Di balik jendela Rana
terpekur sendirian, ia bingung. Berulang kali berkelebat apa apa yang Alwa
bicarakan padanya. Ia memang masih tak berapa lama ini menjalin hubungan dengan
Alwa. Hujan masih saja berangin kencang sedang pikirannya bagai petir yang menyambar
nyambar. Terkadang ulu hatinya terasa nyeri, kepalanya berdenyut.
“Anggap aku ada Na, ceritakan segalanya padaku. Kita
harus saling berbagi”
Begitu yang dikatakan Alwa berkali-kali pada Rana tiap
mereka bertemu.
‘Apa benar kau akan
selalu mendengarkan ceritaku Al? Lalu mengapa ketika aku bercerita kau malah
sibuk dengan pemikiranmu sendiri, seakan kaulah yang paling benar. Aku tak suka
ekspresi mukamu ketika aku menyangkal, kau seakan mengadiliku. Setidaknya
jangan kau runtutkan tanya yang menyudutkan aku. Setidaknya jadilah kau
pendengar yang baik dengan ekspresi wajah seksama mengisyaratkan kau memang
sedang peduli pada ceritaku’
Masih berulang kali perbincangan mereka terbayang bayang
di tiap bilik otak Rana. Hujan sudah mulai reda namun kecamuk di hatinya tak
kunjung juga berujung lega.
“Harusnya kita saling terbuka Na.”
Itu pula yang sering
Alwa katakan pada Rana tiap mereka bertatap muka.
‘Lalu mengapa kini
kau tak kunjung jua kumengerti Al? Katanya kita harus saling terbuka, sedang
saat ini kau bersikap dingin padaku. Aku sudah beberapa kali meminta penjelasan
darimu tapi kau bilang tak ada apa apa. Aku menanyakan salah apa aku kepadamu
kau bilang aku tak salah apa-apa. Aku meminta maaf kepadamu meski aku sendiri
masih samar dengan apa kesalahanku, kau bilang tak perlu. Aku bingung Al,
bagaimana aku harus berbuat. Percakapan kita jarak jauh simpang siur oleh
sikapmu yang tak kupahami. Terkadang kau bercanda, terkadang kau begitu dingin
padaku dengan balasan yang begitu singkat.’
Rana masih menanti pesan Al kala hujan sudah benar benar
reda. Tak ada balasan dari pesan singkat yang ia kirim beberapa jam lalu. Rana
tahu Alwa sedang mengalami beberapa masalah, meskipun ia sendiri tak mengerahui
secara pasti. Ini bukan persoal telepati namun hati kecil Rana mengatakan bahwa
Alwa yang ia kasihi sedang terlilit beberapa pemikiran yang berbelit. Sedang
Alwa seakan menganggap tak ada apa apa, mengaku semuanya baik baik saja. Kepala
Rana masih berdenyut denyut, matanya panas. Ingin rasanya ia menangisi sikap
Alwa yang seperti ini, namun ia yakin Alwa tak akan mengerti juga bahwa Alwa
telah merasuki jiwa Rana yang paling dalam. Alwa sudah menyita banyak
pemikirannya, ia selalu gelisah saat tak ada penjelasan yang pasti tentang apa
apa yang sedang Alwa lalui. Sikap Alwa yang begitu acuh saat itu membuat dada
Rana sesak, ketika balasan singkat dari pesan Alwa mampu mencabik cabik
beberapa bagian hati Rana. Rana tak kuasa sebenarnya namun ia selalu menabahkan
diri untuk selalu menyediakan hati untuk Alwa meski sudah tergores gores luka
beberapa kali.
‘Al, bagaimanapun
juga aku akan selalu berusaha menyayangimu. Dalam diamku aku selalu merapal doa
doa untukmu. Maafkan aku jika aku terus mengadu pada Tuhan agar Ia menyabarkan
aku untuk tetap mencintaimu. Al, sudah berapa waktu yang kusuguhkan hanya untuk
memikirkanmu, dalam bungkam sesungguh aku ingin berseru bahwa kau harus tahu
jika aku sangat peduli padamu. Aku tak ingin bersembunyi dalam tenang padahal
sesungguhnya aku selalu kalut memikirkanmu. Aku tahu Al jika kita masih perlu
adaptasi dengan semua ini, namun ketahuilah bahwa aku selalu berusaha mencintaimu
lebih dari hari ini selalu begitu setiap harinya. Mengertilah Al, kau adalah
seorang yang berarti dalam hidupku. Jangan pergi, aku sudah lelah patah hati
untuk kesekian kali.’
Ada sedikit nelangsa di hati Rana akan sikap Alwa yang
saat ini bungkam darinya. Barangkali kecewa sedang menusuk nusuknya pula sedang
kepalanya dihantam bertalu talu oleh ribuan khawatir tentang Alwa. Namun Rana
masih bersikeras menjaga hati, menjaga cinta dan kasih sayangnya untuk Alwa. Ia
terlanjur menempatkan Alwa pada hal hal terpenting dalam hidupnya, Rana
terlampau mencintai Alwa.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar