“Sudah
kamu persiapkan semua Qi?” Dara sibuk merapikan baju dan beberapa barang di tas
Riqi.
“Emm...map
mapku udah aku masukkan semua belum ya?” Riqi berdiam sejenak sambil mengingat.
“Map
map buat penelitian disana?”
Riqi
mengangguk dan melangkah menuju meja belajarnya untuk mencoba mengecheck
kembali berkas berkas yang ia perlukan.
“Ehm...hey
hey ini...” Dara mengangkat map map warna biru itu di tangan kanannya.
“Ah,
iya itu. Kok kamu tahu sih Ra?”
“Apa
sih yang nggak aku tahu tentang kamu Qi.” Dara tersenyum jahil
Riqi
tiba tiba terdiam dan raut mukanya berubah sedikit menegang. Ia melamun sesaat,
‘kamu nggak tahu Ra, sebenarnya aku ingin kamu mencegah kepergianku tapi kamu
malah sibuk meyiapkan semuanya untukku.”
“Hey,
kok malah bengong sih. Ayo rapiin lagi itu barang barangmu.” Dara menyenggol lengan
Riqi.
“Ah,
iya iya.” Riqi kembali tenggelam mengemasi beberapa barang yang akan ia bawa ke
negeri seberang.
“Dara,
Riqi, ayo makan siang dulu sebelum berangkat ke bandara.” Mama Riqi masuk ke
kamar dan mengajak mereka segera menuju ruang makan.
“Oh,
iya tante. Terima kasih.”
“Duh,
Dara baik sekali sih bantuin Riqi sampai repot repot ikut packing begini.”
“Ya
kan kapan lagi bantuin Riqi tante, biasanya aku yang ngerepotin. Sekarang
saatnya aku bantu Riqi kan dia sebentar lagi hijrah ke negeri orang.”
Mama
Riqi tersenyum melihat tingkah Dara yang sangat bersemangat lalu meninggalkan
mereka. Sedang Riqi kembali melamun, ia berusaha menepis segala pikirannya yang
kacau.
“Qi,
ayo makan dulu yuk. Masa’ kamu kelaparan nanti pas perjalanan.”
“Bentar
lagi ya Ra.” Riqi menyibukkan diri dengan mengemas beberapa peralatan mandi.
“Kamu
ngapain sih bongkar bongkar itu lagi kan udah aku beresin tinggal masukin.”
“Oh,
iya.” Kemudian Riqi sibuk beralih merapikan buku bukunya.
“Qi,
ayolah. Aku sudah rapikan semua. Ayo makan dulu.” Dara menyeret tangan Riqi
Tanpa
sengaja ada beberapa lembar kertas berjatuhan dari selipan buku yang dipegang
Riqi.
“Tuh
kan Qi, berantakan lagi. Kamu itu ya....” Tiba tiba ucapan Dara tercekat ketika
membereskan kertas yang berjatuhan itu dan membacanya.
“Qi,
kamu....” Raut wajah Dara penuh tanya.
“Ra,
kamu rela aku pergi ke luar negeri? Kamu nggak berat aku pergi kesana? Kita
udah sama sama lama banget Ra. Kamu nggak merasa kalau aku, kalau aku....”
Seketika
hening
“Aku
sayang kamu Ra...bukan sebagai sahabat.”
Lalu
waktu terasa terhenti dan mereka tersekap pada degup jantung masing masing.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar