Aku
masih duduk di pangkuan ketika kita lelah menghabiskan waktu piknik ini
bersama. Aku heran, kau seperti anak kecil saja saat ini. Membelikanku gulali
kapas, kau menyiapkan sandwich dan beberapa makanan dan minuman untuk dibawa ke
sebuah hutan kota. Saat itu bukan hari libur tapi kita sepakat meliburkan diri
dari rutinitas sehari-hari. Jadi hutan kecil ini nampak lengang, atau mungkin
biasanya memang lengang.
Kau
mencolek hidungku, “Nggak semua hutan sepi hey.” Lalu kau tertawa.
Aku
menatap wajahmu, kau tampak girang sekali. Tertawa sampai matamu menyipit dan
hey, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan hutan ini? Aku lalu
memandangnya sekali lagi dengan dahi mengernyit.
Kau
melihat ke kedua bola mataku, tepat sekali. “Kenapa? Kamu heran aku bisa nebak
kalau kamu sedang mikirin hutan kecil ini?” Kemudian tawamu lebih tergelak. Aku
yang duduk di pangkuan ikut bergoyang karena kau terlalu heboh tertawa. Aku
diam saja, kau masih tertawa beberapa saat. Angin nampaknya ikut girang
melihatmu, hingga rambutmu terkibas-kibas olehnya dan beberapa helai menerpa
wajahku. Aku ingin berusaha menghentikan tawamu yang sangat lepas itu tetapi
akhirnya aku memilih untuk bungkam. Tiba-tiba tawamu berhenti, aku menoleh
menatap wajahmu. Entah aku salah lihat atau memang itu yang sedang terjadi.
Matamu basah, pipimu sembab. Kau menangis? Aku bertanya dalam hati.
Kau
mengusapnya dengan punggung tangan, air mata yang tersisa. Sepertinya kau tak
ingin aku melihatnya. Kau menatapku sekali lagi, memelukku. Kemudian dengan
suara yang lembut kau berkata padaku, “An, Kamu tahu kenapa kakak mengajakmu ke
sini?” Aku hanya menggeleng dengan lugu. Kau mencubit pipiku, gemas. Lalu
senyummu berkembang, “Dulu, Papamu sering mengajak kakak ke sini. Piknik
bersama dengan Mamamu, mereka berdua senang sekali membeli gulali kapas seperti
yang kamu pegang saat ini.” Kau memegang gulali kapas yang aku memegang, aku
hanya memandang.
“Tapi
Ana nggak suka gulali kapas.” Akhirnya aku berkata, karena daritadi aku memang
tak setuju kau membeli gulali kapas ini. Aku tak suka makan-makanan yang
terlalu manis.
Kau
mencibit pipiku lagi, “Iya, kakak tahu. Makanya kakak nggak buka bungkusnya.”
Ia kembali memelukku.
Kau
menghela napas, berat. “An, maafkan kakak ya. Mengajakmu kemari tanpa mengajak
Papa dan Mamamu karena pasti mereka sudah terlalu sibuk untuk sekadar bermain
denganmu. Kakak hanya ingin mengingat kebahagiaan ketika mereka masih
menganggap kakak keluarga setelah kau ada. Kakak senang bisa bermain dengan
adik kakak yang satu ini.” Kau memelukku lagi, aku melihat wajahmu begitu
sendu. Aku masih tak mengerti kau berkata apa, tapi pandanganmu menerawang
jauh.
Kau
memandangku, “Maafkan kakak juga ya An, nggak izin Papa dan Mamamu dahulu.
Kakak hanya ingin mengingat kisah kakak semasa kecil dulu saat kakak seusiamu.
Mereka sangat mencintai kakak sebelum kau lahir di dunia. Kakak tak akan pernah
lupa. An, kamu anak pintar. Jangan nakal ya.” Kemudian kau mendudukkanku di
bangku taman. Sendirian. Kau meninggalkanku.
by : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar