Seperti
musim semi, taman yang kupijaki saat ini memekarkan bermacam bunganya. Bunga
mawar, bunga melati, bunga flamboyan, bunga anggrek, dan banyak jenis bunga
lainnya yang aku tak kenal. Tapi ada satu nama bunga yang paling aku ingat
yaitu bunga Tulip, bunga favoritmu. Tak lupa semerbak wewanginya yang merebak bersama zat-zat
yang ada dalam udara, terhirup segar menuju pernapasanku. Aku tak mengerti apa
itu nama zat dan aroma apa itu tapi yang kutahu satu, aroma yang mirip dengan
parfummu. Menyesaki paru-paru, kemudian bersamaan dengan sesak itu langkah yang
kujejak selanjutnya mengubah taman yang indah dengan warna-warni bunga itu dan
hanya menyisakan warna merah muda, warna kesukaanmu. Kemudian langit juga
berubah menjadi merah tapi merah darah yang kudeteksi bukan warna jingga.
Seperti warna senja yang kau kagumi.
“Rei....”
Dari kejauhan aku mendengar namaku dipanggil.
Aku
semakin kebingungan sebab taman berbunga itu berubah menjadi musim gugur. Aku
makin keheranan, semudah itukah musim berganti? Kemudian beberapa bunga layu
disertai meranggasnya dedaunan satu pohon di depanku bahkan aku tak mengetahui
ada pohon besar yang tumbuh di antara taman bunga ini.
“Rei....jangan....”
Sayup suara itu kembali terdengar
Seperti
memperingatkan agar aku tak terus melangkah ke depan karena keindahan taman itu
telah koyak oleh halilintar dan badai yang semakin mendekatiku. Aku mulai
disergap ketakutan. Tapi samar aku melihat sosokmu. Kau seperti memanggilku
sebab bibirmu mengeja namaku tapi tak kudengar suaramu sedikit pun. Namun yang
kuingat kemudian adalah mendekatimu, merengkuhmu, menyelamatkanmu dari amukan
badai yang sebentar lagi sampai.
“Rei,
lepaskan aku....jangan bersamaku.” Kau berontak setelah aku berhasil meraihmu.
Kau ingin lepaskan pelukanku dan tak ingin berlari bersamaku.
Tapi
aku tak cukup kuat menahan kekhawatiranku jika kau harus terenggut oleh badai
yang mungkin akan membawa raga mungilmu terbang tanpa berpijak kembali di bumi.
Tanpa mampu menemuiku lagi. Entahlah, semua tiba-tiba semakin gelap semakin kau
ingin terlepas dari rengkuhanku. Kemudian terang menyergap seketika.
“Rei,
hei jangan ngigau. Bangun bangun.”
Ternyata,
bersamamu memang hanya mimpi.
by: Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar