Aku
melihat Hanin sedang serius berbicara denganmu, aku tak tahu apa yang kalian
bicarakan. Duduk berdiam dan memandangi langit malam di taman villa ini sudah
membuatku tenang tanpa ingin tahu apa-apa yang terjadi di sekitar. Malam ini,
malam pergantian tahun dan aku sangat bersyukur karena bisa menghabiskannya di
luar rumah. Sebenarnya aku tak ingin menerima tawaran dari Hanin yang
mengajakku menginap di villa miliki kakak sepupunya ini karena hanya aku yang
bukan keluarga besar yang menginap di sini. Semuanya keluarga besar Hanin,
termasuk kamu. Tapi dengan bujuk rayu dari Hanin dan dari kamu, bahkan kedua
orang tuamu dan kedua orang tua Hanin ikut andil merayuku. Katanya aku sudah
dianggap seperti keluarga sendiri. Aku menanggapi ini sangat serius hingga aku
merasa tak enak hati sendiri.
“Udahlah
Mas, ayo sana cepet.” Samar-samar aku mendengar suara Hanin. Aku menoleh ke
arahnya, aku melihat ia sedang mendorong-dorong tubuhmu menuju kepadaku. Mereka
ini kenapa sih? Seperti remaja yang ingin berkenalan dengan gebetan saja. Aneh.
Alisku
terangkat satu, “Kalian berdua itu kenapa sih? Ribut aja. Duduk sini loh.” Tanganku
melambai pada mereka. Tangan Hanin
mengibas-ibas ke arahmu yang ragu-ragu ingin menghampiriku. Seperti kamu itu
seekor ayam yang diusir karena memakan jagung yang sedang dijemur.
Kau
tersenyum padaku, kikuk. “Hai Re, kamu diem aja sih. Kenapa?” Kau duduk di
sebelahku.
Aku
memandangmu, kikuk. “Ah, nggak apa-apa Mas. Agak canggung aja sama kalian, ikutan
nimbrung di keluarga ini.”
Kau
tersenyum lagi, “Nggak apa-apa lagi Re, kan kamu sudah dianggap keluarga
sendiri.” Aku hanya menjawab dengan senyum kecut. Aku agak jengkel karena Hanin
seakan-akan mencuri pandang ke arahku dan arahmu. Aku sebal karena Hanin tak
ikut duduk di sini bersama kita. Harusnya dia di sini, tidak menjauh, dan tidak
membuat suasana canggung antara aku dan kamu seperti ini.
“Re,
apa kabar kamu sama Egi?” Kau bertanya ragu.
Aku
sempat terkejut kau bertanya demikian, “Ah, Egi? Oh itu, nggak diberitahu Hanin
ya Mas. Udah nggak sama dia lagi aku.” Aku menjawab tergagap.
“Oh
iya.” Jawaban yang singkat tapi raut mukamu tampak merah padam. Aku yakin kau
hanya ingin memastikannya padaku jika aku telah sendiri lagi. Hanin pasti sudah
cerita banyak tentangku karena dia adalah sahabatku.
Hening
sejenak, aku mendengar tawa dari dalam villa. Keluarga mereka sedang santai
bersama dan aku di sini bersamamu. Tak pernah aku harapkan.
“Re,
kalau gitu aku sudah boleh.....”
“Lagi?”
“Aku
cin...”
“Sudah
berapa kali?”
“Tapi
Re...”
“Mas,
sudah cukup. Malam tahun baru tahun lalu sudah lewat. Sekarang malam tahun baru
yang baru.”
“Aku
nyesel Re.”
“Nyesel?
Nggak perlulah Mas. Sudahlah nggak perlu memaksa lagi.”
“Tapi
aku masih mencintaimu.” Raut mukamu tampak
tegang
“Masih
mencintaiku? Dengan status Mas masih sama Bella? Mana mungkin.”
“Mungkin
banget Re, karena hanya kamu yang aku cintai dari hati. Selama ini aku hanya
main-main dengan yang lain.”
Aku
tersentak, jika saja tahun baru tahun lalu kau benar-benar menyatakan cintamu
padaku pasti tak akan seperti ini jadinya. Dari hati, memang kita sama-sama
masih saling memberi perhatian. Tapi aku telah memilih berhati-hati padamu.
by: Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar