“Kamu
hanya penuh luka.”
“Sok
tahu kamu.”
“Memang
iya.”
“Iya
apanya?”
“Iya,
kamu. Banyak lukanya.”
“Apa
sih? Mana ada? Nih lihat-lihat tanganku, kakiku, wajahku, semuanya. Baik-baik
aja kan. Nggak ada yang berdarah, nggak ada yang luka-luka. Nggak usah ngaco
deh.”
“Bukan,
hatimu yang luka-luka. Bahkan mungkin sudah infeksi dan bernanah.”
Sejak
percakapan singkat di sebuah cafe itu, kamu semakin gencar mendekatiku. Namun
aku yang semakin giat menghindar darimu. Kamu hanya salah satu karyawan baru di
sini, baru mengenal aku beberapa hari tapi sudah berani berbicara persoal hati.
Kamu seperti ikut campur dalam urusan asmaraku yang saat ini tak lagi memiliki
tamu seseorang laki-laki. Setelah segalanya pergi ketika cincin pertunangan
yang hanya berupa ilusi suatu hari. Aku benci mencintai lagi.
“Aku
bisa menyembuhkan lukamu.”
“Kamu
bisa diem nggak sih!”
“Aku
nggak akan tinggal diam, hatimu sudah mulai membusuk.”
“Bicaramu
bisa dijaga nggak?”
“Menjaga
hatimu saja bisa apalagi cuman menjaga bicara.”
“Kamu
ya. Heran, ada aja orang kayak kamu!”
“Kamu
jangan menghindar, aku di sini buat nyembuhin lukamu.”
Semakin
hari kamu semakin sering menghubungiku, mengajakku ke tempat-tempat yang menyenangkan
sepulang kerja. Dan anehnya, aku mau saja.
“Aku
takut.” Kataku lirih.
“Kamu
nggak perlu takut, hatimu belum mati. Hanya perlu diobati dan kamu percaya dia
akan sembuh sepenuhnya.”
“Tapi
aku masih trauma.”
“Trauma
juga bisa disembuhkan, aku akan berusaha menjadi obat dengan dosis yang tak
mematikan. Cintaku akan sesuai takaran, percayalah.”
Sejak
saat itu, aku mulai membuka hati. Meski beberapa waktu aku menghindar kembali
darimu. Aku takut kejadian patah hati itu terulang kembali.
“Terima
kasih ya.” Kataku sambil tersenyum.
“Luka-lukanya
sudah sembuh?”
“Dalam
proses, mungkin luka-lukanya sudah nggak bernanah dan membusuk lagi.”
“Aku
masih harus mengobati luka-lukamu sampai pulih.”
“Terima
kasih ya.”
“Buat
apa?”
“Sudah
gigih, menjadi pengobat luka di hatiku.”
Kamu
hanya tersenyum kemudian memegang kedua tanganku.
“Terima
kasih, kekasih.”
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar