Di ranjangku,
Mimpi-mimpi berserakan menjadi peluh
Air mata menderas dalam pejamku, entah igauan, entah aku yang tak mengerti apa sebutannya
Keringat seakan-akan diperas, ketakutan menyerangku ganas
Sekadar mengatur napas pun aku tak sanggup
Tanganku berusaha menggapai-gapai bayangan yang kutahu milik siapa
Sudah hampir sampai, bayangan itu dihanguskan petir
Padahal sudah dari awal aku tahu kau hanya abu yang sempat membakar seluruh panca inderaku
Kemudian hujan berpesta
Berdesakan turun dari angkasa
Jatuh ke tanah
Ragaku basah
Gigil tak sudah-sudah
Sama sekali tak mampu kucegah
Aku mengingat malam itu adalah dini hari paling mengerikan
Saat kehilangan seperti pukulan palu terakhir hakim di pengadilan
Aku diadili dengan tak adil
Perasaanku jadi tersangka dan logika diagung-agungkan sebagai kuasa
Aku juga sangat hafal, saat itu pertengahan November
Tanggal yang tak pernah kusangka akan jadi mimpi buruk sekaligus kenyataan pahit yang harus kuterima
Kepergian yang tak kutahu tapaknya, tak kutemukan jejaknya
Hujan tak reda-reda
Air mata tak menemui muaranya
Rangkulanku pada sunyi yang cekam tak diketahui siapa-siapa
Aku dipaksa lapang dada.
Kehilangan yang tak memiliki selamat tinggalnya
(01.59)
Mimpi-mimpi berserakan menjadi peluh
Air mata menderas dalam pejamku, entah igauan, entah aku yang tak mengerti apa sebutannya
Keringat seakan-akan diperas, ketakutan menyerangku ganas
Sekadar mengatur napas pun aku tak sanggup
Tanganku berusaha menggapai-gapai bayangan yang kutahu milik siapa
Sudah hampir sampai, bayangan itu dihanguskan petir
Padahal sudah dari awal aku tahu kau hanya abu yang sempat membakar seluruh panca inderaku
Kemudian hujan berpesta
Berdesakan turun dari angkasa
Jatuh ke tanah
Ragaku basah
Gigil tak sudah-sudah
Sama sekali tak mampu kucegah
Aku mengingat malam itu adalah dini hari paling mengerikan
Saat kehilangan seperti pukulan palu terakhir hakim di pengadilan
Aku diadili dengan tak adil
Perasaanku jadi tersangka dan logika diagung-agungkan sebagai kuasa
Aku juga sangat hafal, saat itu pertengahan November
Tanggal yang tak pernah kusangka akan jadi mimpi buruk sekaligus kenyataan pahit yang harus kuterima
Kepergian yang tak kutahu tapaknya, tak kutemukan jejaknya
Hujan tak reda-reda
Air mata tak menemui muaranya
Rangkulanku pada sunyi yang cekam tak diketahui siapa-siapa
Aku dipaksa lapang dada.
Kehilangan yang tak memiliki selamat tinggalnya
Di pertengahan November,
Aku tahu, takdirku sudah habis masanya denganmu
(01.59)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar