Rabu, 02 April 2014

Pada Musim Salju

                Aku masih mengenakan syal warna cokelat rajutan nenekku ketika waktu sudah menjemput senja di pantai kota ini. Tapi tak ada warna jingga ataupun oranye yang datang di sore itu. Aku duduk di sebuah bangku besi tanpa penghuni, sendiri. Menanti kedatanganmu pulang pada pantai yang dulu sering kita datangi bersama. Lalu lalang orang di hadapanku tak sempat kupedulikan, sebab pikiranku terlalu ramai oleh segala kecamuk tentangmu. Tentang kita.
                “Permisi, saya boleh duduk di sini?”
                Aku diam saja, seorang perempuan muda berambut pirang dengan tas kertas yang mungkin berisikan kertas. Ia sedikit menengok, menemukan mukaku.
                “Bolehkah saya?” Mukanya merona, aku suka.
                Sempat heran aku dibuatnya, aku kira tak ada orang seramah perempuan itu di negeri yang liberalis ini.
                Aku segera mengangguk, mengiyakan izinnya untuk duduk di sampingku. Setelah aku kepergok mencuri pandang pada kedua bola matanya yang berlensa biru.
                “Anda mau?” Ia menyodoriku sebuah roti bertabur gula salju warna putih. Ah, menggiurkan sekali.
                “Terima kasih, saya sudah kenyang.” Aku menolak tawaran rotinya yang menggiurkan itu.
                Aku melihatnya lahap sekali, aku intip sekali-kali ada sisa gula di ujung bibirnya. Andai aku mampu menghapusnya.
                “Kenapa kamu ke sini?” Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tegap berdiri tepat di hadapan perempuan itu. Dengan kasar ia menarik tangannya dan berhasil menjatuhkan roti yang belum habis dimakannya. Kejam sekali laki-laki ini.
                “Aku akan pulang nanti, setelah pukul tujuh. Aku sudah memberitahumu.” Perempuan itu meronta dengan lemah.
                “Tidak ada waktu yang pantas untukmu di sini. Seharusnya kamu di rumah saja.” Laki-laki itu semakin membabi buta mencerca.
                Aku hanya terbengong-bengong heran memandangi pertengkaran mereka. Perempuan itu sempat memandangiku dan sorot mataku hanya mampu iba. Laki-laki yang mengekangnya saat ini begitu angkuh untuk tubuhnya yang rapuh.
                “Maafkan aku, aku tak akan mengulanginya. Aku akan selalu berada di sisimu.” Kata perempuan itu sambil terisak.
                Seperti ada badai salju yang melandaku ketika perempuan itu berkata demikian. Aku seperti mengalami dejavu. Aku merasa pernah mendengar perkataan yang persis sama. Aku memberanikan diri berdiri, dengan maksud membantu perempuan itu dan berbicara pada laki-laki yang kasar sekali terhadapnya. Tak sempat aku bicara, ketika aku menatap muka laki-laki itu aku menemukan cerminan diriku. Aku kaku.

                Dengan segera salju turun dari angkasa. Aku linglung, melihat tanganku yang mulai beku. Apa yang terjadi? Setelah beberapa menit salju menggenangi permukaan jalan aku baru menyadari, pada musim ini aku pernah memperlakukan gadis yang aku cintai, yang pernah berjanji menyuguhkan cinta putihnya, dan kini penyesalanku bertambah saat emosi itu tak mampu terjaga. Aku menodai cinta putih gadis yang tak pernah dusta. Aku mengaku bersalah.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik