Gadis
itu masih tertegun di tepi danau yang tenang, di balik pekarangan milik
pamannya. Ia nampak begitu tenang pula masih dengan balutan selendang di
kepalanya, menutupi setiap helai rambutnya namun samar samar mampu kulihat
legam warna di balik selendang putih susu itu. Aku belum mengerti apa yang
sedang ia pikirkan disana. Aku tak kuasa mendekat, hanya mampu memerhatikannya
dari kejauhan. Sudah beberapa kali aku tak menyambangi danau ini, tak duduk di
tepian danau dan kayu lapuk yang bertengger dengan tenang disana. Walau begitu
kayu lapuknya masih mampu menampung berat badanku dengan nyaman.
Ya,
semenjak gadis yang selalu berselendang itu menyinggahi tempat semediku. Aku
hanya diam saja tak berontak karena dia telah merebut tempat yang selama ini
kujadikan persembunyian dari kejaran pikiran yang riuh rendah. Mungkin karena
guratan di wajahnya mengisyaratkan sendu dan pilu yang begitu mendalam. Aku pun
heran, mengapa tak ada sanak keluarganya yang datang untuk sekadar menyapanya
jika danau ini dekat sekali dengan pekarangan milik pamannya. Darimana aku
tahu? Karena paman gadis ini adalah teman ayahku, aku mengetahuinya pun dari
pamannya sendiri. Pernah sekali aku melihatnya berjalan masuk di ruang tamu
pamannya, sekilas ia memang seperti gadis yang sangat tertutup. Mungkin ia
perempuan yang mampu menyembunyikan banyak tanya di pikirannya dengan tabah
menyimpannya tanpa memiliki jawaban.
Baru
sepersekian detik aku akan meninggalkan tempatku memerhatikannya, aku mendengar
sedikit isak disana. Apakah gadis itu menangis? Aku lamat lamat mendengarkannya
lagi dengan seksama. Iya, dia sedang menangis. Kemudian ia berdiri, aku semakin
menyembunyikan diri di balik pohon mahoni agar keberadaanku tak pernah ia
ketahui. Tapi ingin rasanya aku menghampiri. Sekadar untuk menenangkannya atau
mengetahui siapa namanya. Aku telah mengagumi bagaimana caranya diam dan
bungkam.
Dia
tak lagi duduk di kayu lapuk di tepian danau, ia semakin mendekat pada danau
yang tak beraliran itu. Ada debar pada jantungku yang tercipta ketika bagian
bawah bajunya telah basah ditelan air danau tak beriak itu. Apa yang akan ia
lakukan? Ia semakin menenggelamkan diri di tenangnya air danau itu, aku tak
mampu bergerak dari tempatku bersembunyi. Aku tercengang sendiri. Hingga ketika
selendangnya terlepas dari kepalanya lalu geraian rambutnya yang legam mengapung
di permukaan air danau dan lehernya semakin tenggelam seakan membiarkan air
danau yang dingin itu mencekiknya. Aku tak mampu menahan diri lagi, aku harus
bergegas menariknya kembali ke daratan.
Aku
melangkahkan kaki dengan cepat, gemerisik dedaunan yang kupijak tak ku
pedulikan. Biar saja jika ia mengetahui bahwa selama ini aku memerhatikannya
dari jauh. Aku hendak mencapai bibir danau itu hingga tiba tiba...
“Nay,
apa yang kau lakukan?”
Sesosok
dari arah pekarangan menceburkan dirinya ke dalam danau itu, menyebabkan
gelombang pada danau yang tenang itu. Kakiku tersekat di pijakan terakhir.
Siapakah dia? Nampaknya seorang laki laki. Ia menarik gadis yang mungkin
bernama Nay itu ke daratan.
“Biar
saja, lebih baik Nay tenggelam di air danau ini daripada Nay harus tenggelam
dalam kenangan dan kesedihan semacam ini.” Gadis itu berontak dari pelukan laki
laki yang menyelamatkannya.
“Sadarlah
Nay, jangan kau berkabung selarut ini.”
“Kau
bicara apa? Mengapa kau datang saat ini? Kemana saja kau selama aku bersedih?
Aku sudah tak tahan ditekan keangkuhan.”
“Aku
kembali untukmu Nay, untuk Naylaku yang katanya akan membangun semesta sendiri
di kehidupan kita.”
Aku
semakin tertegun dengan perdebatan diantara kedua muda mudi yang rupanya telah
patah hati sebelum ini.
“Sudah
cukup aku terkekang sunyi dengan keangkuhan keluargamu dan keluargaku sendiri.
Aku bukan yang kau ingini. Sudah cukup jalankan sandiwara penuh dusta ini.
Cukup!!!!.”
Gadis
bernama Nayla itu berteriak, cukup mengusik burung burung yang sedang
beristirah senja kala itu. Lalu seketika laki laki yang tadi mendekapnya
terjatuh pada tanah basah, gadis bernama Nayla itu bertemu dengan pandangku.
Sorot matanya nampak geram seakan ada api di matanya yang menyala-nyala. Aku
tersenyum masam dan akhrinya memilih pasrah.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar