Rabu, 08 Januari 2014

Kisah Cinta Tak Tuntas

                “Bagaimana hasilnya?” Nata menunjukkan layar kameranya
                “Hmm...mungkin kurang fokus di bagian sini deh.”
                “Oke, sekali lagi ya Dir.” Nata kembali berkonsentrasi pada kamera slrnya dengan Dira sebagai modelnya. Aku masih sibuk pula dengan lensa kameraku, aku dan Nata memang sudah lama menggeluti dunia fotografi. Kata teman-teman kami memang pasangan yang kompak dan serasi.
                “Sip, hari ini selesai ya Dir.”
                “Terima kasih Nata, Reni. Aku pulang duluan ya.” Dira melambaikan tangan dengan berlalu, aku melambaikan tangan pula sembari tersenyum.
                “Cafe dulu yuk.” Nata masih sibuk merapikan perlengkapannya, begitu pula aku.
******
                “Ren, aku harus ke Jogja lusa.”
                Adukan sendok di cangkirku tak bergerak lagi, ragaku juga terasa membeku. Aku tak lagi mendengar riuh banyak orang di cafe ini yang bercengkerama tentang pekerjaan atau sekadar berkencan dengan pasangan. Rasanya moccacino di cangkirku ini menjadi cermin untuk wajahku yang sangat suram seketika.
                “Maaf, aku nggak ngasih tahu kamu jauh-jauh hari. Ini juga permintaan papa yang menyuruhku sekolah disana dan bekerja dengan pamanku sebagai fotografer. Aku minta maaf Ren.” Nata menggenggam tanganku yang masih kaku.
                “Kamu nggak balik lagi kesini?” Hanya kata-kata itu yang dapat ku lontarkan, itu pun tanpa mampu melihat matanya.
                “Entahlah, tapi aku akan lama disana.”
                Pikiranku sudah kemana-mana, terbersit dalam benakku bahwa hidupku tak akan lagi bergairah nanti. Tanpa Nata di sisiku padahal setiap hari kita selalu bersama. Tanpa Nata yang menggemari fotografi mungkin hasil fotoku juga tak mampu bernyawa lagi tanpa ada dia. Nata akan pergi.
*****
                Aku masih berkutat dengan hasil foto yang baru saja ku ambil sebelum pulang ke rumah, tiba-tiba ada pemberitahuan kotak masuk di e-mail . Aku berharap itu Nata, sudah setahun kami menjalani LDR. Aku kira ketika di cafe itulah akhir hubungan kami namun Nata bersikeras untuk menjalani hubungan jarak jauh meskipun dia tahu aku tak menyetujui. Namun ia selalu meyakinkanku bahwa kami mampu bertahan walau jarak yang menjadi alasan utamaku meragu. Benar dari Nata, e-mailnya berisi foto-foto hasil jepretannya di Jogja. Ah, Jogja indah sekali ternyata. Ingin rasanya menyusulmu kesana Nata.
                “Hai, sayang lagi apa?”
                Refleks aku menutup monitor laptopku yang mungkin terlihat kasar sekali. Sedetik kemudian aku membodohkan diri karena tak mengunci pintu kamarku.
                “Eh, kok ditutup gitu laptopnya?”
                “Ah, nggak apa-apa aku sudah selesai.”
                “Yuk, makan malam.”
                Nata, sekali lagi aku merasa bersalah. Endru telah mampu mencuri hatiku yang tak mampu jauh darimu. Sudah berulang kali aku menahan diri untuk tidak melakukan ini. Sungguh aku tak ingin menyakitimu Nata, izinkan aku merampungkan hubungan ini dengannya saat nanti kau kembali kesini.
                “Kamu kenapa sayang?”
                “Aku? E..ee...nggak apa-apa kok.”
                “Aku perhatikan kamu sering melamun akhir-akhir ini.”
                “Aku nggak apa-apa kok.” Aku tersenyum masam.
                Mungkin aku sudah terlampau jauh dalam hubunganku dengan Endru, aku hanya menjadikannya sandaran hati yang sepi saat Nata tak di sisi. Aku sudah berulang kali meyakinkan diri untuk segera mengakhiri namun Endru yang begitu romantis dan memperlakukan aku bak permaisuri membuat diri tak mampu mengelak lagi. Hubunganku dengan Endru masih seumur jagung ketika Nata sudah tak pernah lagi menghubungiku kala itu. Aku menacari-cari kabarnya kesana-kemari tapi tak kunjung ku dapati. Setelah aku bertemu Endru, Nata tiba-tiba kembali dengan hasil foto-fotonya di kota istemewa Jogja. Selalu saja merasa berdosa tiap kali aku jalan berdua dengan Endru, Nata masih bersemayam di hati tanpa ada yang bisa mengganti.
                “Sudah sampai, Ren bangun.” Aku merasakan ada belaian di rambutku samar-samar ku dengar suara Endru. Ketika membuka mata, wajah kami hanya berjarak sepersekian senti saja. Aku sempat terkejut namun sudah tak bisa memalingkan muka lagi, akhirnya bibirku terkecup juga.
                “Ndru, kita sampai sini saja.” Tercetuslah kata-kata itu dengan sangat sempurna ketika aku mendorong tubuhnya menjauh dariku
                “Tapi Ren, kenapa? Aku minta maaf kal..”
                “Cukup, aku tak mau membohongi diri lagi juga membohongimu.”
                “Maksudmu?” Ada mimik shock di raut wajah Endru
                “Aku sudah punya kekasih, kamu hanya pelampiasanku saja. Aku minta maaf.” Aku beranjak dari kursi mobil yang ku duduki lalu segera masuk ke dalam rumah tanpa menangkap sosok Endru lagi.
******
                Sepanjang hari aku gundah, resah berdesakan di paru-paru jiwa. Aku sudah memutuskan sore ini juga akan ke Jogja untuk bertemu Nata. Barang-barangku pun telah terkemas rapi di dalam tas ransel, alamat dimana Nata tinggal pun sudah di genggaman tangan. Stasiun sore ini cukup ramai juga, aku tak peduli dengan lalu lalang orang-orang. Setelah mendapatkan kursiku di kereta hanya diam yang ku punya. Tiba-tiba bayangan Nata juga Endru silih berganti merasuki pikiranku, mungkin aku benar-benar keterlaluan kali ini. Mempermainkan dua hati yang mencintaiku.
                Sepanjang perjalanan aku mendekap tasku yang berisi kamera juga sebuah album yang sengaja ku susun foto-foto Nata disana sebagai bingkisan pertemuan kita. Aku memang tak memberitahu dia jika aku akan mengunjunginya di Jogja, aku ingin memberikan kejutan padanya. Sebagai permohanan maaf juga barangkali.
*****
                Becak ini melaju tak menderu, santai saja pengemudinya membawaku ke alamat tujuanku. Aku sudah sampai di Jogja pada waktu malam hari, gemerlap lampu Jogja sungguh indah. Malioboro ramai sekali ternyata. Memang alamat yang ku punya tak jauh dari daerah ini. Di tengah rindu yang membuncah juga degup jantung yang tak karuan, aku menerima sebuah e-mail tiba-tiba. Dari Nata, lalu beberapa menit kemudian mulutku hanya bisa menganga. Benar foto-foto lagi yang ia kirimkan namun bukan hasil fotonya namun dialah yang menjadi model bersama seorang gadis cantik disana. Siapa gadis itu? Mengapa mereka terlihat mesra sekali? Nata, apakah kau juga melakukan hal yang sama denganku karena kita jauh?
                Becak yang ku tumpangi sudah tak terasa berjalan lagi namun aku bagaikan terbang bahkan merasa hilang. Ada silet yang menyayat hati malam ini.
                “Mbak, sudah sampai.”
                Aku turun dari tempat duduk di becakku, rumah yang beraksen tua itu terpakir banyak kendaraan. Aku mengamati ada yang tak asing diantaranya. Aku memberikan sejumlah uang upah bagi pengemudi becak yang ku tumpangi. Belum sempat ku buka semua pintu pagar, aku melihat sosok yang sangat ku rindu sedang bercengkerama dengan banyak temannya. Ada sedikit yang membuatku mengganggu, sosok perempuan di sebelah Nata adalah gadis yang ada di foto itu. Langkah sepertinya tak mau melaju lagi.
                “Reni...”
                Namun Nata sempat melihat sosokku yang berdiri mematung di balik pagar. Aku mencoba berlari dari tapakku berpijak, tak ingin Nata menghampiri.
                “Tunggu Ren, kamu kok disini? Sama siapa? Kenapa tak memberitahuku?”
                “Kenapa kamu sempat tak memberiku kabar? Aku sudah merindukanmu tapi kamu sudah memiliki perempuan lain.” Tak kuat aku menahan emosi, aku tak peduli jika sorot mata teman-teman Nata menyoroti. Mata perempuan itu juga tak terkecuali.
                “Kamu bicara apa sih Ren, maksud kamu apa perempuan lain.”
                “Kamu jahat Nat.” Airmataku mulai mengalir
                “Oke, aku nggak ngasih kabar waktu itu ke kamu karena aku ada pelatihan fotografi juga banyak kerjaan disini. Untuk perempuan lain aku nggak ngerti.”
                “Kamu nggak usah mengelak. Ini buktinya.” Aku menyodorkan smartphoneku padanya
                Aku melihat muka Nata terkejut dan mulutnya sedikit ternganga. Aku heran mengapa dia juga terkejut saat melihat foto itu.
                “Ini Sendi, dia...”
                “Halo Ren, ketemu lagi. Ternyata Nata adalah kekasihmu itu ya.”
                Aku benar-benar ingin pingsan dalam tangis saat melihat sosok Endru tiba-tiba muncul di hadapanku. Oh, ternyata kendaraan yang tak asing bagiku tadi adalah mobil milik Endru.
                “Kamu kenal Reni Ndru?” Raut muka Nata semakin terkejut dan kebingungan
                “Dia kan mantan pacarku Nat, bahkan bisa jadi aku jadi selingkuhannya. Kami berpacaran saat kamu masih di Jogja, tanpa sepengetahuanmu yang jelas. Oh iya, sorry ya Nat. Aku tadi sengaja mengirimkan foto-fotomu sama Sendi di laptopmu yang masih terbuka akun e-mailnya.”
                “Apa? Apa-apaan ini?” Nata nampak geram.
                “Nat, aku minta maaf.” Aku masih menangis dengan hati yang semakin perih, aku mencoba meraih tangan Nata yang kemudian ia tepiskan.
                “Jadi selama ini kamu selingkuh dari aku? Iya Ren?”
                “Aku minta maaf, aku benar-benar tak bermaksud....”
                Kata-kataku tak pernah tuntas terucap, seperti itu pulalah kisah cintaku dengan Nata saat ini. Tak pernah tuntas duduk permasalahannya, tak pernah tuntas pula apakah kami berakhir atau dapat memperbaiki hubungan lagi. Aku tak mengerti, ini terlampau rumit. 
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik