Daun-daun
kering di jalan setapak taman ini masih berserakan dimana-mana, ada angin yang
sesekali mengajak mereka menepi di sisi pohon. Sore ini aku berjalan sendiri
tanpa barang-barang yang selalu menggelayut di punggungku beserta isinya.
Entahlah, aku hanya ingin menikmati taman kota yang rasanya tak sesepi ini
ketika tiap pulang kuliah aku melewatinya. Aku mencari bangku taman yang
kiranya mampu menopang segala pikiran yang berkecamuk seakan mencambuk-cambuk.
Masih daun gugur sebelum mengering
Sedang aku masih menunggu walau
luka belum kering
“Aku
sudah nggak bisa mertahanin hubungan kita Rin.”
“Tapi
kenapa? Karena mama? Kenapa kamu nggak mau berjuang buat aku?”
Sayup-sayup
kudengar percakapan sepasang kekasih yang menurut dugaanku sedang bertengkar.
Namun aku masih sibuk dengan lamunanku sendiri kemudian.
Lalu, sampai saat ini pohon masih beranting
Sedangkan hatiku selalu genting
“Aku
nggak suka diatur-atur begitu Rin, aku sudah beri banyak pengertian kan ke
mamamu tapi tetap saja begitu.”
Aku
mendengar isakan. Perempuan itu menangis.
Ya, selayaknya aku
Kau pergi bersama hembusan pilu
*****
“Mbak
maaf, sekarang pukul berapa ya?”
“Tiga
mas.” Aku menunjukkan jam tanganku kepada seseorang yang menanyaiku.
“Terima
kasih mbak.”
Aku hanya tersenyum dan kembali
melempar pandang pada jalan raya yang berulang kali bus dan angkutan kota lewat
di depanku dan aku masih diam saja duduk di bangku halte.
Ada rindu yang masih ulung
Pun kenanganmu masih mengkungkung
“Mbak mau kemana?”
Aku menoleh kepada seseorang di
sampingku. Laki-laki yang tadi menanyai waktu. Mungkin ia heran karena aku
melamun saja dengan raut muka pasrah.
“Saya menunggu jemputan teman
saya. Mbak daritadi saya lihat hanya diam disini.”
Belum sempat aku menjawab,
tiba-tiba hujan turun lebat. Aku masih diam saja, mungkin aku sudah dilumpuhkan
oleh sayatan-sayatan kenang yang bimbang.
“Wah mbak hujan, geser sebelah
sini mbak.”
Aku menggeserkan diri ke samping
kanan yang mampu sedikit menghindarkan aku dari air hujan.
“Mbak ada masalah ya?”
Aku tak mengerti, laki-laki di
sebelahku ini suka sekali menanyaiku.
Tiba-tiba telapak tangannya ia
tengadahkan di tetesan air hujan sambil matanya menerawang jauh.
“Hujan selalu mampu meluruhkan
masa lalu.”
Mataku terbelalak, lelaki itu
menyebut masa lalu.
Ia
menoleh kepadaku, “Jangan terjebak oleh masa lalu mbak, bukankah masa lalu tak
mampu diubah. Namun masa lalu mampu mengubah kita menjadi seseorang yang lebih
baik jika kita memaknainya dengan benar.”
“Aku
ingin menghapusnya atau bahkan melumpuhkan ingatanku saja.”
“Saya
bisa membantunya.” Laki-laki itu tersenyum dan mendekat padaku.
*****
Ternyata
ia yang mencipta isak perempuan ketika kemarin aku sedang berada di taman.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar