“Maaf,
aku minta maaf...” Angin masih berderu dan mendung mulai mengangkasa.
“Minta
maaf dan memaafkan itu mudah tapi melupakannya yang susah.” Kau masih dengan
muka yang dingin.
“Lalu,
bagaimana selanjutnya?” Nada bicaraku mulai menurun dan terdengar sedikit
memelas.
“Bagaimana?
Aku juga nggak tahu.” Lalu kau diam, angin mulai berhembus tapi bagiku udaranya
menyesakkan.
Kita
masih diam saja di sebuah balkon yang pandangannya mampu menembus angkasa
sedang penyeselanku tak mampu menembus kesempatan untukku. Kemudian kau
menjabarkan bagaimana sikap tak menyenangkanku melukai hatimu. Sebenarnya ingin
kusangkali bahwa apa yang kau utarakan adalah yang tak kau tahu dibalik itu
semua. Namun percuma saja, aku adalah yang selalu tak mampu berkata kata
sepenuhnya ketika bersamamu. Rasanya cukup dan nyaman aku berada di sisimu meski
tanpa saling berbicara.
“Baiklah,
aku memang salah. Aku terlambat mengetahui kesalahanku sebelum kau jabarkan
semua.” Akhirnya aku menyerah, aku mengaku kalah. Tapi aku tak ingin hubunganku
dengannya jadi pasrah. Aku masih ingin memperbaiki semuanya.
“Lalu?”
“Kalau
kau memang ingin menyudahi segalanya aku terima.”
“Sebenarnya
aku....”
“Hey
sayang, masih lama ya?”
Aku
terkejut melihat sosok perempuan yang tak asing lagi bagiku.
“Eh,
iya. Maaf.” Pandangan yang dingin dan menusukku berubah sekejap ketika melihat
perempuan itu, begitu teduh. Sama saat kau menatapku waktu pertama kali kita
bertemu.
“Masih
lama ya?” Perempuan itu menggelayut di lenganmu, seketika itu pula hatiku
remuk.
“Maaf
Dar, aku balikan sama dia. Kita sudahi saja ya.” Kau tak menunggu jawabanku dan
begitu saja berlalu meninggalkanku beku.
Aku
masih tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mataku. Jadi selama ini dia
telah kembali pada pelukan mantan kekasihnya. Ternyata bukan hanya terlambat
mengetahui kesalahanku tapi aku juga terlambat menyelamatkan hatiku darimu yang
hanya seorang penipu.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar