Aku
masih membungkus rapi tiap kenangan yang pernah terjadi pada kisah percintaan
yang kini hanya sebagai ulasan silam. Dengan tekun aku menulis setiap kejadian
yang menyenangkan, membingungkan, dan menyenangkan saat itu. Lalu aku tempelkan
di dinding kamar agar aku mampu mengingat setiap moment itu.
“Wah,
makin banyak aja ya note-note di dindingmu ini Ren.” Kakakku masuk tanpa
mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu.
Aku
yang sempat terkejut hanya membalasnya dengan senyuman.
“Tapi
kenapa kamu banyak merenung akhir-akhir ini? Ada masalah sama tokoh-tokoh yang
ada dalam note-notemu itu?”
“Kak,
semuanya sudah berlalu.” Aku menghela napas panjang.
“Berlalu?
Jadi selama ini kakak ketinggalan banyak berita dan kisah cintamu?” Kakak duduk
di sampingku. Aku masih sibuk menggulung kertas-kertas kecil dan memasukkannya
dalam botol.
“Ya,
seperti itulah. Kakak kelamaan di Bali sih.” Aku manyun.
“Maafkan
kakakmu ini adikku tercinta. Janganlah kau bersedih.” Tanpa aba-aba kakak
memelukku erat.
“Kakak
apaan sih?” Aku sedikit meronta di pelukannya tapi tak berusaha ingin melepas.
Aku terlalu rindu pelukan hangat kakakku ini.
“Terus,
itu kertas-kertas kecil itu mau kamu apain? Kok dimasukkan botol?” Kakakku
memasang muka penasaran.
“Kertas-kertas
ini akan menempuh perjalanan jauh.” Kataku sambil menerawang.
“Maksudnya?”
“Semua
ini berisi tentang kisahku dulu bersama orang-orang yang kusayangi kak. Tapi
mereka semua memilih untuk pergi dari kehidupanku.”
“Loh,
kenapa? Kenapa mereka pergi ninggalin kamu?” Kakakku protes dengan nada tinggi.
“Entahlah
kak, mungkin tak selamanya yang mampu aku rengkuh dulu akan menjadi milikku.
Aku sudah terlalu lama terkungkung pada tulisan kertas-kertas kecil ini. Kadang
meratapi lalu menangisinya. Tapi kali ini aku sadar bahwa hidup masih perlu
diarungi. Suatu saat pasti akan kutemui kisah baru lagi.” Mataku sempat
berkaca-kaca.
“Oh,
adikku sayang. Kamu bertambah dewasa sekarang. Kakak senang, kamu mampu bijak
terhadap kenangan yang sempat melukaimu.”
Aku
kembali hanya tersenyum, kakakku meraih beberapa kertas dan membantu
menggulungnya. Sesakali membaca tulisan yang ada di sana.
“Tulisanmu
bagus Ren, kata-katanya banyak yang menyentuh. Kamu puitis juga ya. Sayang
sekali jika ini harus dibiarkan pergi.” Ada raut penyesalan di muka kakak.
“Tak
apa kak.”
“Jadi,
kakak boleh ikut mengantar pengembaraan jauh kertas-kertas ini?” Kakakku
berubah ceria dan penuh semangat.
“Antar
aku ke lautan di Bali kak.” Aku tersenyum manis.
“Baiklah,
sang pujangga Karen yang akan melarung kisahnya di lautan Bali bersama ombak.
Kakak Adelia siap mendampingimu.”
Di
akhir kisah ini, aku semakin mampu berbagi kisah tanpa harus terlena akan
kenangan yang selama ini meninabobokkan aku dalam penantian semu. Aku tahu,
jika aku mampu melepas apa yang seharusnya kulepas, suatu saat aku akan
mendapat apa yang seharusnya aku dapat.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar