Kring...Kring..Kring...
“Siapa
sih Dis yang ngbel-ngebel depan rumah.” Echa masih sibuk menatapi dirinya di
depan cermin dengan gaun putih berenda merah jambu.
“Aldo
kali’.”
“Hah?
Aldo? Yang bener aja, aku nggak ada janjian sama dia.”
“Eh
Cha, masa’ iya ketemuan sama calon istri masih aja pakai janji. Pikiranmu itu
jangan ngantor terus dong.”
“Hih,
kamu ya. Ya nggak gitu juga’ sih Dis tapi...”
“Udah-udah
jangan banyak ngoceh deh, cepet ganti baju sana biar aku yang bukain pintunya.”
*****
“Bajunya
gimana Cha, sudah kamu coba kan?”
“Sudah,
tadi waktu kamu ngebel pintu aku masih pakai gaunnya. Lagian kamu kenapa nggak
bilang-bilang aku dulu sih kalau mau kesini.”
“Kan
aku mau bikin surprise ke kamu. Yuk.”
“Loh,
mau kemana?”
“Ikut
aja yuk nanti juga tahu.”
“Do,
kamu kok sekarang main misteriusan gini sih. Nggak suka ah.”
“Siapa
yang misterius sih Echaku sayang. Ayo cepet gih buruan masuk mobil.” Aldo
menggandeng tangan kekasihnya itu menuju
parkiran halaman depan rumah Echa.
Mobil
itu melaju menuju sebuah restaurant yang sengaja Aldo persiapkan untuk makan
malamnya bersama Echa. Ia ingin memberikan sentuhan romantis sebelum ia
meminang Echa menjadi istrinya.
“Kamu
tutup mata dulu ya.”
“Tuh
kan, kamu kok sok misterius gini sih. Nggak suka ah aku.”
“Sayang,
serius deh. Ini nggak seperti yang kamu bayangin waktu dulu.”
Echa
memang sedikit trauma jika harus mengetahui kejutan dengan ditutup mata
sebelumnya. Dulu pernah ia mendapatkan kejutan ulang tahun yang sangat
menyeramkan dari teman-teman SMA nya. Ditinggalkan di sebuah hutan malam hari
meskipun pada akhirnya memang ada kejutan manis untuknya. Namun ia tak suka
gelap dan sendiri.
“Oke,
tapi kamu gandeng tanganku terus ya.”
“Iya
pasti sayang.”
Tapakan
kaki mereka mantap menuju suatu taman.
“Itu
suara apa Do?” Echa mendengar ada suara menyerupai lonceng.
“Nanti
kamu tahu sendiri kok.”
Masih
mereka menapaki rerumputan taman yang hijau segar.
“Surprise...”
Lonceng-lonceng
warna perak bergemerincing di sekitar bangku tempat mereka akan makan. Temaram
yang indah dihiasi dengan lilin-lilin kecil. Menambah romantis suasana.
“Kamu
pernah bilang kan ‘Wedding Bell’ sangat berarti bagi sebuah pernikahan. Ia akan
menyerukan ikrar setia kita untuk saling melengkapi. Lonceng-lonceng ini yang
akan menjadi saksi pula bagaimana aku meminangmu nanti.”
“Aldo...”
Mata Echa berkaca-kaca haru. Ia tak sabar menunggu gemerincing lonceng pada
hari sakral pernikahannya.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar