Rabu, 20 Agustus 2014

Piknik Masa Lalu

                Aku masih duduk di pangkuan ketika kita lelah menghabiskan waktu piknik ini bersama. Aku heran, kau seperti anak kecil saja saat ini. Membelikanku gulali kapas, kau menyiapkan sandwich dan beberapa makanan dan minuman untuk dibawa ke sebuah hutan kota. Saat itu bukan hari libur tapi kita sepakat meliburkan diri dari rutinitas sehari-hari. Jadi hutan kecil ini nampak lengang, atau mungkin biasanya memang lengang.
                Kau mencolek hidungku, “Nggak semua hutan sepi hey.” Lalu kau tertawa.
                Aku menatap wajahmu, kau tampak girang sekali. Tertawa sampai matamu menyipit dan hey, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan hutan ini? Aku lalu memandangnya sekali lagi dengan dahi mengernyit.
                Kau melihat ke kedua bola mataku, tepat sekali. “Kenapa? Kamu heran aku bisa nebak kalau kamu sedang mikirin hutan kecil ini?” Kemudian tawamu lebih tergelak. Aku yang duduk di pangkuan ikut bergoyang karena kau terlalu heboh tertawa. Aku diam saja, kau masih tertawa beberapa saat. Angin nampaknya ikut girang melihatmu, hingga rambutmu terkibas-kibas olehnya dan beberapa helai menerpa wajahku. Aku ingin berusaha menghentikan tawamu yang sangat lepas itu tetapi akhirnya aku memilih untuk bungkam. Tiba-tiba tawamu berhenti, aku menoleh menatap wajahmu. Entah aku salah lihat atau memang itu yang sedang terjadi. Matamu basah, pipimu sembab. Kau menangis? Aku bertanya dalam hati.
                Kau mengusapnya dengan punggung tangan, air mata yang tersisa. Sepertinya kau tak ingin aku melihatnya. Kau menatapku sekali lagi, memelukku. Kemudian dengan suara yang lembut kau berkata padaku, “An, Kamu tahu kenapa kakak mengajakmu ke sini?” Aku hanya menggeleng dengan lugu. Kau mencubit pipiku, gemas. Lalu senyummu berkembang, “Dulu, Papamu sering mengajak kakak ke sini. Piknik bersama dengan Mamamu, mereka berdua senang sekali membeli gulali kapas seperti yang kamu pegang saat ini.” Kau memegang gulali kapas yang aku memegang, aku hanya memandang.
                “Tapi Ana nggak suka gulali kapas.” Akhirnya aku berkata, karena daritadi aku memang tak setuju kau membeli gulali kapas ini. Aku tak suka makan-makanan yang terlalu manis.
                Kau mencibit pipiku lagi, “Iya, kakak tahu. Makanya kakak nggak buka bungkusnya.” Ia kembali memelukku.
                Kau menghela napas, berat. “An, maafkan kakak ya. Mengajakmu kemari tanpa mengajak Papa dan Mamamu karena pasti mereka sudah terlalu sibuk untuk sekadar bermain denganmu. Kakak hanya ingin mengingat kebahagiaan ketika mereka masih menganggap kakak keluarga setelah kau ada. Kakak senang bisa bermain dengan adik kakak yang satu ini.” Kau memelukku lagi, aku melihat wajahmu begitu sendu. Aku masih tak mengerti kau berkata apa, tapi pandanganmu menerawang jauh.

                Kau memandangku, “Maafkan kakak juga ya An, nggak izin Papa dan Mamamu dahulu. Kakak hanya ingin mengingat kisah kakak semasa kecil dulu saat kakak seusiamu. Mereka sangat mencintai kakak sebelum kau lahir di dunia. Kakak tak akan pernah lupa. An, kamu anak pintar. Jangan nakal ya.” Kemudian kau mendudukkanku di bangku taman. Sendirian. Kau meninggalkanku.

by : Rena Kharisma 
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik