Rabu, 23 April 2014

Akhir Pekan Ini

                Aku mendengar suara adukan cangkir dari arah dapur, aku masih terpekur di kamar setelah mematut diri di cermin setelah berganti pakaian. Aku heran padahal ibu sedang di rumah nenek, kak Reno juga sedang pergi mendaki bersama teman-temannya. Ayah? Bukankah tiap akhir pekan selalu pergi ke perkebunan di luar kota yang beliau kelola? Sempat ada rasa khawatir jika di dalam rumah ada maling di siang-siang bolong begini. Aku merutuki diri sendiri yang tak pernah bisa bangun pagi ketika akhir pekan seperti ini. Dengan perlahan aku keluar dari kamar dan mengendap-endap menuju dapur. Aku melirik dari balik tembok dan terlihat sosok tegap dengan rambut cepak sedang sibuk mengaduk isi cangkirnya dengan sendok kecil. Aroma kopi rupanya, ah tidak salah lagi itu pasti ayah.
                “Ayah...”
                Ayah berbalik badan, kemudian tersenyum kepadaku.
                “Mau ke mana anak ayah ini? Cantik benar. Kencan ya?” Ayah menggodaku dengan dan sempat membuat mukaku merah padam.
                “Ayah, apa sih? Enggaklah, nggak mau kemana-mana kok.”
                “Kamu mau kopi? Ayah buatkan.”
                “Hmm....kopi susu ya Yah.” Aku duduk di kursi meja makan dan memperhatikan ayah membuatkan kopi untukku.
                “Ayah nggak ke kebun?”
                “Hari ini mau jaga rumah dan jagain kamu yang tiap akhir pekan nggak mau keluar rumah.” Tuangan air panas di cangkir menyeruakkan aroma kopi yang menggoda.
                “Enak tidur di rumah Yah.”
                “Kamu itu memang paling beda.” Ayah memberikan cangkir yang sudah berisi kopi susu panas kepadaku kemudian duduk di kursi meja makan di sampingku.
                “Beda gimana Yah?” Aku meniup-niup kepulan asap di cangkirku
                Ayah menghembuskan napas dalam. “Kenapa kamu nggak ambil tawaran mengisi acara di berbagai event setiap akhir pekan?”
                Mulut cangkir yang sudah ada di bibirku kembali kutaruh di meja.
                “Ayah tahu dari mana?”
                “Apa yang tidak ayah tahu tentang dirimu, ayah lihat kamu lebih senang menutup diri akhir-akhir ini. Ada apa?”
                “Nggak ada apa-apa.” Aku menjawab datar dan menatapi cangkirku diam
                “Semenjak kamu ada konflik dengan rekan kerjamu itu ya?”
                Aku hanya diam.
                “Mengapa kamu menghindari masalah nak?” Nada Ayah yang lembut itu malah menggetarkan hatiku.
                Aku masih diam dan menahan rasa perih yang kembali menyeruak.
                “Bicaralah...” Ayah menepuk bahuku dan telapak tangannya masih bertahan di sana.
                Aku mengangkat mukaku yang daritadi menunduk.
                “Aku hanya tak ingin lagi mencampuri dunia luar dengan duniaku sendiri Yah.”
                Ayah mulai menyimak
                “Aku tak ingin melakukan banyak kesalahan lagi dengan membawa diriku yang seperti ini.” Aku mulai menangis.
                “Nak, tak perlu kau takut dan risau akan hal itu. Hidup bukan untuk menyesali masa lalu saja. Masa depanmu masih belum terjamah. Melangkahlah. Ada pejuang hebat dalam dirimu. Kau hanya ditakuti perasaan takut yang tak mesti akan terjadi.”
                Aku mulai terisak.

                Kemudian ayah mengelus rambutku. “Kau memang harus melihat dunia luar tapi kau juga harus mengerti kekuatan dalam dirimu sendiri.”
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik