Rabu, 02 April 2014

Kalender, Waktu

                Tak ada yang istimewa pada tanggal-tanggal di kalenderku, tak juga tanggal dua puluh yang menjadi tanggal keramat bagiku. Aku melirik jam dinding warna hitam yang tik-tok detiknya masih sama dan aku hafal betul iramanya. Rasanya aku sedang menunggu sesuatu tapi entah apa itu. Aku memindai kalender yang berada di meja belajarku, mencoba menemukan satu tanggal. Jari telunjukku berhenti pada tanggal tujuh belas. Ah, angka yang selalu kuanggap manis sebab kata orang-orang ketika usia seseorang menginjak tujuh belas maka disebut sweet seventeen. Aku suka angka tujuh belas tapi mengapa aku berhenti pada tanggal ini? Apakah pernah terjadi sesuatu? Aku mulai mengingat lamat-lamat.
                “Kita tunggu sampai jam dindingmu jarum panjang dan pendeknya di angka dua belas ya.”
                “Masih lama, untuk apa harus menunggu sampai larut malam begitu?” Aku bersandar pada bahunya, lalu menguap.
                “Tepat pergantian hari.” Laki-laki di sampingku membelai kepalaku lembut.
                “Lalu kenapa jika hari sudah berganti?”
                Hening, tak ada jawaban darinya. Aku juga tak memaksanya untuk cepat menjawab pertanyaanku. Deru detik yang berjalan pada jam dindingku tak membiarkan sunyi merangkap aku dan laki-laki yang kuanggap belahan jiwa itu.
                “Kamu pernah menunggu waktu?” Tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan padaku.
                “Hmm...pernah?”
                “Kapankah itu?” Ada nada penasaran di sana.
                “Saat aku menunggu pukul dua belas malam saat esok adalah tanggal dua puluh dan bulan Mei.”
                “Tepat seperti ini ya?” Laki-laki yang sangat dekat denganku saat ini sempat menyungging senyum, aku melihatnya sekilas.
                “Tepat seperti ini? Nggak, kan sekarang bukan bulan Mei dan besok bukan tanggal dua puluh.” Aku menegakkan kepala, berhadapan muka dengannya.
                “Tidur di sini.” Dia meletakkan kepalaku perlahan pada bantal yang berada di atas pahanya.
                “Kamu menunggu untuk harimu sendiri, hari di mana kamu lahir. Padahal tiap tanggal di kalender berhak kau tunggu sama dengan tanggal dua puluh.”
                Aku mulai mengantuk, tak meresapi kata-katanya.
                “Saat semua jarum jam di angka dua belas, semua akan berganti Ratih. Begitupula cinta di hati.”
                Itulah kalimat terakhir yang mampu kutangkap sebelum kemudian aku terlelap.

                Ketika sinar matahari menerpa wajahku, aku tebangun. Sendirian. Aku tak sadar, saat itulah aku melewatkanmu, saat itulah aku kehilangan. Tanggal tujuh belas, cintamu pergi bergegas. Semua terasa tak utuh, aku sadar kini aku sedang rapuh. 
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik