“Wah...serius
tempat ini keren Ri. Kamu tahu dari mana tempat sewarna-warni ini?”
Aku
masih saja tak melepas senyuman ketika melihat Sekar kegirangan aku bawa ke tempat
ini. Tempat ketika dulu waktu kecil aku menghabiskannya bersama mamaku. Tempat
ini ditumbuhi banyak bunga dengan berbagai warna, bukan daerah tropis memang
tapi tanaman bunga di sini masih mampu mekar dengan indah.
“Kamu
kenapa nggak bawa aku ke tempat ini jauh-jauh hari sih kan kita temenan sudah
lama Ri?” Sekar dengan cerianya menghirup aroma bunga-bungaan.
“Aku
baru bawa kamu ke sini kalau kamu udah umur dua puluh satu tahun.”
“Kok
gitu sih?”
“Iya
dong, kan kita suka nonton di bioskop twenty one jadi itu alasanku.”
Ada
cemberut menghiasi muka Sekar yang masih kekanak-kanakan itu. Aku tahu dia tak
puas dengan jawabanku dan tak terima dengan alasanku. Apa boleh buat hanya itu
yang terlintas di pikiranku untuk menutupi lara di hatiku. Ya, duka yang selama
ini aku tutupi dan aku pendam bertahun-tahun karena aku tak ingin kenangan itu
kembali membuatku rapuh sebagai laki-laki.
“Ri,
bunga-bunga ini milik siapa?”
“Maksdunya
milik siapa?”
“Aku
berpikir kalau ini kebun bunga jadi banyak bunga-bunga indah bermekaran di
sini. Sepertinya bunga-bunga ini juga dirawat dengan sangat bagus.”
Aku
heran, selama tiga tahun ini aku dan Sekar sering menghabiskan waktu bersama ia
selalu saja mampu membuatku menguak beberapa kisah pribadi tentang diriku.
Pertanyaan Sekar tadi secara tidak langsung akan menguak cerita laluku lagi.
Aku
berdehem, menyiapkan suara yang mungkin nanti akan terdengar derak jika bicara.
“Emm...Kar.”
“Iya?
Kenapa Ri?” Sekar nampak terkejut dengan perubahan air mukaku yang berubah
serius.
“Aku
boleh cerita sesuatu?”
“Boleh
dong.” Sekar tersenyum lebar.
“Sebenarnya
dulu kebun bunga ini milik keluargaku tapi semenjak Papaku memutuskan bercerai
dari Mama. Papa menjual perkebunan ini untuk menikah lagi dengan perempuan
lain.”
“Ri,”
“Aku
belum selesai cerita.”
“Maaf.”
“Aku
pernah berjanji suatu saat nanti aku akan ke tempat ini lagi. Tempat saat aku
dan mama sering menghabiskan waktu digelaran bunga-bunga warni-warni ini
bersama orang yang sangat aku cintai. Dan itu kamu Sekar.”
Aku
melihat rona memerah di pipi Sekar, aku menatap matanya yang sudah
berkaca-kaca.
“Sekar,
aku tak meminta apa-apa. Tapi inilah perasaanku ke kamu yang aku pendam sudah
terlalu lama. Mungkin ketika kau menganggapku teman, aku menganggapmu sebagai
sahabat. Ketika kamu menganggapku sahabat, aku menganggapmu seorang yang paling
kukasihi setelah mamaku. Aku beruntung telah mengenalmu.”
Hening
sejenak, aroma wewangi bunga menyemerbak saat angin berhembus.
Sekar
menghela napas. “Dan aku perempuan paling beruntung menyaksikan cinta
bermekaran karenamu.”
Akhirnya
cintaku telah rekah setelah selama ini aku kuncupkan lama-lama. Sekar, kau
memang selayak bunga yang mekar.
By: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar