Rabu, 02 Juli 2014

Bunga Tidur

                Seperti musim semi, taman yang kupijaki saat ini memekarkan bermacam bunganya. Bunga mawar, bunga melati, bunga flamboyan, bunga anggrek, dan banyak jenis bunga lainnya yang aku tak kenal. Tapi ada satu nama bunga yang paling aku ingat yaitu bunga Tulip, bunga favoritmu. Tak lupa semerbak wewanginya yang merebak bersama zat-zat yang ada dalam udara, terhirup segar menuju pernapasanku. Aku tak mengerti apa itu nama zat dan aroma apa itu tapi yang kutahu satu, aroma yang mirip dengan parfummu. Menyesaki paru-paru, kemudian bersamaan dengan sesak itu langkah yang kujejak selanjutnya mengubah taman yang indah dengan warna-warni bunga itu dan hanya menyisakan warna merah muda, warna kesukaanmu. Kemudian langit juga berubah menjadi merah tapi merah darah yang kudeteksi bukan warna jingga. Seperti warna senja yang kau kagumi.
                “Rei....” Dari kejauhan aku mendengar namaku dipanggil.
                Aku semakin kebingungan sebab taman berbunga itu berubah menjadi musim gugur. Aku makin keheranan, semudah itukah musim berganti? Kemudian beberapa bunga layu disertai meranggasnya dedaunan satu pohon di depanku bahkan aku tak mengetahui ada pohon besar yang tumbuh di antara taman bunga ini.
                “Rei....jangan....” Sayup suara itu kembali terdengar
                Seperti memperingatkan agar aku tak terus melangkah ke depan karena keindahan taman itu telah koyak oleh halilintar dan badai yang semakin mendekatiku. Aku mulai disergap ketakutan. Tapi samar aku melihat sosokmu. Kau seperti memanggilku sebab bibirmu mengeja namaku tapi tak kudengar suaramu sedikit pun. Namun yang kuingat kemudian adalah mendekatimu, merengkuhmu, menyelamatkanmu dari amukan badai yang sebentar lagi sampai.
                “Rei, lepaskan aku....jangan bersamaku.” Kau berontak setelah aku berhasil meraihmu. Kau ingin lepaskan pelukanku dan tak ingin berlari bersamaku.
                Tapi aku tak cukup kuat menahan kekhawatiranku jika kau harus terenggut oleh badai yang mungkin akan membawa raga mungilmu terbang tanpa berpijak kembali di bumi. Tanpa mampu menemuiku lagi. Entahlah, semua tiba-tiba semakin gelap semakin kau ingin terlepas dari rengkuhanku. Kemudian terang menyergap seketika.
                “Rei, hei jangan ngigau. Bangun bangun.”

                Ternyata, bersamamu memang hanya mimpi.

by: Rena Kharisma

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik