Rabu, 20 Agustus 2014

Tahun Baru yang Lalu

                Aku melihat Hanin sedang serius berbicara denganmu, aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Duduk berdiam dan memandangi langit malam di taman villa ini sudah membuatku tenang tanpa ingin tahu apa-apa yang terjadi di sekitar. Malam ini, malam pergantian tahun dan aku sangat bersyukur karena bisa menghabiskannya di luar rumah. Sebenarnya aku tak ingin menerima tawaran dari Hanin yang mengajakku menginap di villa miliki kakak sepupunya ini karena hanya aku yang bukan keluarga besar yang menginap di sini. Semuanya keluarga besar Hanin, termasuk kamu. Tapi dengan bujuk rayu dari Hanin dan dari kamu, bahkan kedua orang tuamu dan kedua orang tua Hanin ikut andil merayuku. Katanya aku sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Aku menanggapi ini sangat serius hingga aku merasa tak enak hati sendiri.
                “Udahlah Mas, ayo sana cepet.” Samar-samar aku mendengar suara Hanin. Aku menoleh ke arahnya, aku melihat ia sedang mendorong-dorong tubuhmu menuju kepadaku. Mereka ini kenapa sih? Seperti remaja yang ingin berkenalan dengan gebetan saja. Aneh.
                Alisku terangkat satu, “Kalian berdua itu kenapa sih? Ribut aja. Duduk sini loh.” Tanganku melambai pada mereka.  Tangan Hanin mengibas-ibas ke arahmu yang ragu-ragu ingin menghampiriku. Seperti kamu itu seekor ayam yang diusir karena memakan jagung yang sedang dijemur.
                Kau tersenyum padaku, kikuk. “Hai Re, kamu diem aja sih. Kenapa?” Kau duduk di sebelahku.
                Aku memandangmu, kikuk. “Ah, nggak apa-apa Mas. Agak canggung aja sama kalian, ikutan nimbrung di keluarga ini.”
                Kau tersenyum lagi, “Nggak apa-apa lagi Re, kan kamu sudah dianggap keluarga sendiri.” Aku hanya menjawab dengan senyum kecut. Aku agak jengkel karena Hanin seakan-akan mencuri pandang ke arahku dan arahmu. Aku sebal karena Hanin tak ikut duduk di sini bersama kita. Harusnya dia di sini, tidak menjauh, dan tidak membuat suasana canggung antara aku dan kamu seperti ini.
                “Re, apa kabar kamu sama Egi?” Kau bertanya ragu.
                Aku sempat terkejut kau bertanya demikian, “Ah, Egi? Oh itu, nggak diberitahu Hanin ya Mas. Udah nggak sama dia lagi aku.” Aku menjawab tergagap.
                “Oh iya.” Jawaban yang singkat tapi raut mukamu tampak merah padam. Aku yakin kau hanya ingin memastikannya padaku jika aku telah sendiri lagi. Hanin pasti sudah cerita banyak tentangku karena dia adalah sahabatku.
                Hening sejenak, aku mendengar tawa dari dalam villa. Keluarga mereka sedang santai bersama dan aku di sini bersamamu. Tak pernah aku harapkan.
                “Re, kalau gitu aku sudah boleh.....”
                “Lagi?”
                “Aku cin...”
                “Sudah berapa kali?”
                “Tapi Re...”
                “Mas, sudah cukup. Malam tahun baru tahun lalu sudah lewat. Sekarang malam tahun baru yang baru.”               
                “Aku nyesel Re.”
                “Nyesel? Nggak perlulah Mas. Sudahlah nggak perlu memaksa lagi.”
                “Tapi aku masih mencintaimu.” Raut mukamu tampak tegang
                “Masih mencintaiku? Dengan status Mas masih sama Bella? Mana mungkin.”
                “Mungkin banget Re, karena hanya kamu yang aku cintai dari hati. Selama ini aku hanya main-main dengan yang lain.”     

                Aku tersentak, jika saja tahun baru tahun lalu kau benar-benar menyatakan cintamu padaku pasti tak akan seperti ini jadinya. Dari hati, memang kita sama-sama masih saling memberi perhatian. Tapi aku telah memilih berhati-hati padamu.

by: Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik