Rabu, 07 Mei 2014

Tentang Pelangi

“Ayo anak-anak, sudah siap mendengarkan dongengnya?” Seorang gadis yang berusia sekitar sepuluh tahun sedang bersama anak-anak yang duduk mengerumuninya di sebuah taman.
                “Sudah kak....” Riuh rendah suara anak-anak menyambut riang gadis itu.
                “Baiklah, kalau begitu. Jangan lupa ya simak baik-baik dongeng dari kakak. Nanti siapa yang bisa jawab pertanyaan kakak akan kakak beri hadiah. Oke?” Gadis itu berbicara penuh ceria. Tak kalah ceria anak-anak menimpali setiap perkataan gadis yang memakai bandana merah itu.
                “Suatu hari di negeri Lolipo tinggallah seorang gadis bernama Lolita. Dia adalah gadis yang selalu memakai baju berwarna-warni seperti warna pelangi. Ada yang tahu warna pelangi?”
                “Merah kak...”
                “Hijau....”
                “Ungu....”
                “Putih kak, Putih...” Seorang anak laki-laki berkacamata mengacung-acungkan tangannya dengan semangat.
                Suara anak-anak itu saling bersahutan menjawab pertanyaan dari gadis itu. Gadis itu tertawa geli melihat anak-anak yang berada di sekelilingnya antusias menjawab dan menguhkan jawaban masing-masing.
                “Sudah, sudah jangan gaduh begitu. Semua jawaban benar, pelangi memiliki warna yang macam-macam. Kalau kalian ingin menghafalnya dengan mudah ingatlah singkatan ini mejikuhibiniu. Apa anak-anak?”
                “Me-ji-ku-hi-bi-ni-u.” Dengan keras anak-anak itu mengejanya.
******
                “Sebenarnya warna pelangi itu akibat biasan sinar matahari, beberapa penelitian mengatakan bahwa warna dasarnya adalah putih.” Pemuda itu membenarkan letak kacamatanya.
                “Begitu ya, kamu pasti pintar sekali dengan bidang studi fisika.” Ada seorang perempuan yang menemaninya saat ini.
                “Ah, tidak juga. Anda juga pasti sangat penyabar ya. Saya masih sangat ingatb anda menceritakan dongeng tentang negeri Lolipo dengan gadis mungil yang identik dengan warna pelangi itu.” Pemuda itu tampak menerawang jauh.
                Perempuan itu tersenyum manis, “Ternyata kamu masih mengingatnya ya, aku juga masih ingat kamu yang paling ngotot kalau pelangi hanya berwarna putih. Aku sampai heran sendiri, kamu sudah tahu tentang warna bias jangan-jangan semenjak balita? Atau jangan-jangan kamu menyukai warna putih?”
                “Tidak, semenjak itu aku sudah jatuh cinta dengan warna merah. Bandana yang anda pakai saat itu.”
                “Kamu masih mengingatnya juga?”
                “Tak ada yang mudah dilupakan ketika cinta pertama telah disematkan Bu Mona.”
                Pipi perempuan itu merona merah, ada raut terkejut pula di wajahnya.
                “Mama...ayo beli lolipop ma.” Tiba-tiba seorang anak kecil berok merah menghampiri mereka berdua.
                “Elis...kamu kok minta lolipop nanti gigimu sakit.” Perempuan itu memangku anak kecil itu.
                “Sama papa saja yuk nak, mama sedang bertemu dengan muridnya.” Seorang laki-laki bertubuh tegap menggendong anak kecil itu dan membawanya pergi menuju tukang penjual gulali.
                “Iya, sama papa dulu ya Elis. Sebentar lagi mama menyusul.”
                “Ah, anda masih seorang yang penyabar. Masih gadis berbandana merah yang cantik jelita. Bu Mona, seandainya saya seumuran anda. Karena cinta sewaktu kecil tak bisa cepat saja berlalu bagi saya, sampai sekarang cinta itu tak mungkin berhenti." 
                 Bersama sepoaian angin pemuda itu bebas memandangi gerai rambut Bu Mona, gadis berbandana merah yang ia cintai sejak lama.  
By : Rena Kharisma

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik