Rabu, 12 Maret 2014

Kertas Kenangan

                Aku masih membungkus rapi tiap kenangan yang pernah terjadi pada kisah percintaan yang kini hanya sebagai ulasan silam. Dengan tekun aku menulis setiap kejadian yang menyenangkan, membingungkan, dan menyenangkan saat itu. Lalu aku tempelkan di dinding kamar agar aku mampu mengingat setiap moment itu.
                “Wah, makin banyak aja ya note-note di dindingmu ini Ren.” Kakakku masuk tanpa mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu.
                Aku yang sempat terkejut hanya membalasnya dengan senyuman.
                “Tapi kenapa kamu banyak merenung akhir-akhir ini? Ada masalah sama tokoh-tokoh yang ada dalam note-notemu itu?”
                “Kak, semuanya sudah berlalu.” Aku menghela napas panjang.
                “Berlalu? Jadi selama ini kakak ketinggalan banyak berita dan kisah cintamu?” Kakak duduk di sampingku. Aku masih sibuk menggulung kertas-kertas kecil dan memasukkannya dalam botol.
                “Ya, seperti itulah. Kakak kelamaan di Bali sih.” Aku manyun.
                “Maafkan kakakmu ini adikku tercinta. Janganlah kau bersedih.” Tanpa aba-aba kakak memelukku erat.
                “Kakak apaan sih?” Aku sedikit meronta di pelukannya tapi tak berusaha ingin melepas. Aku terlalu rindu pelukan hangat kakakku ini.
                “Terus, itu kertas-kertas kecil itu mau kamu apain? Kok dimasukkan botol?” Kakakku memasang muka penasaran.
                “Kertas-kertas ini akan menempuh perjalanan jauh.” Kataku sambil menerawang.
                “Maksudnya?” 
                “Semua ini berisi tentang kisahku dulu bersama orang-orang yang kusayangi kak. Tapi mereka semua memilih untuk pergi dari kehidupanku.”
                “Loh, kenapa? Kenapa mereka pergi ninggalin kamu?” Kakakku protes dengan nada tinggi.
                “Entahlah kak, mungkin tak selamanya yang mampu aku rengkuh dulu akan menjadi milikku. Aku sudah terlalu lama terkungkung pada tulisan kertas-kertas kecil ini. Kadang meratapi lalu menangisinya. Tapi kali ini aku sadar bahwa hidup masih perlu diarungi. Suatu saat pasti akan kutemui kisah baru lagi.” Mataku sempat berkaca-kaca.
                “Oh, adikku sayang. Kamu bertambah dewasa sekarang. Kakak senang, kamu mampu bijak terhadap kenangan yang sempat melukaimu.”
                Aku kembali hanya tersenyum, kakakku meraih beberapa kertas dan membantu menggulungnya. Sesakali membaca tulisan yang ada di sana.
                “Tulisanmu bagus Ren, kata-katanya banyak yang menyentuh. Kamu puitis juga ya. Sayang sekali jika ini harus dibiarkan pergi.” Ada raut penyesalan di muka kakak.
                “Tak apa kak.”
                “Jadi, kakak boleh ikut mengantar pengembaraan jauh kertas-kertas ini?” Kakakku berubah ceria dan penuh semangat.
                “Antar aku ke lautan di Bali kak.” Aku tersenyum manis.
                “Baiklah, sang pujangga Karen yang akan melarung kisahnya di lautan Bali bersama ombak. Kakak Adelia siap mendampingimu.”

                Di akhir kisah ini, aku semakin mampu berbagi kisah tanpa harus terlena akan kenangan yang selama ini meninabobokkan aku dalam penantian semu. Aku tahu, jika aku mampu melepas apa yang seharusnya kulepas, suatu saat aku akan mendapat apa yang seharusnya aku dapat. 
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik