Kali ini saya akan memberikan pengalaman pertama saya memperoleh kuliah Apresiasi Puisi pada semester tiga. Pertemuan pertama dosen saya yang juga seorang penulis Pak Tengsoe Tjahjono. Apresiasi Puisi adalah mata kuliah yang paling saya tunggu-tunggu dalam semua mata kuliah yang akan saya dapatkan pada perkuliahan sastra.Beliau menjelaskan bahwa apresiasi puisi merupakan kegiatan 1.)Resepsi 2.)Produksi 3.)Perfomansi 4.)Dokumentasi. Pertemuan kedua perkuliahan Pak Tengsoe menyuruh saya dan kawan-kawa sekelas untuk menulis satu kata tentang puisi "Misalnya puisi adalah rindu, anda bikin sebanyak tiga baris." begitu instruksi dari beliau. Saya sangat antusias dan menuliskan satu kata tentang puisi sebanyak empat kata sekaligus padahal menurut saya puisi tak akan ada habisnya apalagi dibatasi dengan satu kata saja. Menurut saya puisi adalah :
- Puisi adalah renung
- Puisi adalah kenang
- Puisi adalah angan
- Puisi adalah diksi
Kemudian pak Tengsoe menunjuk beberapa kawan untuk membacakan satu kata sebanyak 3 baris itu bergantian. Tetapi saya tak mendapatkan giliran untuk membacakan. Lalu beliau memberikan satu instruksi lagi "Lanjutkan kalimat puisi adalah tersebut menjadi satu kalimat lagi yang lebih panjang." Saya melanjutkan empat kalimat saya tersebut menjadi seperti ini :
- Puisi adalah renung dalam batas sepi
- Puisi adalah renung dalam batas sepi
- Puisi adalah angan di pucuk awang-awang
- Puisi adalah diksi yang beradu pada memori
Pada giliran pembacaan ini pun saya tidak mendapat giliran padahal saya sudah menggebu-gebu ingin membacakannya. Pada instruksi selanjutnya beliau menginstruksikan untuk membuat puisi dengan awalan kalimat yang telah kami buat sebelumnya sehingga pada puisi kilat saya tercipta empat bait. Seperti inilah puisi saya yang tercipta selama lima belas menit :
CUMBU
PUISI
Puisi adalah renung dalam batas sepi
Merongrong sunyi pada senja berelegi
Mengisahkan lara diri
Menyuratkan perih di bilik nurani
Puisi adalah kenang yang kadang penuh silang
Terkadang pula tergores centang
Tapi akulah yang berdalang
Puisi adalah angan di pucuk awang-awang
Bersiul-siul dalam rinai pikiran yang jalang
Berpesta cumbu pada cahaya nan gumilang
Puisi adalah diksi yang beradu pada memori
Meluapkan rintih penuh ironi
Berperang batin bersama mimpi
Berpeluk mesra padamu
dambaan hati
Setelah puisi ini tercipta saya mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi berjudul "Cumbu Puisi" ini di depan kelas. Setelah itu Pak Tengsoe menjelaskan materi perkuliahan tentang batasan-batasan dalam berpuisi yang sesungguhnya sudah mulai mencair. Puisi adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan. Beliau mengatakan pada puisi tak hanya melulu pada pemilihan kata namun yang terpenting ada kepandaian menata kata yang sangat diperlukan. Meskipun kata-kata yang dipilih sangat sederhana dan biasa-biasa saja namun ketika kita pandai merangkainya maka terciptalah puisi yang indah.Pak Tengsoe juga menyatakan bahwa dalam teks puisi kata-kata yang digunakan harus berani.
By: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar