“Ayo anak-anak, sudah siap
mendengarkan dongengnya?” Seorang gadis yang berusia sekitar sepuluh tahun
sedang bersama anak-anak yang duduk mengerumuninya di sebuah taman.
“Sudah
kak....” Riuh rendah suara anak-anak menyambut riang gadis itu.
“Baiklah,
kalau begitu. Jangan lupa ya simak baik-baik dongeng dari kakak. Nanti siapa
yang bisa jawab pertanyaan kakak akan kakak beri hadiah. Oke?” Gadis itu
berbicara penuh ceria. Tak kalah ceria anak-anak menimpali setiap perkataan
gadis yang memakai bandana merah itu.
“Suatu
hari di negeri Lolipo tinggallah seorang gadis bernama Lolita. Dia adalah gadis
yang selalu memakai baju berwarna-warni seperti warna pelangi. Ada yang tahu
warna pelangi?”
“Merah
kak...”
“Hijau....”
“Ungu....”
“Putih
kak, Putih...” Seorang anak laki-laki berkacamata mengacung-acungkan tangannya
dengan semangat.
Suara
anak-anak itu saling bersahutan menjawab pertanyaan dari gadis itu. Gadis itu
tertawa geli melihat anak-anak yang berada di sekelilingnya antusias menjawab
dan menguhkan jawaban masing-masing.
“Sudah,
sudah jangan gaduh begitu. Semua jawaban benar, pelangi memiliki warna yang
macam-macam. Kalau kalian ingin menghafalnya dengan mudah ingatlah singkatan
ini mejikuhibiniu. Apa anak-anak?”
“Me-ji-ku-hi-bi-ni-u.”
Dengan keras anak-anak itu mengejanya.
******
“Sebenarnya
warna pelangi itu akibat biasan sinar matahari, beberapa penelitian mengatakan
bahwa warna dasarnya adalah putih.” Pemuda itu membenarkan letak kacamatanya.
“Begitu
ya, kamu pasti pintar sekali dengan bidang studi fisika.” Ada seorang perempuan
yang menemaninya saat ini.
“Ah,
tidak juga. Anda juga pasti sangat penyabar ya. Saya masih sangat ingatb anda
menceritakan dongeng tentang negeri Lolipo dengan gadis mungil yang identik
dengan warna pelangi itu.” Pemuda itu tampak menerawang jauh.
Perempuan
itu tersenyum manis, “Ternyata kamu masih mengingatnya ya, aku juga masih ingat
kamu yang paling ngotot kalau pelangi hanya berwarna putih. Aku sampai heran
sendiri, kamu sudah tahu tentang warna bias jangan-jangan semenjak balita? Atau
jangan-jangan kamu menyukai warna putih?”
“Tidak,
semenjak itu aku sudah jatuh cinta dengan warna merah. Bandana yang anda pakai
saat itu.”
“Kamu
masih mengingatnya juga?”
“Tak
ada yang mudah dilupakan ketika cinta pertama telah disematkan Bu Mona.”
Pipi
perempuan itu merona merah, ada raut terkejut pula di wajahnya.
“Mama...ayo
beli lolipop ma.” Tiba-tiba seorang anak kecil berok merah menghampiri mereka
berdua.
“Elis...kamu
kok minta lolipop nanti gigimu sakit.” Perempuan itu memangku anak kecil itu.
“Sama
papa saja yuk nak, mama sedang bertemu dengan muridnya.” Seorang laki-laki
bertubuh tegap menggendong anak kecil itu dan membawanya pergi menuju tukang
penjual gulali.
“Iya,
sama papa dulu ya Elis. Sebentar lagi mama menyusul.”
“Ah,
anda masih seorang yang penyabar. Masih gadis berbandana merah yang cantik
jelita. Bu Mona, seandainya saya seumuran anda. Karena cinta sewaktu kecil tak
bisa cepat saja berlalu bagi saya, sampai sekarang cinta itu tak mungkin
berhenti."
Bersama
sepoaian angin pemuda itu bebas memandangi gerai rambut Bu Mona, gadis
berbandana merah yang ia cintai sejak lama.
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar