Kamis, 04 September 2014

Terima Kasih

                “Kamu hanya penuh luka.”
                “Sok tahu kamu.”
                “Memang iya.”
                “Iya apanya?”
                “Iya, kamu. Banyak lukanya.”
                “Apa sih? Mana ada? Nih lihat-lihat tanganku, kakiku, wajahku, semuanya. Baik-baik aja kan. Nggak ada yang berdarah, nggak ada yang luka-luka. Nggak usah ngaco deh.”
                “Bukan, hatimu yang luka-luka. Bahkan mungkin sudah infeksi dan bernanah.”
                Sejak percakapan singkat di sebuah cafe itu, kamu semakin gencar mendekatiku. Namun aku yang semakin giat menghindar darimu. Kamu hanya salah satu karyawan baru di sini, baru mengenal aku beberapa hari tapi sudah berani berbicara persoal hati. Kamu seperti ikut campur dalam urusan asmaraku yang saat ini tak lagi memiliki tamu seseorang laki-laki. Setelah segalanya pergi ketika cincin pertunangan yang hanya berupa ilusi suatu hari. Aku benci mencintai lagi.
                “Aku bisa menyembuhkan lukamu.”
                “Kamu bisa diem nggak sih!”
                “Aku nggak akan tinggal diam, hatimu sudah mulai membusuk.”
                “Bicaramu bisa dijaga nggak?”
                “Menjaga hatimu saja bisa apalagi cuman menjaga bicara.”
                “Kamu ya. Heran, ada aja orang kayak kamu!”
                “Kamu jangan menghindar, aku di sini buat nyembuhin lukamu.”
                Semakin hari kamu semakin sering menghubungiku, mengajakku ke tempat-tempat yang menyenangkan sepulang kerja. Dan anehnya, aku mau saja.
                “Aku takut.”  Kataku lirih.
                “Kamu nggak perlu takut, hatimu belum mati. Hanya perlu diobati dan kamu percaya dia akan sembuh sepenuhnya.”
                “Tapi aku masih trauma.”
                “Trauma juga bisa disembuhkan, aku akan berusaha menjadi obat dengan dosis yang tak mematikan. Cintaku akan sesuai takaran, percayalah.”
                Sejak saat itu, aku mulai membuka hati. Meski beberapa waktu aku menghindar kembali darimu. Aku takut kejadian patah hati itu terulang kembali.
                “Terima kasih ya.” Kataku sambil tersenyum.
                “Luka-lukanya sudah sembuh?”
                “Dalam proses, mungkin luka-lukanya sudah nggak bernanah dan membusuk lagi.”
                “Aku masih harus mengobati luka-lukamu sampai pulih.”
                “Terima kasih ya.”
                “Buat apa?”
                “Sudah gigih, menjadi pengobat luka di hatiku.”
                Kamu hanya tersenyum kemudian memegang kedua tanganku.

                “Terima kasih, kekasih.”

By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik