Sore
ini Silka menyempatkan diri mengunjungi kedai kopi milik salah satu relasinya.
Senja tak menampakkan semburat oranyenya di angkasa, hanya angkasa yang mendung
dengan angin yang riuh berhembus kesana kemari. Udara cukup dingin memang,
namun bagi Silka menyejukkan pikirannya yang penat. Ia sengaja memilih tempat
di balkon yang terbuka. Ia tak takut akan kehujanan nantinya meski mendung
mulai pekat. Ia masih penat.
“Aku
akan perjuangkan ini semua Sil, kamu serius kan sama aku?”
“Pram,
ini akan berat. Aku sayang sama kamu, tapi apakah restu kedua orang tuamu akan
benar benar mampu luluh?”
“Aku
akan berusaha meyakinkan mama dan papa aku Sil. Kamu percaya sama aku.”
Masih
terekam dengan jelas percakapan dua hari lalu di benak Silka bersama Pramudya
kekasihnya, ia berbincang masalah yang sedang mereka hadapi. Silka sangat
bahagia kala selesai pemotretan ada kejutan kecil yang disiapkan oleh Pram
untuknya di sebuah restoran taman di pusat kota. Kejutan kecil itu berubah jadi
sangat spesial ketika Pram menyatakan keseriusannya dengan Silka dan memberikan
cincin berlian. Silka takjub dengan perlakuan Pram yang sangat romantis. Tapi
setelah seminggu kejutan itu, prahara terjadi. Silka diundang ke rumah Pram dan
diperkenalkan dengan mama dan papanya. Namun apa yang terjadi, hujatan penuh
dengki terlontar dari mulut mama Pram. Serta tak adanya persetujuan dari papa
Pram, Silka ditolak habis habisan malam itu.
“Sil...”
Silka
terlonjak dari lamunannya ketika ada tangan yang menepuk bahunya. Kemudian
angin menghembuskan aroma yang sangat dikenalnya.
“Pram,
ngapain kamu kesini?”
“Kamu
tak bisa dihubungi. Kenapa kamu menghindar dari aku?”
“Pram,
jangan ganggu aku dulu. Aku butuh waktu.”
Pram
menggenggam tangan Silka, “Kita bisa selesaikan ini Sil.”
Silka
hanya bungkam namun riuh hati dan pikirannya bersahutan.
“Sil,
aku mohon. Kita pasti bisa selesaikan ini.” Pram menatap mata Silka dengan
memelas.
Silka
sudah tak tahan lagi menahan sesak di dadanya. Kelopaknya pun tak mampu
membendung linangan air mata.
“Sil,
aku mohon...kamu jangan nangis ya.” Pram mencoba menenangkan Silka yang
badannya mulai berguncang dirundung lara.
Sekuat
tenaga Silka menyeka air matanya, “Pram, kau lelaki baik. Aku sayang padamu.”
Silka melepaskan genggaman tangan Pram.
“Sebaiknya
kau pilih perempuan lain saja.” Silka melepas cincin berlian dari Pram dan
meletakkannya di meja.
“Tapi
Sil...” Pram tercekat lidahnya kelu.
“Maafkan
aku Pram, sebaiknya kita jalan masing masing saja. Aku menyayangimu tapi aku
mencintai profesiku sekalipun orang tuamu tak menyutujui. Aku tak apa, aku akan
lebih memilih setia pada profesiku yang kurintis sejak beberapa tahun lalu.”
“Sil....”
“Aku
minta maaf.”
Kemudian
hujan runtuh dari langit.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar