Angkasa
masih sangat pekat, meski belum legam
namun gelagar guntur masih bersahutan. Sama halnya seperti hatiku yang kini
disambar sambar sayatan kata katanya beberapa detik lalu.
“Apa
yang harus kita lakukan lagi Bim? Kita sudah tak sanggup bertahan. Sudah berapa
lama kita kukuh dengan hubungan ini? Tapi nyatanya apa? Sama saja kan? Tak
berguna!”
Pertanyaanmu
penuh retori Dir, aku masih tak sanggup mencerna apa apa saat itu. Waktu terasa
begitu membeku meski hujan yang mengguyurku adalah liquid yang membuatku basah.
Ya, basah pula seperti mataku yang kau tak tahu karena air hujan telah
menyamarkannya. Setelah itu kelebat memori tentang kita berdua selama dua tahun
lalu bagai potongan film yang kini kasetnya kau injak injak tanpa kumengerti
mengapa harus jadi begini?
“Cukup
Bim, jauhi aku mulai detik ini. Jangan paksakan kita untuk bersama lagi. Sudah
cukup aku dibantai sakit hati oleh orang orang yang menyayangimu. Pergilah Bim.”
Kemudian
masih terpaku di jalanan beraspal yang mulai penuh genangan air, dengan payung
putih beningmu kau perlahan pergi menjuhiku Dir. Baju yang kukenakan sebagian
telah basah meskipun aku terlindungi oleh payung hitam pemberianmu dulu setahun
silam ketika ayahmu terpaksa dipanggil Tuhan. Kau menitipkannya untukku tanpa
pernyataan, yang aku tahu kau terlampau kehilangan waktu itu. Namun kau berkata
bahwa di sampingku kau selalu merasakan bahagia. Lalu, benarkah yang kau
ucapkan kala itu Dir? Benarkah kau bahagia bersamaku? Benarkah jika dipelukku
kau merasa damai seperti ketika kau bersedih ketika kau kehilangan banyak hal
dalam hidupmu, ketika bunda yang kau sayangi menyusul ayahmu di surga? Benarkah
demikian? Lalu mengapa kini kau melangkah pergi, memintaku untuk mengakhiri ini
semua? Oh Dir, jangan tampar aku dengan kebisuanmu, aku tahu kau banyak terluka
dan di balik pengucapanmu tadi kau penuh dusta.
*****
Aku
masih terpekur sama seperti beberapa bulan kau meninggalkanku di angakasa yang
menangis pilu ketika genggaman surat cream ini berada di tanganku. Tak dapat
kubendung lagi mataku yang tergenang air mata haru, sedih, dan penyesalan yang
menggebu. Kemudian aku tersungkur tiba tiba oleh kenyataan yang sungguh pahit
bagimu.
Dear Bima,
Tak perlu kau
bersedih ketika aku meninggalkanmu, ketika aku memintamu untuk pergi dari
hidupku. Cukuplah kau ikut menanggung kesedihanku yang bertalu talu itu, kau
harus bahagia Bim. Jangan percaya jika aku tak mencintaimu lagi, jangan percaya
jika aku tak menyayangimu lagi. Aku tak mau kau ikut terluka Bim, biar aku
sendiri saja yang merasakan. Benar kata mereka jika aku hanyalah gadis
penanggung dosa yang menjadi benalumu, selalu di sisimu. Maafkan aku Bim, hanya
memberikan kisah kisah haru di hidupmu. Kau harus harus bahagia bersama mereka
orang orang yang menyayangimu lebih dari aku. Tak perlu khawatir, aku akan baik
baik saja. Nampaknya aku harus menyusul ayah bundaku di surga. Kau harus
bahagia Bim.
I love You,
Dira
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar