Rabu, 19 Maret 2014

Bunga Mekar, Sekar

                “Wah...serius tempat ini keren Ri. Kamu tahu dari mana tempat sewarna-warni ini?”
                Aku masih saja tak melepas senyuman ketika melihat Sekar kegirangan aku bawa ke tempat ini. Tempat ketika dulu waktu kecil aku menghabiskannya bersama mamaku. Tempat ini ditumbuhi banyak bunga dengan berbagai warna, bukan daerah tropis memang tapi tanaman bunga di sini masih mampu mekar dengan indah.
                “Kamu kenapa nggak bawa aku ke tempat ini jauh-jauh hari sih kan kita temenan sudah lama Ri?” Sekar dengan cerianya menghirup aroma bunga-bungaan.
                “Aku baru bawa kamu ke sini kalau kamu udah umur dua puluh satu tahun.”
                “Kok gitu sih?”
                “Iya dong, kan kita suka nonton di bioskop twenty one jadi itu alasanku.”
                Ada cemberut menghiasi muka Sekar yang masih kekanak-kanakan itu. Aku tahu dia tak puas dengan jawabanku dan tak terima dengan alasanku. Apa boleh buat hanya itu yang terlintas di pikiranku untuk menutupi lara di hatiku. Ya, duka yang selama ini aku tutupi dan aku pendam bertahun-tahun karena aku tak ingin kenangan itu kembali membuatku rapuh sebagai laki-laki.
                “Ri, bunga-bunga ini milik siapa?”
                “Maksdunya milik siapa?”
                “Aku berpikir kalau ini kebun bunga jadi banyak bunga-bunga indah bermekaran di sini. Sepertinya bunga-bunga ini juga dirawat dengan sangat bagus.”
                Aku heran, selama tiga tahun ini aku dan Sekar sering menghabiskan waktu bersama ia selalu saja mampu membuatku menguak beberapa kisah pribadi tentang diriku. Pertanyaan Sekar tadi secara tidak langsung akan menguak cerita laluku lagi.
                Aku berdehem, menyiapkan suara yang mungkin nanti akan terdengar derak jika bicara.
                “Emm...Kar.”
                “Iya? Kenapa Ri?” Sekar nampak terkejut dengan perubahan air mukaku yang berubah serius.
                “Aku boleh cerita sesuatu?”
                “Boleh dong.” Sekar tersenyum lebar.
                “Sebenarnya dulu kebun bunga ini milik keluargaku tapi semenjak Papaku memutuskan bercerai dari Mama. Papa menjual perkebunan ini untuk menikah lagi dengan perempuan lain.”
                “Ri,”
                “Aku belum selesai cerita.”
                “Maaf.”
                “Aku pernah berjanji suatu saat nanti aku akan ke tempat ini lagi. Tempat saat aku dan mama sering menghabiskan waktu digelaran bunga-bunga warni-warni ini bersama orang yang sangat aku cintai. Dan itu kamu Sekar.”
                Aku melihat rona memerah di pipi Sekar, aku menatap matanya yang sudah berkaca-kaca.
                “Sekar, aku tak meminta apa-apa. Tapi inilah perasaanku ke kamu yang aku pendam sudah terlalu lama. Mungkin ketika kau menganggapku teman, aku menganggapmu sebagai sahabat. Ketika kamu menganggapku sahabat, aku menganggapmu seorang yang paling kukasihi setelah mamaku. Aku beruntung telah mengenalmu.”
                Hening sejenak, aroma wewangi bunga menyemerbak saat angin berhembus.
                Sekar menghela napas. “Dan aku perempuan paling beruntung menyaksikan cinta bermekaran karenamu.”

                Akhirnya cintaku telah rekah setelah selama ini aku kuncupkan lama-lama. Sekar, kau memang selayak bunga yang mekar.
By: Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik