Aku merindukanmu,
Bahkan sebelum pertemuan menjamu haus tatapan bola mata kita
berdua beradu pandang
Sebelum jemari kita saling bersentuhan untuk menandakan
salam perkenalan secara kentara
Debar-debar waktu di dadaku juga tak mampu diatur sedemikian
rupa seperti jam dinding di kamarku atau arloji di pergelangan tanganku
Segala tentangmu begitu gebu dan buncah, aku berusaha
mengendalikan
Jika kau tanyakan hasilnya, aku akan menjawab ... Nihil!
Kau masih yang tak bisa kuperhitungkan datang dan perginya
Jatuh cinta yang begitu saja dan tiba-tiba
Lalu mana yang perlu dipersalahkan saat ini?
Kerinduan ini,
Masih terlalu dini jika harus disandingkan dengan syarat
merindu, tapi bukankah banyak penyair yang bilang jika rindu tak kenal waktu?
Oh iya, apakah merindu juga perlu syarat?
Bagiku, merindu kali ini begitu menggairahkan. Bukan yang
menimba air mata atau yang larut oleh lagu-lagu sendu belaka
Bila kau ingin tahu, kerinduanku padamu ini memacu antusias
Tugas-tugas kurampungkan tuntas.
Aku heran, rasa malas yang biasanya menggandrungiku seakan
lesap tak terprediksikan
Mungkin ini juga salah satu pelarian, pelarianku atas
kerinduan yang tak bisa dicegah
Namun aku sangat senang, rinduku kepadamu yang harus
memaklumi keadaan tak sia-sia
Setidaknya bukan kerinduan yang sedih atau perih yang
kurasakan malam minggu ini
Aku yakin kau sedang bahagia di sana, tempat yang indah
Semesta yang masih jadi angan bagiku
Entah kapan aku mampu memijaknya?
Ah, tak apa. Aku telah cukup puas dengan merindukanmu
seperti ini.
(22.17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar