Kenalin
namaku Kharisa Luna Plena, kata papaku aku dilahirkan pada saat bulan purnama
jadi papa memberi nama Luna Plena yang dalam bahasa latin berarti Bulan
Purnama. Biasanya aku dipanggil Kharisa karena itu nama depanku, Kharisa adalah
nama dari mamaku tercinta yang belum sempat aku merasakan kasih sayangnya
karena beliau meninggal setelah melahirkan aku. Terkadang aku rindu dengan
mamaku dan bertanya pada Tuhan mengapa harus mama yang Dia ambil, mengapa bukan
aku saja, aku tak keberatan jika tidak mengetahui bagaimana kehidupan di dunia.
Biasanya ketika aku rindu dengan mama, aku selalu pergi ke taman disaat bulan
purnama. Disana aku merasa mama sedang menatapku lewat indahnya sinar bulan
purnama.
Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya,
aku mengambil jurusan sastra Indonesia karena aku selalu tertarik dengan
sastra, aku senang sekali menciptakan puisi meskipun tidak sebagus yang aku
pikirkan. Aku sangat senang sekali ketika mengetahui jika di jurusanku ini
setiap malam bulan purnama mengadakan acara berbau sastra biasanya disebut
dengan “Malam Sastra Bulan Purnama” disana aku dan kawan-kawan sejurusan bisa
mengapresiasikan apapun tentang sastra baik itu musikalisasi puisi, teatrikal
puisi, atau drama. Untuk Malam Sastra Bulan Purnama kali ini aku ikut
berpastisipasi dalam musikalisasi puisi. Selain karena aku menyukai acara ini
selalu diadakan saat bulan purnama, aku juga sangat senang karena di setiap
acara itu pasti aku akan bisa bertemu dengan kak Afriza. Dia adalah kakak
angakatanku, aku sangat mengaguminya. Sosoknya begitu berwibawa dengan wajah
kalem dan pembawaannya yang begitu tenang. Dia bagaikan sang Don Juan yang
lihai merayu para wanita dengan kata-katanya, apalagi ketika dia membacakan
puisi rasanya hati wanita siapapun akan luluh.
“Ris, kamu udah siap belum?” Rani membuyarkan lamunanku
saat aku memandang Kak Afriza yang sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya.
“Eh,ee udah kok.” Jawabku tergagap
“Kamu kenapa sih? Melamun aja.”
“Ah, enggak kok. Oh iya, si Hanin udah beli snack sama
lilinnya belum?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Udah dong, dia lagi di jalan.”
“Yaudah deh jangan lupa sisain buat aku satu jangan
dihabisin sendiri.” Aku berlalu meninggalkan Rani dan segera bersiap di balik
panggung.
Suasana malam itu begitu syahdu aku rasakan, seringkali
aku menengadah ke atas untuk melihat bulan purnama yang bulatnya begitu
sempurna dan terangnya seakan memberikan energi untukku. Pandangku kembali
tertuju pada Kak Afriza yang juga sedang bersiap-siap dibalik panggung, aku
memperhatikannya sedang membaca puisi dengan lirih. Aku dengar samar-samar
puisi tersebut bertemakan tentang cinta, aku berpikir dan berbicara dalam hati
“Bagaimana bukan bertema cinta puisi cinta kan spesialisnya Kak Afriza.”
Anehnya mengapa ketika itu dia beralih menoleh padaku disaat ada bait puisi
yang berbunyi “Bulan Purnama pun tiada menyangka jika aku ingin dia berada
disisiku.” Ah,mungkin ini hanya ilusiku saja karena rasa gugupku untuk tampil
di atas panggung nanti. Namun mengapa aku merasa sosok Kak Afriza semakin
mendekat padaku, aku tak begitu jelas melihat wajahnya karena di balik panggung
saat itu minim sekali penerangan. Ketika sosok itu hanya berjarak beberapa
langkah saja tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh pembawa acara. Akhirnya
aku naik ke atas panggung yang sedari dulu ada di depan gedung jurusanku yang
dikelilingi taman berbunga. Saat itu aku hanya membawa sebuah gitar klasik
milik papa. Aku akan mempersembahkan puisi ini untuk mamaku yang sedang bahagia
di surga. Petikan gitar mengiringi puisiku dengan merdu, tiap baitnya selalu ku
hayati hingga tak terasa air mata membasahi pipiku ketika aku tutup
penampilanku dengan sebuah lagu berjudul “Bunda” dari Melly Goeslow. Tepuk tangan meriah dari para
penonton seakan menambah syahdu malam ini, apalagi aku juga melihat ada
beberapa teman atau kakak angkatanku yang mengusap pipinya tanda bahwa mereka
ikut terenyuh oleh suguhan puisi dan nyanyianku. Saat itu rasanya ingin sekali
aku merengkuh bulan purnama diatas sana, mencoba memaksanya untuk mau
mempertemukanku dengan mama yang tak pernah terlihat nyata di hidupku.
Ketika aku ingin beranjak dari panggung tiba-tiba pembawa
acara menghampiriku dan mencegahku untuk beranjak dari atas panggung.
“Tunggu dulu Kharisa, kami ingin berbicang sebentar
denganmu.” Kata pembawa acara sambil merangkul pundakku.Aku hanya tersenyum dan
mengangguk tanda mengiyakan.
“Wah...sepertinya puisi yang kamu bacakan dan lagu yang
kamu nyanyikan itu sungguh menyentuh hati kami semua. Kamu juga sangat mengahayati
puisi dan lagu tersebut sampai-sampai kamu menitikkan air mata. Apakah ada
suatu pengalaman tertentu di dalamnya?”
Oh, rasanya aku ingin lebih menangis saja disuguhi
pertanyaan demikian.
“Emm...” Aku masih terhenyak dan berusaha keras menahan
air mataku yang sulit sekali terbendung. “Sebenarnya lagu ini untuk almarhumah
mama yang sudah tenang di alam surga sana.” Aku mencoba menguatkan hati akan
suaraku tidak bergetar dan masih bisa didengar.
“Oh, maaf Kharisa kami tidak mengetahuinya.” Pembawa acara
merasa menyesal dan bersalah telah menanyakan hal seperti itu.
“Ah, tidak apa-apa saat ini saya juga sedang merindukan
mama jadi saya menyanyikan dan membacakan puisi ini untuk mama yang tak pernah
saya lihat sosoknya sekalipun. Biasanya saya akan memandangi bulan purnama
ketika merindukan mama, dan acara ini saya anggap sebagai apresiasi untuk rasa
rindu saya terhadap mama. Karena saya juga sangat menyukai bulan purnama.”
Akhirnya aku berhasil menenangkan diri, lalu pembawa acara mempersilahkan aku beranjak
dari atas panggung.
Telah lama aku menunggu akhirnya tiba saatnya penampilan
dari kak Afriza. Seandainya saja itu puisi untukku. Aku memperhatikan tiap bait
puisi yang dia bacakan, ekspresi wajahnya yang tampak begitu menghayati
puisinya.Ketika itu aku tepat berada di depannya menjadi penonton setelah aku
tampil diatas panggung. Kak Afriza begitu mempesona saat itu, sosoknya seakan
menjelma menjadi dewa pujangga yang diutus dari kahyangan. Apalagi ketika
ekspresinya memejamkan mata dan menengadah keatas ke arah bulan purnama seakan
siluetnya menegaskan bahwa ialah benar dewa pujangga. Namun di akhir puisinya
ada seorang cewek yang naik ke atas panggung dan memberinya bunga mawar.
Rasanya ledakan cemburu di hatiku menggebu-gebu dan bertanya-tanya siapa cewek
itu.
Malam pun makin larut, Malam Sastra Bulan Purnama pun
berakhir. Entah mengapa malam itu berubah menjadi begitu suram. Aku takut bukan
kepalang karena aku masih teringat kejadian dimana ada salah seorang mahasiswi
yang bunuh diri di kampus, apalagi saat itu aku melihat sendiri bagaimana dia
terjatuh semakin begidik saja bulu kudukku. Namun aku mencoba memberanikan diri
berjalan sendiri karena aku yakin purnama bersama kawanan bintangnya masih
menerangi setiap langkah kakiku. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang
mengikuti dari belakang, jantungku berdebar, rasa takut semakin menjalariku,
denyut nadiku mengalir begitu cepat. Aku merasakan malam semakin dingin saat
itu, aku merasa tak berani untuk terus melangkah lagi. Aku mencoba sekuat tenaga
untuk dapat berlari, namun ketika langkah awalku untuk berlari telah siap
terlepas tiba-tiba pundakku terasa berat oleh cengkeraman tangan, oh tidak
rasanya saat itu aku membeku dan ingin mati saja. Aku hanya diam, berdoa dalam
hati yang gelisah, tiba-tiba aku merasakan hembusan napas di telingaku membuat
desiran mengerikan di tubuhku, semakin mendekat dan mendekat lalu ada suara
yang terekam lewat telingaku “Hay Luna Plena si gadis bulan purnama.” Aku kaget bukan kepalang, ku beranikan diri
menoleh ke belakang menyelidik siapa sosok itu. Ketika pandangku menangkap
sosok itu ,aku hanya menganga dan terpana menatap wajah yang tepat berada di
depanku. Ternyata dia adalah Kak Afriza, oh Tuhan ada angin apa sehingga dia
mengetahui nama lengkapku dan mengahampiriku seperti saat ini.
“Mengapa gadis bulan purnama ini hanya membundarkan bibir
mungilnya? Tidakkah dia memberika senyuman padaku yang sudah lama mengaguminya
di pengantar sinaran bulan purnama?.” Kak Afriza tersenyum padaku dengan
anggunnya, kemudian aku tersenyum simpul dibalut rasa penasaran atas ucapannya
yang baru saja aku dengar.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar