Rabu, 12 Februari 2014

Profesi

                Sore ini Silka menyempatkan diri mengunjungi kedai kopi milik salah satu relasinya. Senja tak menampakkan semburat oranyenya di angkasa, hanya angkasa yang mendung dengan angin yang riuh berhembus kesana kemari. Udara cukup dingin memang, namun bagi Silka menyejukkan pikirannya yang penat. Ia sengaja memilih tempat di balkon yang terbuka. Ia tak takut akan kehujanan nantinya meski mendung mulai pekat. Ia masih penat.
                “Aku akan perjuangkan ini semua Sil, kamu serius kan sama aku?”
                “Pram, ini akan berat. Aku sayang sama kamu, tapi apakah restu kedua orang tuamu akan benar benar mampu luluh?”
                “Aku akan berusaha meyakinkan mama dan papa aku Sil. Kamu percaya sama aku.”
                Masih terekam dengan jelas percakapan dua hari lalu di benak Silka bersama Pramudya kekasihnya, ia berbincang masalah yang sedang mereka hadapi. Silka sangat bahagia kala selesai pemotretan ada kejutan kecil yang disiapkan oleh Pram untuknya di sebuah restoran taman di pusat kota. Kejutan kecil itu berubah jadi sangat spesial ketika Pram menyatakan keseriusannya dengan Silka dan memberikan cincin berlian. Silka takjub dengan perlakuan Pram yang sangat romantis. Tapi setelah seminggu kejutan itu, prahara terjadi. Silka diundang ke rumah Pram dan diperkenalkan dengan mama dan papanya. Namun apa yang terjadi, hujatan penuh dengki terlontar dari mulut mama Pram. Serta tak adanya persetujuan dari papa Pram, Silka ditolak habis habisan malam itu.
                “Sil...”
                Silka terlonjak dari lamunannya ketika ada tangan yang menepuk bahunya. Kemudian angin menghembuskan aroma yang sangat dikenalnya.
                “Pram, ngapain kamu kesini?”
                “Kamu tak bisa dihubungi. Kenapa kamu menghindar dari aku?”
                “Pram, jangan ganggu aku dulu. Aku butuh waktu.”
                Pram menggenggam tangan Silka, “Kita bisa selesaikan ini Sil.”
                Silka hanya bungkam namun riuh hati dan pikirannya bersahutan.
                “Sil, aku mohon. Kita pasti bisa selesaikan ini.” Pram menatap mata Silka dengan memelas.
                Silka sudah tak tahan lagi menahan sesak di dadanya. Kelopaknya pun tak mampu membendung linangan air mata.
                “Sil, aku mohon...kamu jangan nangis ya.” Pram mencoba menenangkan Silka yang badannya mulai berguncang dirundung lara.
                Sekuat tenaga Silka menyeka air matanya, “Pram, kau lelaki baik. Aku sayang padamu.” Silka melepaskan genggaman tangan Pram.
                “Sebaiknya kau pilih perempuan lain saja.” Silka melepas cincin berlian dari Pram dan meletakkannya di meja.
                “Tapi Sil...” Pram tercekat lidahnya kelu.
                “Maafkan aku Pram, sebaiknya kita jalan masing masing saja. Aku menyayangimu tapi aku mencintai profesiku sekalipun orang tuamu tak menyutujui. Aku tak apa, aku akan lebih memilih setia pada profesiku yang kurintis sejak beberapa tahun lalu.”
                “Sil....”
                “Aku minta maaf.”

                Kemudian hujan runtuh dari langit.
By : Rena Kharisma 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik