Rabu, 08 Januari 2014

Menghianati, Januari

Masih hujan senja sore ini, masih pula tengiang kisah penuh dusta yang terungkap di awal gebyar mennyambut hari. Pesta kembang api dan jalanan yang padat lautan manusia, merayakan malam dengan gegap gempita. Aku tak tahu apakah mereka bahagia atau bersedih. Sedang aku merasa sunyi seketika kemudian dihinggapi perih semakin rintih.
                “Mau makan apa ini Rin?” Tanya Elin
                “Bakso aja ya.”
                “Yah...kok bakso sih? Makan nasi dong.”
                “Yaudah nasi goreng deh.”
                “Oke, tuh disana ada. Disana juga, tapi kok rame semua ya.”
                “Yaiyalah rame orang tahun baruan begini di car free night lagi.”
                Akhirnya kami memutuskan untuk sedia menunggu makanan yang antri pesanannya melebihi antri sembako gratis mungkin. Aku dan Elin menghabiskan malam tahun baruan bersama karena ia tak jadi pergi camping bersama kawan-kawannya. Kemudian ia memutuskan aku untuk mengajakku menyaksikan malam pergantian tahun dengan berbeda. Elin tahu setiap malam pergantian tahun baru aku selalu diam saja di rumah. Menghabiskan tumpukan tumpukan novel dengan santai, tak bersesakan seperti malam ini. Aku tak pernah suka pesta rakyat seperti malam ini, terlalu riuh dan bising.
                “Jadi, pacarmu yang itu gimana Rin?”
                “Gimana apanya?”
                “Kamu masih jalan kan sama dia.”
                “Udah nggak pernah.”
                “Loh kok bisa, kamu kan pacarnya. Atau kalian LDR an sekarang. Katanya dia sekolah di luar negeri ya sekarang.”
                Aku hanya diam saja. Peluh berjibaku di dahuku malam ini mendung dan dingin, namun karena volume manusia yang bersesakan di sepanjang jalan ini membuat udara terasa gerah.
                “Ah, ya sudah. Aku maklum kalau kalian LDR. Eh, tapi aku ceritain pacarku ya Rin. Dia sekarang tuh udah nyiapin diri buat ngelamar aku. Aku bakal nikah Rin, akhirnya setelah penantian panjang aku ketemu juga dengan jodohku.” Elin menceritakan kekasihnya dengan sumringah
                “Eh, serius? Kamu kok nggak pernah cerita ke aku sih, ih main sembunyi sembunyi sekarang.” Aku memasang muka cemberut
                “Bukan sembunyi, kan kita baru sekarang bisa ketemu dan jalan bareng lagi kayak gini. Tapi katanya dia akan menyelesaikan permasalahannya dulu dengan seseorang, katanya orang ini sangat berarti buat dia. Aku jadi penasaran sendiri, katanya sih orang ini pernah nyelamatin hidupnya. Wih keren banget kan orang itu, aku jadi pengen ketemu juga. Oh iya ta.....”
                Kalimat Elin terputus,
                “Regi, kok kamu disini sayang? Bukannya kamu?”

                Minuman yang kubawa jatuh sudah bersama derai gerimis dari angkasa pun gerimis di hatiku. Seseorang di hadapanku adalah kekasih sahabatku. Oh Tuhan....Gempita kembang api berpendar, waktu akhirnya menunjukkan pukul dua belas dan berganti bulan Januari. Di saat itulah hatiku patah. Ginjalku masih bersamanya, di dalam tubuhnya. Regi Andi Darmawan, putra bangsawan yang menghilang setelah menjalin kasih bersamaku selama waktu yang tak kuketahui. Orang yang kunanti ternyata berkhianat di bulan Januari.
By : Rena Kharisma 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik