Rabu, 12 Maret 2014

Sosok Mungil

                “Kemudian apa?” Perdebatan di penghujung senja itu belum berakhir.
                “Jika kamu memilih untuk pergi, jangan salahkan aku jika tetap bertahan.” Suara perempuan itu sempat tercekat oleh isakan yang ditahan.
                “Dasar perempuan! Keras kepala.” Ada nada yang amat keras dari kata-kata laki-laki itu.
                “Aku tak meminta apa-apa darimu, apa yang mampu kau berikan untukku aku menerimanya dengan ikhlas. Selama ini aku tidak pernah menuntut yang macam-macam.” Tak terbendung lagi air mata yang menggenang di sudut mata sayu itu.
                “Aku sudah nggak betah dengan pertengkaran kita.”
                “Kamu yang memulai.”
                “Kamu selalu saja menyalahkan aku.” Laki-laki itu memasang muka geram.
                “Sampai kapan kita begini?” Perempuan itu menyandarkan dirinya yang lemah di tembok, seakan ingin mencari sandaran agar ia tak jatuh pingsan akibat perkataan laki-laki itu.
                “Kamu selalu saja mendebatku!” Laki-laki itu memalingkan muka agar matanya tak bertemu dengan mata perempuan yang sedang menangis itu. Ia tak tega.
                “Sebegini sajakah perjuanganmu, perjuanganku, perjuangan kita?” Mulai terdengar isak
                “Aku......” Suara laki-laki itu terputus ketika melihat sosok mungil yang muncul di tengah perdebatan itu.
                Hening kemudian, hanya deru isak perempuan itu yang terdengar. Sosok mungil itu memandangi keduanya bergantian. Kemudian menarik tangan laki-laki itu dan mengarahkannya pada perempuan yang sedang bersandar di tembok beserta tangisnya. Ia membuka telapak tangan kanan perempuan yang tangisnya mulai reda itu. Tangan mereka berdua ditautkan di sana oleh sosok mungil tersebut. Jemari mereka berdua saling menggenggam sekarang.
                “Katanya, mama papa mau jadi teman hidup selamanya. Kok bertengkar?” Sosok mungil itu mengutarakan pendapatnya dengan sangat tulus dan muka kekanakannya yang polos.

                Baik perempuan maupun laki-laki itu menghambur memeluk sosok mungil yang sedari tadi diam-diam mendengarkan perdebatan mama dan papanya dari balik pintu kamar.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik