“Kemudian
apa?” Perdebatan di penghujung senja itu belum berakhir.
“Jika
kamu memilih untuk pergi, jangan salahkan aku jika tetap bertahan.” Suara
perempuan itu sempat tercekat oleh isakan yang ditahan.
“Dasar
perempuan! Keras kepala.” Ada nada yang amat keras dari kata-kata laki-laki
itu.
“Aku
tak meminta apa-apa darimu, apa yang mampu kau berikan untukku aku menerimanya
dengan ikhlas. Selama ini aku tidak pernah menuntut yang macam-macam.” Tak
terbendung lagi air mata yang menggenang di sudut mata sayu itu.
“Aku
sudah nggak betah dengan pertengkaran kita.”
“Kamu
yang memulai.”
“Kamu
selalu saja menyalahkan aku.” Laki-laki itu memasang muka geram.
“Sampai
kapan kita begini?” Perempuan itu menyandarkan dirinya yang lemah di tembok,
seakan ingin mencari sandaran agar ia tak jatuh pingsan akibat perkataan
laki-laki itu.
“Kamu
selalu saja mendebatku!” Laki-laki itu memalingkan muka agar matanya tak
bertemu dengan mata perempuan yang sedang menangis itu. Ia tak tega.
“Sebegini
sajakah perjuanganmu, perjuanganku, perjuangan kita?” Mulai terdengar isak
“Aku......”
Suara laki-laki itu terputus ketika melihat sosok mungil yang muncul di tengah
perdebatan itu.
Hening
kemudian, hanya deru isak perempuan itu yang terdengar. Sosok mungil itu
memandangi keduanya bergantian. Kemudian menarik tangan laki-laki itu dan
mengarahkannya pada perempuan yang sedang bersandar di tembok beserta
tangisnya. Ia membuka telapak tangan kanan perempuan yang tangisnya mulai reda
itu. Tangan mereka berdua ditautkan di sana oleh sosok mungil tersebut. Jemari
mereka berdua saling menggenggam sekarang.
“Katanya,
mama papa mau jadi teman hidup selamanya. Kok bertengkar?” Sosok mungil itu
mengutarakan pendapatnya dengan sangat tulus dan muka kekanakannya yang polos.
Baik
perempuan maupun laki-laki itu menghambur memeluk sosok mungil yang sedari tadi
diam-diam mendengarkan perdebatan mama dan papanya dari balik pintu kamar.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar