“Bagaimana
hasilnya?” Nata menunjukkan layar kameranya
“Hmm...mungkin
kurang fokus di bagian sini deh.”
“Oke,
sekali lagi ya Dir.” Nata kembali berkonsentrasi pada kamera slrnya dengan Dira
sebagai modelnya. Aku masih sibuk pula dengan lensa kameraku, aku dan Nata
memang sudah lama menggeluti dunia fotografi. Kata teman-teman kami memang
pasangan yang kompak dan serasi.
“Sip,
hari ini selesai ya Dir.”
“Terima
kasih Nata, Reni. Aku pulang duluan ya.” Dira melambaikan tangan dengan
berlalu, aku melambaikan tangan pula sembari tersenyum.
“Cafe
dulu yuk.” Nata masih sibuk merapikan perlengkapannya, begitu pula aku.
******
“Ren,
aku harus ke Jogja lusa.”
Adukan
sendok di cangkirku tak bergerak lagi, ragaku juga terasa membeku. Aku tak lagi
mendengar riuh banyak orang di cafe ini yang bercengkerama tentang pekerjaan
atau sekadar berkencan dengan pasangan. Rasanya moccacino di cangkirku ini
menjadi cermin untuk wajahku yang sangat suram seketika.
“Maaf,
aku nggak ngasih tahu kamu jauh-jauh hari. Ini juga permintaan papa yang
menyuruhku sekolah disana dan bekerja dengan pamanku sebagai fotografer. Aku
minta maaf Ren.” Nata menggenggam tanganku yang masih kaku.
“Kamu
nggak balik lagi kesini?” Hanya kata-kata itu yang dapat ku lontarkan, itu pun
tanpa mampu melihat matanya.
“Entahlah,
tapi aku akan lama disana.”
Pikiranku
sudah kemana-mana, terbersit dalam benakku bahwa hidupku tak akan lagi
bergairah nanti. Tanpa Nata di sisiku padahal setiap hari kita selalu bersama.
Tanpa Nata yang menggemari fotografi mungkin hasil fotoku juga tak mampu
bernyawa lagi tanpa ada dia. Nata akan pergi.
*****
Aku
masih berkutat dengan hasil foto yang baru saja ku ambil sebelum pulang ke
rumah, tiba-tiba ada pemberitahuan kotak masuk di e-mail . Aku berharap itu
Nata, sudah setahun kami menjalani LDR. Aku kira ketika di cafe itulah akhir
hubungan kami namun Nata bersikeras untuk menjalani hubungan jarak jauh
meskipun dia tahu aku tak menyetujui. Namun ia selalu meyakinkanku bahwa kami
mampu bertahan walau jarak yang menjadi alasan utamaku meragu. Benar dari Nata,
e-mailnya berisi foto-foto hasil jepretannya di Jogja. Ah, Jogja indah sekali
ternyata. Ingin rasanya menyusulmu kesana Nata.
“Hai,
sayang lagi apa?”
Refleks
aku menutup monitor laptopku yang mungkin terlihat kasar sekali. Sedetik
kemudian aku membodohkan diri karena tak mengunci pintu kamarku.
“Eh,
kok ditutup gitu laptopnya?”
“Ah,
nggak apa-apa aku sudah selesai.”
“Yuk,
makan malam.”
Nata,
sekali lagi aku merasa bersalah. Endru telah mampu mencuri hatiku yang tak
mampu jauh darimu. Sudah berulang kali aku menahan diri untuk tidak melakukan
ini. Sungguh aku tak ingin menyakitimu Nata, izinkan aku merampungkan hubungan
ini dengannya saat nanti kau kembali kesini.
“Kamu
kenapa sayang?”
“Aku?
E..ee...nggak apa-apa kok.”
“Aku
perhatikan kamu sering melamun akhir-akhir ini.”
“Aku
nggak apa-apa kok.” Aku tersenyum masam.
Mungkin
aku sudah terlampau jauh dalam hubunganku dengan Endru, aku hanya menjadikannya
sandaran hati yang sepi saat Nata tak di sisi. Aku sudah berulang kali
meyakinkan diri untuk segera mengakhiri namun Endru yang begitu romantis dan
memperlakukan aku bak permaisuri membuat diri tak mampu mengelak lagi.
Hubunganku dengan Endru masih seumur jagung ketika Nata sudah tak pernah lagi
menghubungiku kala itu. Aku menacari-cari kabarnya kesana-kemari tapi tak
kunjung ku dapati. Setelah aku bertemu Endru, Nata tiba-tiba kembali dengan
hasil foto-fotonya di kota istemewa Jogja. Selalu saja merasa berdosa tiap kali
aku jalan berdua dengan Endru, Nata masih bersemayam di hati tanpa ada yang
bisa mengganti.
“Sudah
sampai, Ren bangun.” Aku merasakan ada belaian di rambutku samar-samar ku
dengar suara Endru. Ketika membuka mata, wajah kami hanya berjarak sepersekian
senti saja. Aku sempat terkejut namun sudah tak bisa memalingkan muka lagi,
akhirnya bibirku terkecup juga.
“Ndru,
kita sampai sini saja.” Tercetuslah kata-kata itu dengan sangat sempurna ketika
aku mendorong tubuhnya menjauh dariku
“Tapi
Ren, kenapa? Aku minta maaf kal..”
“Cukup,
aku tak mau membohongi diri lagi juga membohongimu.”
“Maksudmu?”
Ada mimik shock di raut wajah Endru
“Aku
sudah punya kekasih, kamu hanya pelampiasanku saja. Aku minta maaf.” Aku
beranjak dari kursi mobil yang ku duduki lalu segera masuk ke dalam rumah tanpa
menangkap sosok Endru lagi.
******
Sepanjang
hari aku gundah, resah berdesakan di paru-paru jiwa. Aku sudah memutuskan sore
ini juga akan ke Jogja untuk bertemu Nata. Barang-barangku pun telah terkemas
rapi di dalam tas ransel, alamat dimana Nata tinggal pun sudah di genggaman
tangan. Stasiun sore ini cukup ramai juga, aku tak peduli dengan lalu lalang
orang-orang. Setelah mendapatkan kursiku di kereta hanya diam yang ku punya.
Tiba-tiba bayangan Nata juga Endru silih berganti merasuki pikiranku, mungkin
aku benar-benar keterlaluan kali ini. Mempermainkan dua hati yang mencintaiku.
Sepanjang
perjalanan aku mendekap tasku yang berisi kamera juga sebuah album yang sengaja
ku susun foto-foto Nata disana sebagai bingkisan pertemuan kita. Aku memang tak
memberitahu dia jika aku akan mengunjunginya di Jogja, aku ingin memberikan
kejutan padanya. Sebagai permohanan maaf juga barangkali.
*****
Becak
ini melaju tak menderu, santai saja pengemudinya membawaku ke alamat tujuanku.
Aku sudah sampai di Jogja pada waktu malam hari, gemerlap lampu Jogja sungguh
indah. Malioboro ramai sekali ternyata. Memang alamat yang ku punya tak jauh
dari daerah ini. Di tengah rindu yang membuncah juga degup jantung yang tak
karuan, aku menerima sebuah e-mail tiba-tiba. Dari Nata, lalu beberapa menit
kemudian mulutku hanya bisa menganga. Benar foto-foto lagi yang ia kirimkan
namun bukan hasil fotonya namun dialah yang menjadi model bersama seorang gadis
cantik disana. Siapa gadis itu? Mengapa mereka terlihat mesra sekali? Nata,
apakah kau juga melakukan hal yang sama denganku karena kita jauh?
Becak
yang ku tumpangi sudah tak terasa berjalan lagi namun aku bagaikan terbang
bahkan merasa hilang. Ada silet yang menyayat hati malam ini.
“Mbak,
sudah sampai.”
Aku
turun dari tempat duduk di becakku, rumah yang beraksen tua itu terpakir banyak
kendaraan. Aku mengamati ada yang tak asing diantaranya. Aku memberikan
sejumlah uang upah bagi pengemudi becak yang ku tumpangi. Belum sempat ku buka
semua pintu pagar, aku melihat sosok yang sangat ku rindu sedang bercengkerama
dengan banyak temannya. Ada sedikit yang membuatku mengganggu, sosok perempuan
di sebelah Nata adalah gadis yang ada di foto itu. Langkah sepertinya tak mau melaju
lagi.
“Reni...”
Namun
Nata sempat melihat sosokku yang berdiri mematung di balik pagar. Aku mencoba
berlari dari tapakku berpijak, tak ingin Nata menghampiri.
“Tunggu
Ren, kamu kok disini? Sama siapa? Kenapa tak memberitahuku?”
“Kenapa
kamu sempat tak memberiku kabar? Aku sudah merindukanmu tapi kamu sudah
memiliki perempuan lain.” Tak kuat aku menahan emosi, aku tak peduli jika sorot
mata teman-teman Nata menyoroti. Mata perempuan itu juga tak terkecuali.
“Kamu
bicara apa sih Ren, maksud kamu apa perempuan lain.”
“Kamu
jahat Nat.” Airmataku mulai mengalir
“Oke,
aku nggak ngasih kabar waktu itu ke kamu karena aku ada pelatihan fotografi
juga banyak kerjaan disini. Untuk perempuan lain aku nggak ngerti.”
“Kamu
nggak usah mengelak. Ini buktinya.” Aku menyodorkan smartphoneku padanya
Aku
melihat muka Nata terkejut dan mulutnya sedikit ternganga. Aku heran mengapa
dia juga terkejut saat melihat foto itu.
“Ini
Sendi, dia...”
“Halo
Ren, ketemu lagi. Ternyata Nata adalah kekasihmu itu ya.”
Aku
benar-benar ingin pingsan dalam tangis saat melihat sosok Endru tiba-tiba
muncul di hadapanku. Oh, ternyata kendaraan yang tak asing bagiku tadi adalah
mobil milik Endru.
“Kamu
kenal Reni Ndru?” Raut muka Nata semakin terkejut dan kebingungan
“Dia
kan mantan pacarku Nat, bahkan bisa jadi aku jadi selingkuhannya. Kami
berpacaran saat kamu masih di Jogja, tanpa sepengetahuanmu yang jelas. Oh iya,
sorry ya Nat. Aku tadi sengaja mengirimkan foto-fotomu sama Sendi di laptopmu
yang masih terbuka akun e-mailnya.”
“Apa?
Apa-apaan ini?” Nata nampak geram.
“Nat,
aku minta maaf.” Aku masih menangis dengan hati yang semakin perih, aku mencoba
meraih tangan Nata yang kemudian ia tepiskan.
“Jadi
selama ini kamu selingkuh dari aku? Iya Ren?”
“Aku
minta maaf, aku benar-benar tak bermaksud....”
Kata-kataku
tak pernah tuntas terucap, seperti itu pulalah kisah cintaku dengan Nata saat
ini. Tak pernah tuntas duduk permasalahannya, tak pernah tuntas pula apakah
kami berakhir atau dapat memperbaiki hubungan lagi. Aku tak mengerti, ini
terlampau rumit.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar