Aku
mendengar suara adukan cangkir dari arah dapur, aku masih terpekur di kamar
setelah mematut diri di cermin setelah berganti pakaian. Aku heran padahal ibu
sedang di rumah nenek, kak Reno juga sedang pergi mendaki bersama
teman-temannya. Ayah? Bukankah tiap akhir pekan selalu pergi ke perkebunan di
luar kota yang beliau kelola? Sempat ada rasa khawatir jika di dalam rumah ada
maling di siang-siang bolong begini. Aku merutuki diri sendiri yang tak pernah
bisa bangun pagi ketika akhir pekan seperti ini. Dengan perlahan aku keluar
dari kamar dan mengendap-endap menuju dapur. Aku melirik dari balik tembok dan
terlihat sosok tegap dengan rambut cepak sedang sibuk mengaduk isi cangkirnya
dengan sendok kecil. Aroma kopi rupanya, ah tidak salah lagi itu pasti ayah.
“Ayah...”
Ayah
berbalik badan, kemudian tersenyum kepadaku.
“Mau
ke mana anak ayah ini? Cantik benar. Kencan ya?” Ayah menggodaku dengan dan
sempat membuat mukaku merah padam.
“Ayah,
apa sih? Enggaklah, nggak mau kemana-mana kok.”
“Kamu
mau kopi? Ayah buatkan.”
“Hmm....kopi
susu ya Yah.” Aku duduk di kursi meja makan dan memperhatikan ayah membuatkan
kopi untukku.
“Ayah
nggak ke kebun?”
“Hari
ini mau jaga rumah dan jagain kamu yang tiap akhir pekan nggak mau keluar
rumah.” Tuangan air panas di cangkir menyeruakkan aroma kopi yang menggoda.
“Enak
tidur di rumah Yah.”
“Kamu
itu memang paling beda.” Ayah memberikan cangkir yang sudah berisi kopi susu
panas kepadaku kemudian duduk di kursi meja makan di sampingku.
“Beda
gimana Yah?” Aku meniup-niup kepulan asap di cangkirku
Ayah
menghembuskan napas dalam. “Kenapa kamu nggak ambil tawaran mengisi acara di
berbagai event setiap akhir pekan?”
Mulut
cangkir yang sudah ada di bibirku kembali kutaruh di meja.
“Ayah
tahu dari mana?”
“Apa
yang tidak ayah tahu tentang dirimu, ayah lihat kamu lebih senang menutup diri
akhir-akhir ini. Ada apa?”
“Nggak
ada apa-apa.” Aku menjawab datar dan menatapi cangkirku diam
“Semenjak
kamu ada konflik dengan rekan kerjamu itu ya?”
Aku
hanya diam.
“Mengapa
kamu menghindari masalah nak?” Nada Ayah yang lembut itu malah menggetarkan
hatiku.
Aku
masih diam dan menahan rasa perih yang kembali menyeruak.
“Bicaralah...”
Ayah menepuk bahuku dan telapak tangannya masih bertahan di sana.
Aku
mengangkat mukaku yang daritadi menunduk.
“Aku
hanya tak ingin lagi mencampuri dunia luar dengan duniaku sendiri Yah.”
Ayah
mulai menyimak
“Aku
tak ingin melakukan banyak kesalahan lagi dengan membawa diriku yang seperti
ini.” Aku mulai menangis.
“Nak,
tak perlu kau takut dan risau akan hal itu. Hidup bukan untuk menyesali masa
lalu saja. Masa depanmu masih belum terjamah. Melangkahlah. Ada pejuang hebat
dalam dirimu. Kau hanya ditakuti perasaan takut yang tak mesti akan terjadi.”
Aku
mulai terisak.
Kemudian
ayah mengelus rambutku. “Kau memang harus melihat dunia luar tapi kau juga
harus mengerti kekuatan dalam dirimu sendiri.”
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar