Rabu, 04 Desember 2013

Hujan, menjatuhkan hati

                “Aku ya begini ini orangnya. Cuek sama pasangan tapi aku akan sangat sayang dengan dia. Cara pengungkapan sayangku buka dengan kata-kata aku sayang kamu saja. Tapi aku lebih memilih untuk melakukan tindakan.”
                “Ah, ya memang kan bagusnya seperti itu Am. Kamu sudah berualang kali membicarakan tentang ini loh, sadar nggak kamu? Padahal ini baru pertemuan kita yang kedua.”
                “Emm...terus kenapa?”
                “Kamu sudah banyak menceritakan tentang kehidupanmu juga yang dulu. Aku heran aja.”
                “Heran kenapa?”
                “Ya heran, kita baru kenal semingguan ini tapi kamu udah cerita ini itu ke aku. Ceritanya pribadi banget lagi.”
                “Oh begitu, okey. Kalau begitu kamu deh sekarang yang cerita.”
                Kharis hanya tertawa, ia sekuat tenaga menyembunyikan perasaan kagum yang meletup-letup dalam dadanya ketika mendengarkan Amda berkisah tentang kehidupannya. Pertemuan mereka pertama kali di sebuah cafe mematahkan teori Kharis tentang cinta pandangan pertama yang tak benar sama sekali menurut dia. Nyatanya kini ia terkena juga oleh “Love at First Sight” yang ia sangkali berkali-kali.
                “Gimana ya Ris, ya beginilah aku. Selengekan dan gagal terus percintaannya.”
                “Ha ha ha, kamu tuh Am Am ada-ada aja. Kamu kenapa sih bisa cerita segini banyak ke aku?”
                “Nggak kenapa-kenapa, aku nyaman aja cerita ke kamu.”
                “Meskipun baru kenal beberapa hari dengan aku?” Kharis mulai sumringah.
                Amda hanya mengangguk mengiyakan.
                “Terus soal kisah percintaan dan keluargamu itu juga salah satu dari nyaman? Kamu ada apa sih kok sampai sebegitunya cerita macam-macam ke aku. Ada maksud apa?”
                Entah mengapa Kharis mulai geregetan dengan Amda, banyak gejolak penasaran yang tak terselesaikan ketika Amda dengan mudah bercerita apa-apa tentang dirinya.
                “Seumpama, ini seumpama ya. Kalau aku nembak kamu, kamu bakal nerima aku nggak?”
                Hati Kharis mencelos.
                “Kok seumpama?”
                “Oke nggak seumpama.” Amda menarik napas panjang, sedang Kharis masih sibuk menenangkan detak jantungnya ya tak karuan.
                “Kamu mau nggak jadi pacar aku?”
                “Serius?”
                “Aku serius.”
                “Ah, becandaan kamu ini Am Am.”
                “Aku nggak becanda, kamu mau jadi pacar aku? Apa perlu aku teriak disini biar semua orang tahu?”
                “Eh eh, nggak perlu, nggak perlu.”
                “Jadi?”
                “Emm.....”
                Tiba-tiba bersamaan dengan bunyi guntur, gerimis yang rapat pun turun dari langit.
                “Eh, hujan. Ayo berteduh yuk.”
                Mereka berjalan beriringan, jaket Amda sudah berada diatas kepalanya pun kepala Kharis guna melindungi rundungan air langit yang mulai deras.
                “Aku mau jadi pacar kamu.”
                “Apa?”
                Mereka masih berjalan mencari tempat berteduh dengan dipayungi jaket hitam milik Amda.
                “Serius?” Amda tak yakin dengan jawaban Kharis yang tiba-tiba
                “Aku serius.”

                Kemudian mereka berdua saling bertatapan dan melempar senyuman. Pada malam itu hujan menjatuhkan hati mereka berdua.

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik