Rabu, 06 November 2013

Cinta Bulan Purnama


                Kenalin namaku Kharisa Luna Plena, kata papaku aku dilahirkan pada saat bulan purnama jadi papa memberi nama Luna Plena yang dalam bahasa latin berarti Bulan Purnama. Biasanya aku dipanggil Kharisa karena itu nama depanku, Kharisa adalah nama dari mamaku tercinta yang belum sempat aku merasakan kasih sayangnya karena beliau meninggal setelah melahirkan aku. Terkadang aku rindu dengan mamaku dan bertanya pada Tuhan mengapa harus mama yang Dia ambil, mengapa bukan aku saja, aku tak keberatan jika tidak mengetahui bagaimana kehidupan di dunia. Biasanya ketika aku rindu dengan mama, aku selalu pergi ke taman disaat bulan purnama. Disana aku merasa mama sedang menatapku lewat indahnya sinar bulan purnama.
            Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, aku mengambil jurusan sastra Indonesia karena aku selalu tertarik dengan sastra, aku senang sekali menciptakan puisi meskipun tidak sebagus yang aku pikirkan. Aku sangat senang sekali ketika mengetahui jika di jurusanku ini setiap malam bulan purnama mengadakan acara berbau sastra biasanya disebut dengan “Malam Sastra Bulan Purnama” disana aku dan kawan-kawan sejurusan bisa mengapresiasikan apapun tentang sastra baik itu musikalisasi puisi, teatrikal puisi, atau drama. Untuk Malam Sastra Bulan Purnama kali ini aku ikut berpastisipasi dalam musikalisasi puisi. Selain karena aku menyukai acara ini selalu diadakan saat bulan purnama, aku juga sangat senang karena di setiap acara itu pasti aku akan bisa bertemu dengan kak Afriza. Dia adalah kakak angakatanku, aku sangat mengaguminya. Sosoknya begitu berwibawa dengan wajah kalem dan pembawaannya yang begitu tenang. Dia bagaikan sang Don Juan yang lihai merayu para wanita dengan kata-katanya, apalagi ketika dia membacakan puisi rasanya hati wanita siapapun akan luluh.
            “Ris, kamu udah siap belum?” Rani membuyarkan lamunanku saat aku memandang Kak Afriza yang sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya.
            “Eh,ee udah kok.” Jawabku tergagap
            “Kamu kenapa sih? Melamun aja.”
            “Ah, enggak kok. Oh iya, si Hanin udah beli snack sama lilinnya belum?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
            “Udah dong, dia lagi di jalan.”
            “Yaudah deh jangan lupa sisain buat aku satu jangan dihabisin sendiri.” Aku berlalu meninggalkan Rani dan segera bersiap di balik panggung.
            Suasana malam itu begitu syahdu aku rasakan, seringkali aku menengadah ke atas untuk melihat bulan purnama yang bulatnya begitu sempurna dan terangnya seakan memberikan energi untukku. Pandangku kembali tertuju pada Kak Afriza yang juga sedang bersiap-siap dibalik panggung, aku memperhatikannya sedang membaca puisi dengan lirih. Aku dengar samar-samar puisi tersebut bertemakan tentang cinta, aku berpikir dan berbicara dalam hati “Bagaimana bukan bertema cinta puisi cinta kan spesialisnya Kak Afriza.” Anehnya mengapa ketika itu dia beralih menoleh padaku disaat ada bait puisi yang berbunyi “Bulan Purnama pun tiada menyangka jika aku ingin dia berada disisiku.” Ah,mungkin ini hanya ilusiku saja karena rasa gugupku untuk tampil di atas panggung nanti. Namun mengapa aku merasa sosok Kak Afriza semakin mendekat padaku, aku tak begitu jelas melihat wajahnya karena di balik panggung saat itu minim sekali penerangan. Ketika sosok itu hanya berjarak beberapa langkah saja tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh pembawa acara. Akhirnya aku naik ke atas panggung yang sedari dulu ada di depan gedung jurusanku yang dikelilingi taman berbunga. Saat itu aku hanya membawa sebuah gitar klasik milik papa. Aku akan mempersembahkan puisi ini untuk mamaku yang sedang bahagia di surga. Petikan gitar mengiringi puisiku dengan merdu, tiap baitnya selalu ku hayati hingga tak terasa air mata membasahi pipiku ketika aku tutup penampilanku dengan sebuah lagu berjudul “Bunda” dari  Melly Goeslow. Tepuk tangan meriah dari para penonton seakan menambah syahdu malam ini, apalagi aku juga melihat ada beberapa teman atau kakak angkatanku yang mengusap pipinya tanda bahwa mereka ikut terenyuh oleh suguhan puisi dan nyanyianku. Saat itu rasanya ingin sekali aku merengkuh bulan purnama diatas sana, mencoba memaksanya untuk mau mempertemukanku dengan mama yang tak pernah terlihat nyata di hidupku.
            Ketika aku ingin beranjak dari panggung tiba-tiba pembawa acara menghampiriku dan mencegahku untuk beranjak dari atas panggung.
            “Tunggu dulu Kharisa, kami ingin berbicang sebentar denganmu.” Kata pembawa acara sambil merangkul pundakku.Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan.
            “Wah...sepertinya puisi yang kamu bacakan dan lagu yang kamu nyanyikan itu sungguh menyentuh hati kami semua. Kamu juga sangat mengahayati puisi dan lagu tersebut sampai-sampai kamu menitikkan air mata. Apakah ada suatu pengalaman tertentu di dalamnya?”
            Oh, rasanya aku ingin lebih menangis saja disuguhi pertanyaan demikian.
            “Emm...” Aku masih terhenyak dan berusaha keras menahan air mataku yang sulit sekali terbendung. “Sebenarnya lagu ini untuk almarhumah mama yang sudah tenang di alam surga sana.” Aku mencoba menguatkan hati akan suaraku tidak bergetar dan masih bisa didengar.
            “Oh, maaf Kharisa kami tidak mengetahuinya.” Pembawa acara merasa menyesal dan bersalah telah menanyakan hal seperti itu.
            “Ah, tidak apa-apa saat ini saya juga sedang merindukan mama jadi saya menyanyikan dan membacakan puisi ini untuk mama yang tak pernah saya lihat sosoknya sekalipun. Biasanya saya akan memandangi bulan purnama ketika merindukan mama, dan acara ini saya anggap sebagai apresiasi untuk rasa rindu saya terhadap mama. Karena saya juga sangat menyukai bulan purnama.” Akhirnya aku berhasil menenangkan diri, lalu pembawa acara mempersilahkan aku beranjak dari atas panggung.
            Telah lama aku menunggu akhirnya tiba saatnya penampilan dari kak Afriza. Seandainya saja itu puisi untukku. Aku memperhatikan tiap bait puisi yang dia bacakan, ekspresi wajahnya yang tampak begitu menghayati puisinya.Ketika itu aku tepat berada di depannya menjadi penonton setelah aku tampil diatas panggung. Kak Afriza begitu mempesona saat itu, sosoknya seakan menjelma menjadi dewa pujangga yang diutus dari kahyangan. Apalagi ketika ekspresinya memejamkan mata dan menengadah keatas ke arah bulan purnama seakan siluetnya menegaskan bahwa ialah benar dewa pujangga. Namun di akhir puisinya ada seorang cewek yang naik ke atas panggung dan memberinya bunga mawar. Rasanya ledakan cemburu di hatiku menggebu-gebu dan bertanya-tanya siapa cewek itu.
            Malam pun makin larut, Malam Sastra Bulan Purnama pun berakhir. Entah mengapa malam itu berubah menjadi begitu suram. Aku takut bukan kepalang karena aku masih teringat kejadian dimana ada salah seorang mahasiswi yang bunuh diri di kampus, apalagi saat itu aku melihat sendiri bagaimana dia terjatuh semakin begidik saja bulu kudukku. Namun aku mencoba memberanikan diri berjalan sendiri karena aku yakin purnama bersama kawanan bintangnya masih menerangi setiap langkah kakiku. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mengikuti dari belakang, jantungku berdebar, rasa takut semakin menjalariku, denyut nadiku mengalir begitu cepat. Aku merasakan malam semakin dingin saat itu, aku merasa tak berani untuk terus melangkah lagi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk dapat berlari, namun ketika langkah awalku untuk berlari telah siap terlepas tiba-tiba pundakku terasa berat oleh cengkeraman tangan, oh tidak rasanya saat itu aku membeku dan ingin mati saja. Aku hanya diam, berdoa dalam hati yang gelisah, tiba-tiba aku merasakan hembusan napas di telingaku membuat desiran mengerikan di tubuhku, semakin mendekat dan mendekat lalu ada suara yang terekam lewat telingaku “Hay Luna Plena si gadis bulan purnama.”  Aku kaget bukan kepalang, ku beranikan diri menoleh ke belakang menyelidik siapa sosok itu. Ketika pandangku menangkap sosok itu ,aku hanya menganga dan terpana menatap wajah yang tepat berada di depanku. Ternyata dia adalah Kak Afriza, oh Tuhan ada angin apa sehingga dia mengetahui nama lengkapku dan mengahampiriku seperti saat ini.
            “Mengapa gadis bulan purnama ini hanya membundarkan bibir mungilnya? Tidakkah dia memberika senyuman padaku yang sudah lama mengaguminya di pengantar sinaran bulan purnama?.” Kak Afriza tersenyum padaku dengan anggunnya, kemudian aku tersenyum simpul dibalut rasa penasaran atas ucapannya yang baru saja aku dengar.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik