Masih hujan senja sore ini, masih pula tengiang kisah penuh
dusta yang terungkap di awal gebyar mennyambut hari. Pesta kembang api dan
jalanan yang padat lautan manusia, merayakan malam dengan gegap gempita. Aku
tak tahu apakah mereka bahagia atau bersedih. Sedang aku merasa sunyi seketika
kemudian dihinggapi perih semakin rintih.
“Mau
makan apa ini Rin?” Tanya Elin
“Bakso
aja ya.”
“Yah...kok
bakso sih? Makan nasi dong.”
“Yaudah
nasi goreng deh.”
“Oke,
tuh disana ada. Disana juga, tapi kok rame semua ya.”
“Yaiyalah
rame orang tahun baruan begini di car free night lagi.”
Akhirnya
kami memutuskan untuk sedia menunggu makanan yang antri pesanannya melebihi
antri sembako gratis mungkin. Aku dan Elin menghabiskan malam tahun baruan
bersama karena ia tak jadi pergi camping bersama kawan-kawannya. Kemudian ia
memutuskan aku untuk mengajakku menyaksikan malam pergantian tahun dengan
berbeda. Elin tahu setiap malam pergantian tahun baru aku selalu diam saja di
rumah. Menghabiskan tumpukan tumpukan novel dengan santai, tak bersesakan seperti
malam ini. Aku tak pernah suka pesta rakyat seperti malam ini, terlalu riuh dan
bising.
“Jadi,
pacarmu yang itu gimana Rin?”
“Gimana
apanya?”
“Kamu
masih jalan kan sama dia.”
“Udah
nggak pernah.”
“Loh
kok bisa, kamu kan pacarnya. Atau kalian LDR an sekarang. Katanya dia sekolah
di luar negeri ya sekarang.”
Aku
hanya diam saja. Peluh berjibaku di dahuku malam ini mendung dan dingin, namun
karena volume manusia yang bersesakan di sepanjang jalan ini membuat udara
terasa gerah.
“Ah, ya
sudah. Aku maklum kalau kalian LDR. Eh, tapi aku ceritain pacarku ya Rin. Dia
sekarang tuh udah nyiapin diri buat ngelamar aku. Aku bakal nikah Rin, akhirnya
setelah penantian panjang aku ketemu juga dengan jodohku.” Elin menceritakan
kekasihnya dengan sumringah
“Eh,
serius? Kamu kok nggak pernah cerita ke aku sih, ih main sembunyi sembunyi
sekarang.” Aku memasang muka cemberut
“Bukan
sembunyi, kan kita baru sekarang bisa ketemu dan jalan bareng lagi kayak gini.
Tapi katanya dia akan menyelesaikan permasalahannya dulu dengan seseorang,
katanya orang ini sangat berarti buat dia. Aku jadi penasaran sendiri, katanya
sih orang ini pernah nyelamatin hidupnya. Wih keren banget kan orang itu, aku
jadi pengen ketemu juga. Oh iya ta.....”
Kalimat
Elin terputus,
“Regi,
kok kamu disini sayang? Bukannya kamu?”
Minuman
yang kubawa jatuh sudah bersama derai gerimis dari angkasa pun gerimis di
hatiku. Seseorang di hadapanku adalah kekasih sahabatku. Oh Tuhan....Gempita
kembang api berpendar, waktu akhirnya menunjukkan pukul dua belas dan berganti
bulan Januari. Di saat itulah hatiku patah. Ginjalku masih bersamanya, di dalam
tubuhnya. Regi Andi Darmawan, putra bangsawan yang menghilang setelah menjalin
kasih bersamaku selama waktu yang tak kuketahui. Orang yang kunanti ternyata
berkhianat di bulan Januari.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar