Rabu, 19 Maret 2014

Laki-Laki Musim Gugur

                “Oh dedaunan telah banyak yang berguguran dari rantingnya ternyata. Aku tak boleh melewatkan ini, aku harus menyiapkan sekeranjang roti keju dan teh kotak kesukaannya. Ah, iya aku harus memakai baju warna cerah seperti yang ia katakan setiap musim gugur tiba. Iya, satu lagi kau akan selalu memberiku bunga ketika aku telah membantumu membawa.....”
                Kemudian Keyla menangis tersedu-sedu setelah berbicara sendiri dengan berkaca-kaca, ia terduduk di bangku taman yang tak pernah asing lagi baginya. Siang itu ia merinci apa saja yang Gama perlukan setiap musim gugur tiba. Ketika sepoain angin berhembus sejenak, Keyla memejamkan mata dan menuntaskan seluruh tangisnya. Lalu menyekanya dengan tergesa.
                “Aku ingat betul kau paling suka musim gugur Ga, ketika daun-daun menguning dan jatuh tanpa diminta. Tak lama kemudian berserakan ditiupi angin dan jalanan yang penuh dengan daun-daun kering itu tak lepas dari potret kameramu. Aku selalu memakai warna merah setiap mengantarmu mengabadikan musim gugur itu. Pernah sekali aku memakai baju sepadan warna daun-daun kering itu tapi kau bilang bahwa musim gugur bukan pertanda kesedihan tetapi ia penebar kedamaian. Begitu katamu.”
                Keyla masih saja merenungi kenangannya bersama Gama, sampai senja tiba ia masih di sana. Merunut rindu hingga larut.
*****
                “Key, bawakan tas kameraku ya.”
                “Iya...”
                “Oh iya, nanti kita gelar karpetnya di dekat pohon itu aja ya. Habis motret aku bakal makan rotinya.”
                Keyla tersenyum, ia mengikuti laki-laki yang sedang giat membidik segala objek tanaman yang ada di situ. Kemudian ia berhenti di bawah pohon yang cukup rindang, menyeka keringat yang bercucuran. Sebentar ia ingin duduk dan beristirahat.
                “Key, minumku mana? Bawa sini dong haus nih.”
                Keyla yang akan duduk di bawah pohon rindang itu berlari membawa sekeranjang piknik berisi makanan dan minuman.
                “Ini.” Keyla memberikan sebotol es.
                “Makasih, kamu gelar tikarnya di sini aja ya.”
                Keyla mengangguk.
                Ia menata segala macam makanan yang ia bawa di atas tikar itu. Menikmati cuaca yang cerah. Memerhatikan laki-laki yang ia temani itu dengan lensa kameranya, beberapa kali melihat hasil jepretannya. Selang satu jam kemudian laki-laki itu menghampiri Keyla dengan membawa setangkai bunga.
                “Hhh...capek juga ya.”
                “Aku boleh lihat hasilnya?” Keyla menatap laki-laki di hadapannya dengan muka berharap.
                Belum sempat diberikan kamera itu, laki-laki itu mengangkat ponselnya yang berdering. Setelah itu, dengan wajah terburu ia berkata pada Keyla.
                “Key, sorry ya. Aku harus ke tempat temanku sekarang. Aku harus menemui temanku yang meminta bunga ini tadi pagi. Sorry nggak bisa nemenin makan di sini. Aku duluan ya.”
                Saat itu juga angin yang pergi bersama laki-laki itu berbisik perih di telinganya. Ia tak mengerti mengapa ia harus bersama laki-laki itu saat ini. Hatinya begitu kecewa.
                “Ga, memang tak ada sosok yang mampu menggantikanmu. Aku pikir dengan orang yang mirip kamu, segala kesukaannya hampir menyerupaimu, aku salah jika mampu menggantikan tempatmu di hatiku. Ferry bukan seperti yang aku harapkan. Ga, kau masih yang paling aku cinta. Salahku jika waktu itu harus meninggalkanmu karena kemarahan sesaatku. Aku terlambat menyadari ketulusan cintamu.”

                Keyla, sendirian di atas gelaran tikarnya. Ia kembali menyesal dengan perbuatannya di masa lalu. Seorang Gama yang selalu tulus mendampinginya waktu itu tak pernah memaksa jika Keyla tak ingin menemaninya mengambil gambar dari kameranya. Selalu memberikan bunga saat Keyla sudah membawakan tas kameranya. Kemudian bernyanyi sebaris lagu ketika Keyla telah menyiapkan roti keju dan sekotak teh untuknya. Semuanya memang sudah terlambat sebab cintanya telah gugur bersama beberapa kenangan yang kuat.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik