Minggu, 19 Januari 2014

Kesah Rana

Di balik jendela Rana terpekur sendirian, ia bingung. Berulang kali berkelebat apa apa yang Alwa bicarakan padanya. Ia memang masih tak berapa lama ini menjalin hubungan dengan Alwa. Hujan masih saja berangin kencang sedang pikirannya bagai petir yang menyambar nyambar. Terkadang ulu hatinya terasa nyeri, kepalanya berdenyut.

            “Anggap aku ada Na, ceritakan segalanya padaku. Kita harus saling berbagi”

            Begitu yang dikatakan Alwa berkali-kali pada Rana tiap mereka bertemu.

            ‘Apa benar kau akan selalu mendengarkan ceritaku Al? Lalu mengapa ketika aku bercerita kau malah sibuk dengan pemikiranmu sendiri, seakan kaulah yang paling benar. Aku tak suka ekspresi mukamu ketika aku menyangkal, kau seakan mengadiliku. Setidaknya jangan kau runtutkan tanya yang menyudutkan aku. Setidaknya jadilah kau pendengar yang baik dengan ekspresi wajah seksama mengisyaratkan kau memang sedang peduli pada ceritaku’

            Masih berulang kali perbincangan mereka terbayang bayang di tiap bilik otak Rana. Hujan sudah mulai reda namun kecamuk di hatinya tak kunjung juga berujung lega.

            “Harusnya kita saling terbuka Na.”

            Itu pula yang sering  Alwa katakan pada Rana tiap mereka bertatap muka.

            ‘Lalu mengapa kini kau tak kunjung jua kumengerti Al? Katanya kita harus saling terbuka, sedang saat ini kau bersikap dingin padaku. Aku sudah beberapa kali meminta penjelasan darimu tapi kau bilang tak ada apa apa. Aku menanyakan salah apa aku kepadamu kau bilang aku tak salah apa-apa. Aku meminta maaf kepadamu meski aku sendiri masih samar dengan apa kesalahanku, kau bilang tak perlu. Aku bingung Al, bagaimana aku harus berbuat. Percakapan kita jarak jauh simpang siur oleh sikapmu yang tak kupahami. Terkadang kau bercanda, terkadang kau begitu dingin padaku dengan balasan yang begitu singkat.’

            Rana masih menanti pesan Al kala hujan sudah benar benar reda. Tak ada balasan dari pesan singkat yang ia kirim beberapa jam lalu. Rana tahu Alwa sedang mengalami beberapa masalah, meskipun ia sendiri tak mengerahui secara pasti. Ini bukan persoal telepati namun hati kecil Rana mengatakan bahwa Alwa yang ia kasihi sedang terlilit beberapa pemikiran yang berbelit. Sedang Alwa seakan menganggap tak ada apa apa, mengaku semuanya baik baik saja. Kepala Rana masih berdenyut denyut, matanya panas. Ingin rasanya ia menangisi sikap Alwa yang seperti ini, namun ia yakin Alwa tak akan mengerti juga bahwa Alwa telah merasuki jiwa Rana yang paling dalam. Alwa sudah menyita banyak pemikirannya, ia selalu gelisah saat tak ada penjelasan yang pasti tentang apa apa yang sedang Alwa lalui. Sikap Alwa yang begitu acuh saat itu membuat dada Rana sesak, ketika balasan singkat dari pesan Alwa mampu mencabik cabik beberapa bagian hati Rana. Rana tak kuasa sebenarnya namun ia selalu menabahkan diri untuk selalu menyediakan hati untuk Alwa meski sudah tergores gores luka beberapa kali.

            ‘Al, bagaimanapun juga aku akan selalu berusaha menyayangimu. Dalam diamku aku selalu merapal doa doa untukmu. Maafkan aku jika aku terus mengadu pada Tuhan agar Ia menyabarkan aku untuk tetap mencintaimu. Al, sudah berapa waktu yang kusuguhkan hanya untuk memikirkanmu, dalam bungkam sesungguh aku ingin berseru bahwa kau harus tahu jika aku sangat peduli padamu. Aku tak ingin bersembunyi dalam tenang padahal sesungguhnya aku selalu kalut memikirkanmu. Aku tahu Al jika kita masih perlu adaptasi dengan semua ini, namun ketahuilah bahwa aku selalu berusaha mencintaimu lebih dari hari ini selalu begitu setiap harinya. Mengertilah Al, kau adalah seorang yang berarti dalam hidupku. Jangan pergi, aku sudah lelah patah hati untuk kesekian kali.’

            Ada sedikit nelangsa di hati Rana akan sikap Alwa yang saat ini bungkam darinya. Barangkali kecewa sedang menusuk nusuknya pula sedang kepalanya dihantam bertalu talu oleh ribuan khawatir tentang Alwa. Namun Rana masih bersikeras menjaga hati, menjaga cinta dan kasih sayangnya untuk Alwa. Ia terlanjur menempatkan Alwa pada hal hal terpenting dalam hidupnya, Rana terlampau mencintai Alwa.

By : Rena Kharisma


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik