Tak ada
yang istimewa pada tanggal-tanggal di kalenderku, tak juga tanggal dua puluh
yang menjadi tanggal keramat bagiku. Aku melirik jam dinding warna hitam yang
tik-tok detiknya masih sama dan aku hafal betul iramanya. Rasanya aku sedang
menunggu sesuatu tapi entah apa itu. Aku memindai kalender yang berada di meja
belajarku, mencoba menemukan satu tanggal. Jari telunjukku berhenti pada
tanggal tujuh belas. Ah, angka yang selalu kuanggap manis sebab kata
orang-orang ketika usia seseorang menginjak tujuh belas maka disebut sweet
seventeen. Aku suka angka tujuh belas tapi mengapa aku berhenti pada tanggal
ini? Apakah pernah terjadi sesuatu? Aku mulai mengingat lamat-lamat.
“Kita
tunggu sampai jam dindingmu jarum panjang dan pendeknya di angka dua belas ya.”
“Masih
lama, untuk apa harus menunggu sampai larut malam begitu?” Aku bersandar pada
bahunya, lalu menguap.
“Tepat
pergantian hari.” Laki-laki di sampingku membelai kepalaku lembut.
“Lalu
kenapa jika hari sudah berganti?”
Hening,
tak ada jawaban darinya. Aku juga tak memaksanya untuk cepat menjawab
pertanyaanku. Deru detik yang berjalan pada jam dindingku tak membiarkan sunyi
merangkap aku dan laki-laki yang kuanggap belahan jiwa itu.
“Kamu
pernah menunggu waktu?” Tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan padaku.
“Hmm...pernah?”
“Kapankah
itu?” Ada nada penasaran di sana.
“Saat
aku menunggu pukul dua belas malam saat esok adalah tanggal dua puluh dan bulan
Mei.”
“Tepat
seperti ini ya?” Laki-laki yang sangat dekat denganku saat ini sempat
menyungging senyum, aku melihatnya sekilas.
“Tepat
seperti ini? Nggak, kan sekarang bukan bulan Mei dan besok bukan tanggal dua puluh.”
Aku menegakkan kepala, berhadapan muka dengannya.
“Tidur
di sini.” Dia meletakkan kepalaku perlahan pada bantal yang berada di atas
pahanya.
“Kamu
menunggu untuk harimu sendiri, hari di mana kamu lahir. Padahal tiap tanggal di
kalender berhak kau tunggu sama dengan tanggal dua puluh.”
Aku
mulai mengantuk, tak meresapi kata-katanya.
“Saat
semua jarum jam di angka dua belas, semua akan berganti Ratih. Begitupula cinta
di hati.”
Itulah
kalimat terakhir yang mampu kutangkap sebelum kemudian aku terlelap.
Ketika
sinar matahari menerpa wajahku, aku tebangun. Sendirian. Aku tak sadar, saat
itulah aku melewatkanmu, saat itulah aku kehilangan. Tanggal tujuh belas,
cintamu pergi bergegas. Semua terasa tak utuh, aku sadar kini aku sedang rapuh.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar