“Aku ya
begini ini orangnya. Cuek sama pasangan tapi aku akan sangat sayang dengan dia.
Cara pengungkapan sayangku buka dengan kata-kata aku sayang kamu saja. Tapi aku
lebih memilih untuk melakukan tindakan.”
“Ah, ya
memang kan bagusnya seperti itu Am. Kamu sudah berualang kali membicarakan
tentang ini loh, sadar nggak kamu? Padahal ini baru pertemuan kita yang kedua.”
“Emm...terus
kenapa?”
“Kamu
sudah banyak menceritakan tentang kehidupanmu juga yang dulu. Aku heran aja.”
“Heran
kenapa?”
“Ya
heran, kita baru kenal semingguan ini tapi kamu udah cerita ini itu ke aku.
Ceritanya pribadi banget lagi.”
“Oh
begitu, okey. Kalau begitu kamu deh sekarang yang cerita.”
Kharis
hanya tertawa, ia sekuat tenaga menyembunyikan perasaan kagum yang
meletup-letup dalam dadanya ketika mendengarkan Amda berkisah tentang
kehidupannya. Pertemuan mereka pertama kali di sebuah cafe mematahkan teori
Kharis tentang cinta pandangan pertama yang tak benar sama sekali menurut dia.
Nyatanya kini ia terkena juga oleh “Love at First Sight” yang ia sangkali
berkali-kali.
“Gimana
ya Ris, ya beginilah aku. Selengekan dan gagal terus percintaannya.”
“Ha ha
ha, kamu tuh Am Am ada-ada aja. Kamu kenapa sih bisa cerita segini banyak ke
aku?”
“Nggak
kenapa-kenapa, aku nyaman aja cerita ke kamu.”
“Meskipun
baru kenal beberapa hari dengan aku?” Kharis mulai sumringah.
Amda
hanya mengangguk mengiyakan.
“Terus
soal kisah percintaan dan keluargamu itu juga salah satu dari nyaman? Kamu ada
apa sih kok sampai sebegitunya cerita macam-macam ke aku. Ada maksud apa?”
Entah
mengapa Kharis mulai geregetan dengan Amda, banyak gejolak penasaran yang tak
terselesaikan ketika Amda dengan mudah bercerita apa-apa tentang dirinya.
“Seumpama,
ini seumpama ya. Kalau aku nembak kamu, kamu bakal nerima aku nggak?”
Hati
Kharis mencelos.
“Kok
seumpama?”
“Oke
nggak seumpama.” Amda menarik napas panjang, sedang Kharis masih sibuk
menenangkan detak jantungnya ya tak karuan.
“Kamu
mau nggak jadi pacar aku?”
“Serius?”
“Aku
serius.”
“Ah,
becandaan kamu ini Am Am.”
“Aku
nggak becanda, kamu mau jadi pacar aku? Apa perlu aku teriak disini biar semua
orang tahu?”
“Eh eh,
nggak perlu, nggak perlu.”
“Jadi?”
“Emm.....”
Tiba-tiba
bersamaan dengan bunyi guntur, gerimis yang rapat pun turun dari langit.
“Eh,
hujan. Ayo berteduh yuk.”
Mereka
berjalan beriringan, jaket Amda sudah berada diatas kepalanya pun kepala Kharis
guna melindungi rundungan air langit yang mulai deras.
“Aku
mau jadi pacar kamu.”
“Apa?”
Mereka
masih berjalan mencari tempat berteduh dengan dipayungi jaket hitam milik Amda.
“Serius?”
Amda tak yakin dengan jawaban Kharis yang tiba-tiba
“Aku
serius.”
Kemudian
mereka berdua saling bertatapan dan melempar senyuman. Pada malam itu hujan
menjatuhkan hati mereka berdua.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar