil menangis.
            I love you, i love you, i love you
            Tiba-tiba muncul suara yang keluar dari boneka itu. Kharis teringat kembali bahwa boneka ini ada kado dari Faiz beberapa waktu silam. Ia mencari kembali tombol dalam perut boneka itu untuk mendengarkan suaranya kembali.
            I love you, i love you, i love you
            ‘Ah, hanya boneka ini yang setia memberikan ucapan cinta untukku. Sedangkan pemilikinya sudah tak tentu mencintaiku.’ Kharis memeluk erat kembali boneka Teddy Bear yang dulu sempat ia anggurkan selama beberapa bulan. Ternyata tombol di dalam perut boneka itu masih saja menjadi tombol pengingat bahwa Faiz dulu pernah mencintainya.

            Lagu rindu ini ku ciptakan
            Hanya untuk bidadari hatiku tercinta

            Ponsel Kharis berbunyi menandakan ada satu pesan singkat yang masuk. Tapi ia tak segera membukanya, ia termangu karena lagu rindu itu mengalun mengingatkannya. Kharis beranjak dari tempat tidurnya, ia membuka laci meja belajarnya, ada kotak kecil dengan tutup pembukanya berbentuk hati. ‘sudah berdebu rupanya’ batin Kharis seraya menghapus air matanya.
            Kemudian ia memencet bentuk hati tersebut sehingga terbukalah kotak manis berwarna cokelat muda itu. Terpampanglah barang-barang kenangannya bersama Faiz kala itu. Ada tiket nonton bioskop, ada surat cinta, ada parfum milik Faiz, tapi tak ada satu pun foto tentang mereka berdua di dalamnya. Ternyata tutup pembuka kotak ini juga menjadi tombol pengingat masa lalunya.
            “Kharis sayang...” Bunda menghampiri Kharis yang masih termenung dengan barang-barang yang ada di dalam kotak manis itu.
            “Bunda minta maaf ya sayang, sudah sering mengusikmu dengan pertanyaan bunda yang seperti itu. Bunda selalu berdoa yang terbaik buat kamu, maafkan bunda yang pernah mengatakan kamu menjadi anak liar setelah tak bersama Faiz lagi. Tapi bunda tahu bahwa kamu memang mencintai kebebasan namun kamu masih bisa menjaga diri. Bunda salut sama kamu Ris.” Bunda mengelus-elus rambut Kharis, Kharis pun membaur dalam pelukan bundanya.

            Kharis mengerti, ia tak perlu bersedih karena terlalu mencintai. Biarkan saja masa lalu itu menjadi elegi saat ini. 

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik