“Oh
dedaunan telah banyak yang berguguran dari rantingnya ternyata. Aku tak boleh
melewatkan ini, aku harus menyiapkan sekeranjang roti keju dan teh kotak
kesukaannya. Ah, iya aku harus memakai baju warna cerah seperti yang ia katakan
setiap musim gugur tiba. Iya, satu lagi kau akan selalu memberiku bunga ketika
aku telah membantumu membawa.....”
Kemudian
Keyla menangis tersedu-sedu setelah berbicara sendiri dengan berkaca-kaca, ia
terduduk di bangku taman yang tak pernah asing lagi baginya. Siang itu ia
merinci apa saja yang Gama perlukan setiap musim gugur tiba. Ketika sepoain
angin berhembus sejenak, Keyla memejamkan mata dan menuntaskan seluruh
tangisnya. Lalu menyekanya dengan tergesa.
“Aku
ingat betul kau paling suka musim gugur Ga, ketika daun-daun menguning dan
jatuh tanpa diminta. Tak lama kemudian berserakan ditiupi angin dan jalanan
yang penuh dengan daun-daun kering itu tak lepas dari potret kameramu. Aku
selalu memakai warna merah setiap mengantarmu mengabadikan musim gugur itu.
Pernah sekali aku memakai baju sepadan warna daun-daun kering itu tapi kau
bilang bahwa musim gugur bukan pertanda kesedihan tetapi ia penebar kedamaian.
Begitu katamu.”
Keyla
masih saja merenungi kenangannya bersama Gama, sampai senja tiba ia masih di
sana. Merunut rindu hingga larut.
*****
“Key,
bawakan tas kameraku ya.”
“Iya...”
“Oh
iya, nanti kita gelar karpetnya di dekat pohon itu aja ya. Habis motret aku
bakal makan rotinya.”
Keyla
tersenyum, ia mengikuti laki-laki yang sedang giat membidik segala objek
tanaman yang ada di situ. Kemudian ia berhenti di bawah pohon yang cukup
rindang, menyeka keringat yang bercucuran. Sebentar ia ingin duduk dan
beristirahat.
“Key,
minumku mana? Bawa sini dong haus nih.”
Keyla
yang akan duduk di bawah pohon rindang itu berlari membawa sekeranjang piknik
berisi makanan dan minuman.
“Ini.”
Keyla memberikan sebotol es.
“Makasih,
kamu gelar tikarnya di sini aja ya.”
Keyla
mengangguk.
Ia
menata segala macam makanan yang ia bawa di atas tikar itu. Menikmati cuaca
yang cerah. Memerhatikan laki-laki yang ia temani itu dengan lensa kameranya,
beberapa kali melihat hasil jepretannya. Selang satu jam kemudian laki-laki itu
menghampiri Keyla dengan membawa setangkai bunga.
“Hhh...capek
juga ya.”
“Aku
boleh lihat hasilnya?” Keyla menatap laki-laki di hadapannya dengan muka berharap.
Belum
sempat diberikan kamera itu, laki-laki itu mengangkat ponselnya yang berdering.
Setelah itu, dengan wajah terburu ia berkata pada Keyla.
“Key,
sorry ya. Aku harus ke tempat temanku sekarang. Aku harus menemui temanku yang
meminta bunga ini tadi pagi. Sorry nggak bisa nemenin makan di sini. Aku duluan
ya.”
Saat
itu juga angin yang pergi bersama laki-laki itu berbisik perih di telinganya.
Ia tak mengerti mengapa ia harus bersama laki-laki itu saat ini. Hatinya begitu
kecewa.
“Ga,
memang tak ada sosok yang mampu menggantikanmu. Aku pikir dengan orang yang
mirip kamu, segala kesukaannya hampir menyerupaimu, aku salah jika mampu
menggantikan tempatmu di hatiku. Ferry bukan seperti yang aku harapkan. Ga, kau
masih yang paling aku cinta. Salahku jika waktu itu harus meninggalkanmu karena
kemarahan sesaatku. Aku terlambat menyadari ketulusan cintamu.”
Keyla,
sendirian di atas gelaran tikarnya. Ia kembali menyesal dengan perbuatannya di
masa lalu. Seorang Gama yang selalu tulus mendampinginya waktu itu tak pernah
memaksa jika Keyla tak ingin menemaninya mengambil gambar dari kameranya.
Selalu memberikan bunga saat Keyla sudah membawakan tas kameranya. Kemudian
bernyanyi sebaris lagu ketika Keyla telah menyiapkan roti keju dan sekotak teh
untuknya. Semuanya memang sudah terlambat sebab cintanya telah gugur bersama
beberapa kenangan yang kuat.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar