Aku
masih mengenakan syal warna cokelat rajutan nenekku ketika waktu sudah
menjemput senja di pantai kota ini. Tapi tak ada warna jingga ataupun oranye
yang datang di sore itu. Aku duduk di sebuah bangku besi tanpa penghuni,
sendiri. Menanti kedatanganmu pulang pada pantai yang dulu sering kita datangi
bersama. Lalu lalang orang di hadapanku tak sempat kupedulikan, sebab pikiranku
terlalu ramai oleh segala kecamuk tentangmu. Tentang kita.
“Permisi,
saya boleh duduk di sini?”
Aku
diam saja, seorang perempuan muda berambut pirang dengan tas kertas yang
mungkin berisikan kertas. Ia sedikit menengok, menemukan mukaku.
“Bolehkah
saya?” Mukanya merona, aku suka.
Sempat
heran aku dibuatnya, aku kira tak ada orang seramah perempuan itu di negeri
yang liberalis ini.
Aku
segera mengangguk, mengiyakan izinnya untuk duduk di sampingku. Setelah aku
kepergok mencuri pandang pada kedua bola matanya yang berlensa biru.
“Anda
mau?” Ia menyodoriku sebuah roti bertabur gula salju warna putih. Ah,
menggiurkan sekali.
“Terima
kasih, saya sudah kenyang.” Aku menolak tawaran rotinya yang menggiurkan itu.
Aku
melihatnya lahap sekali, aku intip sekali-kali ada sisa gula di ujung bibirnya.
Andai aku mampu menghapusnya.
“Kenapa
kamu ke sini?” Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tegap berdiri tepat di
hadapan perempuan itu. Dengan kasar ia menarik tangannya dan berhasil
menjatuhkan roti yang belum habis dimakannya. Kejam sekali laki-laki ini.
“Aku
akan pulang nanti, setelah pukul tujuh. Aku sudah memberitahumu.” Perempuan itu
meronta dengan lemah.
“Tidak
ada waktu yang pantas untukmu di sini. Seharusnya kamu di rumah saja.” Laki-laki
itu semakin membabi buta mencerca.
Aku
hanya terbengong-bengong heran memandangi pertengkaran mereka. Perempuan itu
sempat memandangiku dan sorot mataku hanya mampu iba. Laki-laki yang
mengekangnya saat ini begitu angkuh untuk tubuhnya yang rapuh.
“Maafkan
aku, aku tak akan mengulanginya. Aku akan selalu berada di sisimu.” Kata
perempuan itu sambil terisak.
Seperti
ada badai salju yang melandaku ketika perempuan itu berkata demikian. Aku
seperti mengalami dejavu. Aku merasa pernah mendengar perkataan yang persis
sama. Aku memberanikan diri berdiri, dengan maksud membantu perempuan itu dan
berbicara pada laki-laki yang kasar sekali terhadapnya. Tak sempat aku bicara,
ketika aku menatap muka laki-laki itu aku menemukan cerminan diriku. Aku kaku.
Dengan
segera salju turun dari angkasa. Aku linglung, melihat tanganku yang mulai
beku. Apa yang terjadi? Setelah beberapa menit salju menggenangi permukaan
jalan aku baru menyadari, pada musim ini aku pernah memperlakukan gadis yang
aku cintai, yang pernah berjanji menyuguhkan cinta putihnya, dan kini
penyesalanku bertambah saat emosi itu tak mampu terjaga. Aku menodai cinta
putih gadis yang tak pernah dusta. Aku mengaku bersalah.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar